Oleh Thaqib Alwi
Pada suatu ketika seorang dokter yang kebetulan beragama Hindu
(dokter itu bekerja di istana Al-Mansur), bertanya kepada Imam Ja’far as-Sadiq
(as) apakah sang Imam ingin mempelajari sesuatu tentang ilmu kedokteran dari
dirinya. Imam Ja’far (as) menjawab dengan lembut: “Tidak. Aku lebih memiliki
pengetahuan yang lebih baik daripada pengetahuan Anda.”
Kemudian keduanya terlibat dalam pembicaraan yang serius tentang
ilmu kedokteran. Pada suatu ketika Imam Ja’far (as) bertanya kepada dokter itu
beberapa buah pertanyaan seperti berikut ini:
1. Mengapa kepala kita itu ditutupi oleh rambut?
2. Mengapa dahi kita memiliki garis-garis dan keriput?
3. Mengapa kedua mata kita berbentu seperti biji almond?
4. Mengapa hidung itu terletak di tengah-tengah kedua mata kita?
5. Mengapa rambut dan kuku itu tidak memiliki rasa?
2. Mengapa dahi kita memiliki garis-garis dan keriput?
3. Mengapa kedua mata kita berbentu seperti biji almond?
4. Mengapa hidung itu terletak di tengah-tengah kedua mata kita?
5. Mengapa rambut dan kuku itu tidak memiliki rasa?
Pertanyaanpertanyaan Imam Ja’far (as) itu terus berlanjut dari
pertanyaan mengenai sekitar kepala hingga ke bagian tubuh lainnya, terus hingga
ke kaki dimana Imam (as) bertanya, “Mengapa lutut itu tidak bisa bengkok ke
belakang; mengapa satu sisi dari telapak kaki kita itu agak cekung?”
Untuk semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Imam Ja’far (as),
dokter istana itu tidak bisa menjawab selain kata-kata: “Aku tidak tahu.”
Imam Ja’far kemudian berkata, “Untuk pertanyaan yang aku berikan
itu aku tahu jawabannya.” Kemudian Imam Ja’far (as) menjelaskan seluruh pertanyaan yang tadi
ia lontarkan menunjukkan bahwa ia memiliki kebijaksanaan dan pengetahuan yang
didapatkannya dari Sang Maha Cerdas dan Bijaksana, Allah (SWT).
Rambut itu diciptakan Allah di atas kepala kita supaya minyak
(kelenjar keringat) dapat masuk melaluinya dan panas bisa lewat darinya
sehingga ia dapa melindungi kepala kita dari panas dan dingin.
Di dahi kita ada garis-gari dan kerutan supaya keringat dari kepala
kita tidak langsung jatuh ke mata; sehingga kita memiliki waktu yang cukup
untuk menyeka keringat kita.
Kedua mata kita itu dibentuk oleh Allah menyerupai biji almond agar
kita bisa dengan mudah memasukkan obat ke dalamnya dan juga mudah untuk
mengeluarkan debu dan kotoran dari keduanya.
Hidung itu diletakkan di antara kedua mata kita agar hidung kita
bisa membantu kita membagi cahaya kita secara merata untuk kedua mata kita.
Rambut dan kuku itu dijadikan Allah tidak memiliki rasa (padahal
bagian tubuh lain dari kita memiliki rasa—atau dapat merasakan) agar kita mudah
memotongnya dan atau memendekkanya. Apabila rambut dan kuku itu memiliki rasa,
maka kita akan mengalami rasa sakit setiap kali kita akan memotongnya.
Kedua lutut kita itu tidak bisa ditekuk ke belakang agar kita bisa
berjalan ke depan. Kedua telapak kaki kita itu memiliki sebuah sisi yang cekung
supaya kita bisa bergerak dengan mudah dan cepat.














