Label

Senin, 28 April 2014

Imam Ja'far as Shadiq dan Ilmu Kedokteran


Oleh Thaqib Alwi

Pada suatu ketika seorang dokter yang kebetulan beragama Hindu (dokter itu bekerja di istana Al-Mansur), bertanya kepada Imam Ja’far as-Sadiq (as) apakah sang Imam ingin mempelajari sesuatu tentang ilmu kedokteran dari dirinya. Imam Ja’far (as) menjawab dengan lembut: “Tidak. Aku lebih memiliki pengetahuan yang lebih baik daripada pengetahuan Anda.”

Kemudian keduanya terlibat dalam pembicaraan yang serius tentang ilmu kedokteran. Pada suatu ketika Imam Ja’far (as) bertanya kepada dokter itu beberapa buah pertanyaan seperti berikut ini:

1. Mengapa kepala kita itu ditutupi oleh rambut?
2. Mengapa dahi kita memiliki garis-garis dan keriput?
3. Mengapa kedua mata kita berbentu seperti biji almond?
4. Mengapa hidung itu terletak di tengah-tengah kedua mata kita?
5. Mengapa rambut dan kuku itu tidak memiliki rasa?

Pertanyaanpertanyaan Imam Ja’far (as) itu terus berlanjut dari pertanyaan mengenai sekitar kepala hingga ke bagian tubuh lainnya, terus hingga ke kaki dimana Imam (as) bertanya, “Mengapa lutut itu tidak bisa bengkok ke belakang; mengapa satu sisi dari telapak kaki kita itu agak cekung?”

Untuk semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Imam Ja’far (as), dokter istana itu tidak bisa menjawab selain kata-kata: “Aku tidak tahu.”

Imam Ja’far kemudian berkata, “Untuk pertanyaan yang aku berikan itu aku tahu jawabannya.” Kemudian Imam Ja’far (as) menjelaskan seluruh pertanyaan yang tadi ia lontarkan menunjukkan bahwa ia memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang didapatkannya dari Sang Maha Cerdas dan Bijaksana, Allah (SWT).

Rambut itu diciptakan Allah di atas kepala kita supaya minyak (kelenjar keringat) dapat masuk melaluinya dan panas bisa lewat darinya sehingga ia dapa melindungi kepala kita dari panas dan dingin.

Di dahi kita ada garis-gari dan kerutan supaya keringat dari kepala kita tidak langsung jatuh ke mata; sehingga kita memiliki waktu yang cukup untuk menyeka keringat kita.

Kedua mata kita itu dibentuk oleh Allah menyerupai biji almond agar kita bisa dengan mudah memasukkan obat ke dalamnya dan juga mudah untuk mengeluarkan debu dan kotoran dari keduanya.

Hidung itu diletakkan di antara kedua mata kita agar hidung kita bisa membantu kita membagi cahaya kita secara merata untuk kedua mata kita.

Rambut dan kuku itu dijadikan Allah tidak memiliki rasa (padahal bagian tubuh lain dari kita memiliki rasa—atau dapat merasakan) agar kita mudah memotongnya dan atau memendekkanya. Apabila rambut dan kuku itu memiliki rasa, maka kita akan mengalami rasa sakit setiap kali kita akan memotongnya.

Kedua lutut kita itu tidak bisa ditekuk ke belakang agar kita bisa berjalan ke depan. Kedua telapak kaki kita itu memiliki sebuah sisi yang cekung supaya kita bisa bergerak dengan mudah dan cepat.


Akhirnya dokter istana yang beragama Hindu itu beralih agama atau keyakinannya menjadi seorang Muslim karena terpesona dengan keluhuran ilmu Imam Ja’far as-Sadiq (as). 



Minggu, 27 April 2014

Jalan Soekarno di Maroko



Ketika melintasi jalan Mohammad V, tepat didepan bank Magrib, disamping pos Magrib ada palang yang tertuliskan Avenue Soukarno atau jalan Soekarno.


Bagi para mahasiswa, maupun orang Indonesia yang berkunjung ke Maroko palang itu merupakan kebanggaan tersendiri. Betapa tidak nama presiden pertama Indonesia diresmikan sebagai nama jalan yang ada di jantung ibu kota Maroko

Nama Soekarno diabadikan sebagai salah satu nama jalan sebagai penghormatan atas jasa Soekarno saat menggalang kekuatan negara–negara dunia ketiga dalam Konferensi Asia Afrika 1955 di Bandung, Jawa Barat.

Nama Jalan Soekarno sendiri diresmikan pada tahun 1960 oleh Raja Mohammed V (saat ini Raja Mohammed VI) dan dihadiri langsung oleh Soekarno yang saat itu sebagai Presiden RI. Sebelum berubah menjadi Rue Soukarno, nama jalannya adalah Al Rais Ahmed Soekarno.

Dukungan Indonesia mendorong Maroko aktif dalam Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan di Bandung. Setahun setelah itu, tepatnya tanggal 2 Maret 1956, Maroko meraih kemerdekaannya. Hari itu juga hubungan diplomatik antara dua negara ini terjalin, yang ditandai dengan dibukanya Kantor Kedutaan Besar RI di Rabat.

Pada tanggal 2 Mei 1960 Presiden pertama Indonesia mengadakan kunjungan ke Maroko, sebagai bentuk dukungan Indonesia untuk kemerdekaan Maroko dari jajahan Francis. Beliau mendapat sambutan hangat dari Raja Mohammed V dan rakyat Maroko.

Presiden Soekarno dianggap tokoh yang berperan dalam kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika, Indonesia merupakan Negara pertama yang mengakui kedaulatan Negara Maroko. Sebagai apresiasi dari raja Mohammad V, nama presiden Soekarno diabadikan sebagai nama jalan besar yang berada di jantung ibu kota ini.

Ketika raja Mohammad V memberikan tawaran kepada Ir Soekarno dengan berbagai macam hadiah sebagai ucapan rasa trimakasih, beliau menolaknya. 

Ir Soekarno hanya meminta agar rakyatnya boleh masuk ke Maroko seperti rumah sendiri. Hingga saat ini pemerintah Maroko memberikan On Arrival Visa kepada WNI yang datang ke Maroko

sehingga pemegang paspor Indonesia yang berkunjung ke maroko tidak membutuhkan visa untuk kunjungan ke Maroko sampai 90 hari

Maroko merupakan negeri berbasis Arab dengan peradaban style versi Eropa. Menurut Musthafa Abdul Rahman, potret itu adalah keberhasilan sistem monarki di Maroko yang telah menjadikan Islam dan modernitas berjalan seiring. 

Islam dan kemodernan berpadu harmonis dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Hal ini hampir sama dengan kondisi yang ada di Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbanyak di dunia, namun tetap berjalan seiring kemodernitasan Zaman.

Bahkan Wakil Menteri Luar Negeri Maroko, Latifa Akherbach, pernah menyampaikan bahwa Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dapat dijadihkan contoh sebagai negara yang mampu memadukan antara nilai Islam, demokrasi dan modernisasi, sehingga Maroko menilai Indonesia merupakan negara penting untuk menjalin kerja sama dalam menghadapi tantangan dan krisis global.

Semoga akan ada lagi tokoh besar Indonesia yang namanya bisa sampai diabadikan karena jasanya bagi kemajuan bangsa-bangsa yang ada di dunia seperti Soekarno

KESIMPULAN: BANGSA MAROKO SAJA KAGUM DAN HORMAT KEPADA BUNG KARNO SEHINGGA NAMANYA DIABADIKAN SEBAGAI NAMA SEBUAH JALAN DI NEGARANYA MAKA KITA SEBAGAI BANGSA INDONESIA HARUS LEBIH KAGUM DAN HORMAT KEPADA BUNG KARNO MELEBIHI RASA KAGUM DAN HORMAT BANGSA MAROKO KEPADA BUNG KARNO 


Rabu, 23 April 2014

Sejarah dan Revolusi

Ia yang membuat sejarah (Ayatullah Khomeini). “Ia yang memiliki imajinasi tentang masa depan, akan dimenangkan oleh sejarah” (Bung Karno) 
(Tentang Kekuatan Gagasan) 
(Rakyatlah yang punya Kekuasaan, bukan Pemerintah)