Label

Sabtu, 04 Oktober 2014

Hugo Chavez –Ia yang Tak Bisa Ditumbangkan Setan Amerika



Oleh Ahmad Makki Hasan*

[Judul Buku: Hugo Chavez Vs Amerika Serikat. Penulis: Nurani Soyomukti. Penerbit: Garasi Yogyakarta. Tahun Terbit: Februari – 2008. Tebal: 132 halaman]

“Jika imperialisme AS berhasil mengonsolidaikan dominasinya, maka umat manusia tidak mempunyai masa depan. Oleh karenya, kita harus menyelamatkan umat manusia dan mengakhiri imperialisme AS” (Hugo Chavez)

Pemimpin Venezuela itu kini gencar-gencarnya membangun kekuatan baru. Setelah Kim II-Sung, Deng Xiaoping, Peron, Nikita Khrushchev dan Broz Tito meninggal serta baru-baru ini pemimpin “diktator” Kuba, Fidel Castro, meletakkan jabatannya, kini dialah yang menjadi satu-satunya yang tengah eksis dan menjadi penentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia. Seakan-akan pemimpin revolusioner itu merupakan penjelmaan Napoleon, Hitler dan Stalin pada abad ini.

Sentimen Hugo Chavez dan barisan pemimpin Amerika Latin lain saat ini tengah dipersatukan oleh mengguritanya tekanan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Dengan menganggap liberalisasi perdagangan dan sistem ekonomi kapitalistik bukannya menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan sebagaimana yang didalihkan AS selama ini. Namun, justru malah memperburuk dan memperparah kehidupan sosial-ekonomi.

Konsekuensi logis dari aksi-aksi hegemonik AS terhadap negara lain itu memantik terbitnya kebencian bersama yang mendalam. Simpati yang kemudian bergeser menjadi antipati. Itulah simpul yang menyatukan presiden Venezuela, Hugo Chavez, berserta sejumlah pemimpin Amerika Latin lainnya. Bahkan presiden Iran, Ahmadinejad, sekarang juga getol menentang keras terhadap segala dominasi negeri Paman Sam di dunia. Lebih-lebih isu nuklir di dalam negerinya dan Timur-Tengah seputar Palestina dan Israel.

Dalam beberapa dekade, hegemoni AS merupakan sekelindan ambisi untuk menjadi penentu politik dunia, polisi dunia dan sekaligus penguasa ekonomi, industri dan perdangan dunia. Hal ini diperkuat dengan rezim-rezim “populis” internasional yang dibentuknya. Sebut saja “rezim” moneter IMF, Bank Dunia, WTO dan lain sebagainya. Keberadannya memperburuk dan memperparah tatanan kehidupan sosial-ekonomi serta gagal menanggulangi disparitas antara si kaya dengan si miskin.

Untuk melawan imperialisme AS dan Barat, Pemimpin progresif itu memiliki beribu cara bahkan cukup unik dan berani. Setelah melakukan nasionalisme perusahaan asing, kini, Caracas membatasi penggunaan bahasa Inggris. ’’Berbahasa Spanyollah dan katakan dengan bangga’’, slogan ini menjadi senjata Presiden Chavez untuk melawan imperialisme AS yang telah merusak kehidupan sosialis, termasuk dalam hal bahasa yang disampaikan secara terbuka baru-baru ini.

Selain masalah bahasa, Chavez, juga memberikan solusi dalam mengatasi dampak buruk imperialisme. Dia berjanji akan membiayai produksi film yang ada di Venezuela untuk menghambat invasi dari film-film Hollywood. Dia juga memaksa stasiun radio untuk lebih banyak memutar lagulagu Venezuela. Presiden berhaluan “kiri” ini sangat membenci AS.

Di mata Chavez, AS merupakan kekuatan yang serakah dan ingin menguasai seluruh dunia secara absolut. Sebagai pemimpin yang setia terhadap sistem sosialis, Chavez merasa berkewajiban untuk melawan hegemoni Negeri Paman Sam. Bahkan, Chavez pernah menyebut Presiden AS George W Bush sebagai setan jahat saat berpidato di markas besar Persatuan Bangsa-Bangsa pada beberapa waktu yang lalu.

Buku yang berjudul “Hugo Chavez Vs Amerika Serikat” ini, memberikan informasi dan aksi yang teramat detail seputar Venezuela dan Amerika Latin. Sebuah semangat yang tidak kenal lelah mempertahankan “nurani bangsa”. Membawa negaranya terbebas dari setiap penindasan dan hegemoni negara asing. Selalu mencoba untuk keluar dari setiap cengkeraman imperalisme dan hegenomi AS berserta sekutunya dalam hal ekonomi, sosial dan politik.

Semangat Revolusi Bolivarian di Venezuela, mengantarkan Chavez untuk memperkenalkan demokrasi partisipatoris dan sosialisme abad 21. Meluncurkan serangkai program ekonomi dan sosial bagi rakyatnya. Mulai dari Mission Robinson (program untuk melakukan kampanye memberikan pelajaran aritmetika, membaca dan menulis kepada para remaja), Mission Guaicaipuro (program untuk memberikan perlindungan kehidupan, agama, tanah, budaya dan hak-hak orang pribumi) hingga Mission Sucre (program bebas pendidikan bagi remaja yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan dasar).

Nurani Soyomukti sebagai penulis buku ini, setidaknya telah memberikan khazanah dalam mengisi wawasan baru bagi kita tentang arti perjuangan melawan penindasan dan tirani hegemonik asing. Memberikan inspirasi bagi kita untuk melakukan perubahan. Terlebih di negara Indonesia yang kian terpuruk. Belajar bagaimana seharusnya kita berpegang dan menemukan teladan agar diri, citra dan bangsa ini tidak selalu dijajah bangsa lain. Baik itu secara ekonomis, ideologis bahkan dari segi humanitas kita sendiri. Semoga!

*Mahasiswa PPs. UIN Malang & Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Malang.

Menyoal Filsafat Detektif Kierkegaard


Ketika seseorang memaksa kita memilih di antara dua alternatif sedangkan sebenarnya ada lebih dari dua alternatif, dia melakukan kekeliruan Ya atau Tidak.

Contoh A

Patrick Henry: “Berikan aku kebebasan atau aku mati!”
Wartawan berita: “Tidakkah itu terlalu ekstrim menurut anda?”
Henry: “Apa? Terlalu berlebihan kalau aku menyerahkan hidupku kepada negaraku?”
Wartawan: “Bukan, anda berteriak di telingaku.”
Henry: “Nenek moyangmu mengorbankan hidup, harta, dan kehormatan mereka demi membawa kebebasan kepada anak-cucu mereka. Kebebasan yang anda nikmati saat ini! Anda memintaku mengurangi volume suaraku? Tidakkah kau malu?”
Wartawan: “Yaa.. mungkin anda benar, tetapi bagaimana dengan ultimatum anda? Tidakkah ada opsi lain?”
Henry: “Opsi! Kita dari koloni akan dibelenggu kaki tangan oleh Raja George yang kejam dan anda ingin aku memberi anda opsi! Ku katakan pada anda tidak ada pilihan untuk kita hari ini kecuali berjuang untuk kebebasan atau mati sebagai budak!”
Wartawan: “Bung, aku punya beberapa pilihan. Bagaimana kalau pindah ke Tahiti?”
Henry: “Berikan aku kebebasan atau berikan aku Tahiti….. tapi aku pikir itu tidak akan sesuai dengan Jenderal Washington!”

Jelas bahwa argumen asli Patrick Henry berbeda daripada yang terakhir. Namun kalau kita perhatikan penyataan Henry “berikan aku kebebasan atau aku mati” adalah dilema yang dibuat-buat antara dua pilihan.

Saat seseorag mencoba untuk menggunakan kekeliruan ini, biasanya salah satu opsinya konyol sehingga yang mendengar terpaksa memilih opsi yang satunya. Kekeliruan ini menjadi jelas saat kita menyadari bahwa ada lebih dari dua pilihan.

Contoh B

Johnny: “Ayah harus belajar logika berasamaku atau aku tidak melakukannya!”
Ayah: “Kekeliruan ini disebut apa?”

Johnny sebenarnya tidak berusaha membuktikan apapun kepada ayahnya; dia hanya tidak mau belajar mata pelajaran lain. Jadi Johnny telah mengemukakan dilema yang salah. Tetapi ayahnya memecahkan masalah ini dengan menawarkan alternatif ketiga:

Ayah: “Ada pilihan lain: kamu belajar logika atau kamu dihukum selama satu bulan. Kira-kira itu pilihan lainnya.”

Contoh C

Ibu Mertua: “Maria sayang, kau tidak akan menyekolahkan Johnny di sekolah negeri sehingga mereka tumbuh sebagai anak lunak yang tidak berpendirian, khan?”
Anak mantu: “Tidak”
Ibu Mertua: “Bagus. Kalau begitu jangan berbicara yang buruk tentang Institut Nona Cecilia. Aku akan mengabaikan komentarmu tentang pengalaman anakku dengan guru-guru tersayang di sana. Aku yakin dia sudah agak lupa pengalamannya di sana. Dia tidak selalu anak yang baik waktu itu.”
Anak Mantu: “Kata Jim, mereka makan sedikit…”
Ibu Mertua: “Tolong hentikan semua itu. Tiga generasi keluarga DeMedichi mendapat pendidikan terbaik di lembaga itu. Kita tidak akan merubah itu bukan? Jadi semuanya sudah beres!”
Anak Mantu: “Kita tidak akan menyekolahkannya di sana.”
Ibu Mertua: “Namun kalau kita setuju bahwa sekolah pemerintah bukan tempat yang baik bagi anak-anak di keluarga ini, maka pendidikan di Institut Nona Cecilia adalah satu-satunya pilihan di kota ini. Kamu tidak akan pindah dari kota ini, bukan?”
Anak Mantu: “Tidak. Kami akan menyediakan pendidikan rumah untuknya.”
Ibu Mertua: “Kamu mau melakukan apa? Aku kaget mendengarnya. Tolong bantu aku ke sofa…”

Saat seseorang sangat berkomitmen terhadap satu pandangan tertentu dia seringkali mengabaikan atau menekan pilihan lain yang mungkin.

Contoh D

Dokter berkata kepada wanita yang sangat terpukul: “Menurutku hanya ada dua pilihan, suamimu akan selamat dalam operasi ini atau tidak selamat. Tidak ada pilihan lain.” Dalam kasus terakhir ini memang hanya ada dua kemungkinan dan ini bukan kekeliruan “Ya atau tidak” [Diterjemahkan Ma Kuru dari Buku The Fallacy Detective]

Kamis, 02 Oktober 2014

Juru Masak dan Sang Angsa


Seorang bangsawan mengundang seorang terhormat untuk makan malam. Untuk menghormati sang tamu, maka tuan rumah meminta juru masaknya untuk menyajikan bangau panggang. Si tukang masak merupakan tukang masak ulung dan memanggang bangau tersebut dengan sempurna. Saking enaknya aroma panggangan, si tukang masak tidak dapat menahan diri lalu memotong salah satu kakinya dan memakannya. Kemudian dia mengatur penyajian panggangan bangau sedemikian sehingga yang tampak adalah bagian sisinya. Si bangsawan mencoba mempertahankan ketenangannya dan mengabaikan mutilasi yang terjadi pada bangau, lalu melayani tamu dengan tenang. Namun dia berjanji dalam hati untuk mengajar juru masaknya setelah tamu pergi. Pada keesokan harinya dia membawa juru masaknya keluar ke halaman istana lalu menunjukkan seekor angsa yang sedang berdiri di sana, demi mengajarkannya bahwa angsa punya dua kaki. Dia berkata kepada si juru masak, “Coba kamu lihat! Angsa punya dua kaki. Kamu apakan kaki angsa yang satunya tadi malam?” Si juru masak kemudian membalas, “Tapi angsa cuma punya satu kaki. Coba liat itu!” Seperti kebiasaan angsa pada umumnya, angsa itu sedang berdiri dengan satu kaki saja. Merasa dia sedang dikerjain dan demi mengalahkan trik si juru masak, sang bangsawan bertepuk tangan dan angsa itupun menurunkan kaki yang satunya lalu terbang. Si bangsawan berkata, “Lihat sendiri, angsa punya dua kaki!” Si juru masak membalas, “Tapi tadi malam tuan tidak bertepuk tangan.” [Gordon H. Clark, Logic, Halaman 18 – 19]