Label

Jumat, 06 Juni 2014

Harapan Petani Opium Taliban

(Para Petani Opium Taliban Sedang Mencuri Opium dari Perkebunan) 

Oleh Jonathan Power*

Sudah cukup tepat bila administrasi Obama berusaha untuk menekan negara-negara Eropa untuk menempatkan lebih banyak tentara di Afghanistan. Tapi juga, sudah cukup tepat bila negara-negara Eropa tidak ingin terlibat dalam perang ini – seperti yang pernah dilakukan Rusia di Afghanistan pada 1980-an atau seperti AS di Vietnam satu setengah dekade lalu. Tak ada yang lebih buruk daripada harus menyembunyikan belang dan menghadapi para pemilih dengan ribuan kematian yang tak perlu dari para pemuda mereka.

Jawaban terhadap paradoks ini adalah Eropa, dengan menggunakan kekuasaan dan tentara mereka, harus mau menangani masalah opium di Afghanistan.

Opium Afganistan menyediakan 90 persen heroin yang dijual di Eropa, sekaligus mendanai lebih dari 80 persen kegiatan Taliban.

Saya jadi ingat wawancara saya dengan Presiden Pervez Musharraf dua tahun lalu di Islamabad (diterbitkan di Prospect Magazine, Maret 2007). Dalam wawancara itu, ia menyarankan agar Barat memperkenalkan kebijakan agrikultur yang lazim digunakan Eropa dan Amerika untuk menangani masalah opium di Afghanistan yaitu membelinya dengan uang pemerintah.

“Membeli hasil panen opium adalah ide yang bisa digali”, katanya kepada saya, menjawab pertanyaan saya yang saya fikir agak provokatif sebetulnya. “Tapi, Pakistan tidak punya uang untuk itu. Kami akan memerlukan bantuan dari AS atau PBB. Dengan bantuan itu kita bisa membeli seluruh hasil panen dan memusnahkannya. Dengan cara itu para petani opium yang miskin itu tidak akan menderita.”

Membeli hasil panen opium Afghanistan mula-mula disarankan oleh Dewan Internasional untuk Keamanan dan Pembangunan (the International Council on Security and Development). Ide itu bisa memecahkan dua masalah sekaligus.

Pertama, itu akan mencegah para petani opium yang sebetulnya tak suka kepada Taliban untuk menjual barangnya ke kelompok tersebut untuk mendapatkan perlindungan dan menjadikan mereka sebagai pembeli dan penyalur. Kedua, hasil panen itu dapat membantu dunia, terutama negara-negara miskin di Asia dan Afrika yang sangat kekurangan suplai opium untuk medis.

Jutaan orang mati setiap tahun dalam rasa sakit yang luar biasa karena kekurangan obat pereda nyeri. Kematian sudah cukup buruk, tapi mati dengan rasa nyeri yang luar biasa merupakan hal yang paling mengerikan bagi manusia. India, Australia dan Turki (yang didorong untuk melakukan hal itu oleh orang-orang Amerika sejak 1974) merupakan negara-negara yang diizinkan untuk menanam opium di bawah pengawasan WHO. Negara-negara Barat membeli mayoritas hasil panen opium di nehgara-negara ini.

Ide ini memang masih problematis dari sisi praktis. Jika harga dipasang terlalu tinggi, ini mungkin akan mendorong lebih banyak petani menanam pohon opium. Di samping itu, betapapun tinggi harganya, beberapa ekonom pertanian PBB berpendapat bahwa para penyelundup bisa membayar lebih tinggi dari pada pemerintah karena mereka tahu bahwa mayoritas pengguna jasa mereka– yakni para pecandu – akan tetap membelinya. Tapi jika harga yang ditetapkan tidak cukup tinggi, para petani akan tetap menjual, setidaknya sebagian dari hasil panennya, di pasar gelap. Meski demikian, bahkan jika pun harus membayar harga yang lebih tinggi, biaya program ini tetap lebih murah dibandingkan biaya menyediakan pasukan baru dan meningkatnya perang.

Kalkulasi ini memang mengabaikan sifat manusia, terutama mereka yang tinggal di negara Muslim yang menempatkan agamanya dalam posisi penting. Setiap orang di sini– termasuk Taliban yang dulu anti obat terlarang – tahu bahwa narkotika sangat dilarang oleh ajaran Islam tradisional. Hanya keputus-asaan yang mendorong sebagian besar petani untuk menanam opium.

Jika faktor ini dipertimbangkan, petani tentu saja lebih suka menjual panen mereka ke agensi pemerintah dengan, katakanlah, harga yang lumrah berlaku saat ini. Mereka malah akan lebih senang, jika tahu bahwa produk mereka akan membantu orang-orang yang sedang sakit.

Sartaj Aziz, seorang pakar pertanian terkemuka dan mantan menteri pertanian dan keuangan Pakistan, menulis kepada Prospect Magazine mengatakan bahwa dia menyukai ide membeli hasil panen dan itu harus diuji pada basis eksperimen di salah satu area pertanian opium Afghanistan.

Saya mendiskusikan banyak hal mengenai isu ini dengan Jenderal Musharraf dan responnya adalah, “Mari kita analisa, hitung dan lihat apakah ini bisa dilakukan.”

Artikel di New York Times pekan lalu yang ditulis oleh Bernd Debusmann menyebutkan bahwa dalam James Nathan, mantan pejabat Departemen Dalam Negeri, dalam makalahnya yang akan terbit mengatakan bahwa biaya total program semacam itu bisa menghabiskan paling banyak 2,5 milyar dolar setiap tahunnya – jumlah ini tentu tak ada artinya jika dibandingkan dengan 200 milyar dollar yang telah dikeluarkan AS untuk perang itu (belum termasuk kontribusi NATO).

Kebijakan semacam itu akan jauh lebih efektif dalam melemahkan Taliban dan Al Qaeda dibandingkan sebanyak apapun pasukan baru yang dikirimkan untuk memerangi mereka. Tapi biarkan sebagian pasukan itu datang untuk membantu pembelian hasil panen, memastikan tidak ada rahasia dan pengalihan perhatian yang tidak resmi serta untuk menjaga wilayah-wilayah yang sedang panen. Presiden AS Barack Obama telah meminta ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia yang tampaknya begitu sulit diselesaikan. Ini dia salah satunya.

* Jonathan Power adalah veteran komentator hubungan luar negeri yang tinggal di London. Artikel ini didistribusikan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dengan izin dari The Khaleej Times dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

(Sumber: Khaleej Times, 9 Februari 2009, www.khaleejtimes.com telah memproleh izin untuk publikasi) 

Petani Opium Taliban Sedang Memanen Opium 

Kamis, 05 Juni 2014

Para Pemimpin Pemberani

Mahmoud Ahmadinejad dan Hugo Chavez: "Mereka yang berani berkata tidak kepada para Setan Elit Zionis-Amerika". 

Rabu, 04 Juni 2014

Al Qur’an dan Sains


Oleh Harun Yahya

Penciptaan Semesta

Asal mula alam semesta digambarkan dalam Al Qur'an pada ayat berikut:  "Dialah pencipta langit dan bumi." (Al Qur'an, 6:101). Keterangan yang diberikan Al Qur'an ini bersesuaian penuh dengan penemuan ilmu pengetahuan masa kini. Kesimpulan yang didapat astrofisika saat ini adalah bahwa keseluruhan alam semesta, beserta dimensi materi dan waktu, muncul menjadi ada sebagai hasil dari suatu ledakan raksasa yang tejadi dalam sekejap. Peristiwa ini, yang dikenal dengan "Big Bang", membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketiadaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Kalangan ilmuwan modern menyetujui bahwa Big Bang merupakan satu-satunya penjelasan masuk akal dan yang dapat dibuktikan mengenai asal mula alam semesta dan bagaimana alam semesta muncul menjadi ada.  

Sebelum Big Bang, tak ada yang disebut sebagai materi. Dari kondisi ketiadaan, di mana materi, energi, bahkan waktu belumlah ada, dan yang hanya mampu diartikan secara metafisik, terciptalah materi, energi, dan waktu. Fakta ini, yang baru saja ditemukan ahli fisika modern, diberitakan kepada kita dalam Al Qur'an 1.400 tahun lalu. Sensor sangat peka pada satelit ruang angkasa COBE yang diluncurkan NASA pada tahun 1992 berhasil menangkap sisa-sisa radiasi ledakan Big Bang. Penemuan ini merupakan bukti terjadinya peristiwa Big Bang, yang merupakan penjelasan ilmiah bagi fakta bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan.

Pemisahan Langit dan Bumi

Satu ayat lagi tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut: "Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30). Kata "ratq" yang di sini diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah ("fataqa") satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk. Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.  

Bentuk Bulat Planet dan Bumi

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam..." (Al Qur'an, 39:5). Dalam Al Qur'an, kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang alam semesta sungguh sangat penting. Kata Arab yang diterjemahkan sebagai "menutupkan" dalam ayat di atas adalah "takwir". Dalam kamus bahasa Arab, misalnya, kata ini digunakan untuk menggambarkan pekerjaan membungkus atau menutup sesuatu di atas yang lain secara melingkar, sebagaimana surban dipakaikan pada kepala. Keterangan yang disebut dalam ayat tersebut tentang siang dan malam yang saling menutup satu sama lain berisi keterangan yang tepat mengenai bentuk bumi. Pernyataan ini hanya benar jika bumi berbentuk bulat. Ini berarti bahwa dalam Al Qur'an, yang telah diturunkan di abad ke-7, telah diisyaratkan tentang bentuk planet bumi yang bulat. Namun perlu diingat bahwa ilmu astronomi kala itu memahami bumi secara berbeda. Di masa itu, bumi diyakini berbentuk bidang datar, dan semua perhitungan serta penjelasan ilmiah didasarkan pada keyakinan ini. Sebaliknya, ayat-ayat Al Qur'an berisi informasi yang hanya mampu kita pahami dalam satu abad terakhir. Oleh karena Al Qur'an adalah firman Allah, maka tidak mengherankan jika kata-kata yang tepat digunakan dalam ayat-ayatnya ketika menjelaskan jagat raya.

Mengembangnya Alam Semesta

Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini: "Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47). Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.

Garis Edar

Tatkala merujuk kepada matahari dan bulan di dalam Al Qur'an, ditegaskan bahwa masing-masing bergerak dalam orbit atau garis edar tertentu. "Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya." (Al Qur'an, 21:33). Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (Al Qur'an, 36:38). Fakta-fakta yang disampaikan dalam Al Qur'an ini telah ditemukan melalui pengamatan astronomis di zaman kita. Menurut perhitungan para ahli astronomi, matahari bergerak dengan kecepatan luar biasa yang mencapai 720 ribu km per jam ke arah bintang Vega dalam sebuah garis edar yang disebut Solar Apex. Ini berarti matahari bergerak sejauh kurang lebih 17.280.000 kilometer dalam sehari. Bersama matahari, semua planet dan satelit dalam sistem gravitasi matahari juga berjalan menempuh jarak ini. Selanjutnya, semua bintang di alam semesta berada dalam suatu gerakan serupa yang terencana.

Keseluruhan alam semesta yang dipenuhi oleh lintasan dan garis edar seperti ini, dinyatakan dalam Al Qur'an sebagai berikut: "Demi langit yang mempunyai jalan-jalan." (Al Qur'an, 51:7). Terdapat sekitar 200 milyar galaksi di alam semesta yang masing-masing terdiri dari hampir 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet, dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut bergerak dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Selama jutaan tahun, masing-masing seolah "berenang" sepanjang garis edarnya dalam keserasian dan keteraturan yang sempurna bersama dengan yang lain. Selain itu, sejumlah komet juga bergerak bersama sepanjang garis edar yang ditetapkan baginya.

Garis edar di alam semesta tidak hanya dimiliki oleh benda-benda angkasa. Galaksi-galaksi pun berjalan pada kecepatan luar biasa dalam suatu garis peredaran yang terhitung dan terencana. Selama pergerakan ini, tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain, atau bertabrakan dengan lainnya. Bahkan, telah teramati bahwa sejumlah galaksi berpapasan satu sama lain tanpa satu pun dari bagian-bagiannya saling bersentuhan. Dapat dipastikan bahwa pada saat Al Qur'an diturunkan, manusia tidak memiliki teleskop masa kini ataupun teknologi canggih untuk mengamati ruang angkasa berjarak jutaan kilometer, tidak pula pengetahuan fisika ataupun astronomi modern. Karenanya, saat itu tidaklah mungkin untuk mengatakan secara ilmiah bahwa ruang angkasa "dipenuhi lintasan dan garis edar" sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut. Akan tetapi, hal ini dinyatakan secara terbuka kepada kita dalam Al Qur'an yang diturunkan pada saat itu: karena Al Qur'an adalah firman Allah.  

Atap yang Terpelihara

Dalam Al Qur'an, Allah mengarahkan perhatian kita kepada sifat yang sangat menarik tentang langit: "Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya." (Al Qur'an, 21:32). Sifat langit ini telah dibuktikan oleh penelitian ilmiah abad ke-20. Atmosfir yang melingkupi bumi berperan sangat penting bagi berlangsungnya kehidupan. Dengan menghancurkan sejumlah meteor, besar ataupun kecil ketika mereka mendekati bumi, atmosfir mencegah mereka jatuh ke bumi dan membahayakan makhluk hidup. Atmosfir juga menyaring sinar-sinar dari ruang angkasa yang membahayakan kehidupan. Menariknya, atmosfir hanya membiarkan agar ditembus oleh sinar-sinar tak berbahaya dan berguna, - seperti cahaya tampak, sinar ultraviolet tepi, dan gelombang radio. Semua radiasi ini sangat diperlukan bagi kehidupan. Sinar ultraviolet tepi, yang hanya sebagiannya menembus atmosfir, sangat penting bagi fotosintesis tanaman dan bagi kelangsungan seluruh makhluk hidup. Sebagian besar sinar ultraviolet kuat yang dipancarkan matahari ditahan oleh lapisan ozon atmosfir dan hanya sebagian kecil dan penting saja dari spektrum ultraviolet yang mencapai bumi.

Fungsi pelindung dari atmosfir tidak berhenti sampai di sini. Atmosfir juga melindungi bumi dari suhu dingin membeku ruang angkasa, yang mencapai sekitar 270 derajat celcius di bawah nol. Tidak hanya atmosfir yang melindungi bumi dari pengaruh berbahaya. Selain atmosfir, Sabuk Van Allen, suatu lapisan yang tercipta akibat keberadaan medan magnet bumi, juga berperan sebagai perisai melawan radiasi berbahaya yang mengancam planet kita. Radiasi ini, yang terus- menerus dipancarkan oleh matahari dan bintang-bintang lainnya, sangat mematikan bagi makhuk hidup. Jika saja sabuk Van Allen tidak ada, semburan energi raksasa yang disebut jilatan api matahari yang terjadi berkali-berkali pada matahari akan menghancurkan seluruh kehidupan di muka bumi.

Dr. Hugh Ross berkata tentang perang penting Sabuk Van Allen bagi kehidupan kita: Bumi ternyata memiliki kerapatan terbesar di antara planet-planet lain di tata surya kita. Inti bumi yang terdiri atas unsur nikel dan besi inilah yang menyebabkan keberadaan medan magnetnya yang besar. Medan magnet ini membentuk lapisan pelindung berupa radiasi Van-Allen, yang melindungi Bumi dari pancaran radiasi dari luar angkasa. Jika lapisan pelindung ini tidak ada, maka kehidupan takkan mungkin dapat berlangsung di Bumi. Satu-satunya planet berbatu lain yang berkemungkinan memiliki medan magnet adalah Merkurius - tapi kekuatan medan magnet planet ini 100 kali lebih kecil dari Bumi. Bahkan Venus, planet kembar kita, tidak memiliki medan magnet. Lapisan pelindung Van-Allen ini merupakan sebuah rancangan istimewa yang hanya ada pada Bumi. (http://www.jps.net/bygrace/index. html Taken from Big Bang Refined by Fire by Dr. Hugh Ross, 1998. Reasons To Believe, Pasadena, CA.)

Energi yang dipancarkan dalam satu jilatan api saja, sebagaimana tercatat baru-baru ini, terhitung setara dengan 100 milyar bom atom yang serupa dengan yang dijatuhkan di Hiroshima. Lima puluh delapan jam setelah kilatan tersebut, teramati bahwa jarum magnetik kompas bergerak tidak seperti biasanya, dan 250 kilometer di atas atmosfir bumi terjadi peningkatan suhu tiba-tiba hingga mencapai 2.500 derajat celcius. Singkatnya, sebuah sistem sempurna sedang bekerja jauh tinggi di atas bumi. Ia melingkupi bumi kita dan melindunginya dari berbagai ancaman dari luar angkasa. Para ilmuwan baru mengetahuinya sekarang, sementara berabad-abad lampau, kita telah diberitahu dalam Al Qur'an tentang atmosfir bumi yang berfungsi sebagai lapisan pelindung.