Label

Rabu, 10 Februari 2016

Suriah atau Aramia, Negeri Milik Islam & Kristen

(Foto: Presiden Alawi Suriah Bashar Al-Assad bersama Asma Al-Assad saat menjamu anak-anak Yatim-Piatu Kristen Orthodoks)

oleh Sulaiman Djaya (esais & penyair)

Suriah, atau yang dalam literatur kuno juga disebut Aramia, berada di salah satu persimpangan jalan di dunia kuno, tempat bertemunya jalur kafilah dari kawasan Laut Tengah menuju ke Cina dan dari Mesir menuju ke Anatolia. Dahulu kala, di jaman-jaman sebelum pentarikhan Masehi, bala tentara Akkadia, Babilonia, Mesir, Persia, Yunani, dan Romawi pernah melintasinya. Dan berabad-abad kemudian, orang-orang Turki dan para ksatria Perang Salib melintasinya. Sementara itu, pada zaman modern, bala tentara Prancis dan Inggris saling berperang untuk menguasainya. Saat ini, sebagian kawasan itu dikenal dengan sebutan yang digunakan di masa-masa ribuan tahun yang lampau—Syria (di mana orang-orang Indonesia menyebutnya Suriah). Meskipun Suriah telah banyak berubah, apalagi akibat perang saat ini, gema sejarahnya masih tetap bergaung dan bergema di sana.

Sebagai contohnya adalah Damaskus, yang juga jadi ibukota Suriah. Konon, kota itu adalah salah satu kota tertua di dunia yang senantiasa berpenghuni sejak didirikan. Damaskus, yang terletak di kaki Pegunungan Libanon dan dilalui aliran Sungai Barada ini, telah berabad-abad lamanya menjadi oasis yang dinanti-nantikan di tepi Gurun Suriah yang luas. Kemungkinan besar, dahulu kala, Ibrahim as melintasi kota ini dalam perjalanannya ke selatan menuju Kanaan (Funisia atau Fenisia). Dan, di sana pula ia mengambil Eliezer, ”yang orang Damaskus (Damsyik)”, menjadi anggota rumah tangganya sebagaimana dinarasikan Kitab Kejadian 15:2.

Meski mayoritas warga Suriah saat ini adalah muslim Sunni, namun di Suriah terdapat ‘kota suci’ ummat Kristiani Suriah (dan bahkan dunia), yaitu Antioch, yang tentulah sudah tidak asing lagi bagi Ummat Kristiani Orthodoks di Dunia (seperti bagi Ummat Kristiani Rusia dan Ummat Kristiani keturunan Suriah di Kerala, India). Demikian pula, Gereja Antioch Purba dikisahkan dalam Kitab Kisah Para Rasul. Maka tak heran, bila Bashar Al-Assad sebagai Presiden, yang kebetulan muslim Sunni itu, pernah melontarkan pernyataan: “Hanya Vladimir Putin-lah yang membela ummat Kristiani”

Dalam Kitab Kisah Para Rasul itu disebutkan, misalnya, sepeninggal Isa Al-Masih putra Maryam yang disucikan, Rasul Petrus bertugas sebagai patriark yang pertama di Anthiokia. Selama tujuh tahun Rasul Petrus menjalani misi sucinya, sebelum bertugas ke Roma. "Sejak saat itu ajaran Kristen mengalami proses Helenisasi, diikuti dengan Westernisasi".

Demikian pula kecantikan perempuan-perempuan Suriah bukanlah dongeng semata, termasuk kecantikan perempuan-perempuan Kristiani dari etnik (bangsa) Armenia dan Assyria itu, yang barangkali pula juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para mujahilin ISIS. Terkait dengan saat ini, ummat Kristiani Suriah pun berjuang bersama dengan saudara-saudara mereka yang Sunni dan yang Syi’ah untuk melawan mesin-mesin (geng-geng perang) bentukan aliansi Israel, Mamarika (Amerika), Rezim Al-Saud (Saudi Arabia), Qatar, Turki (Erdogan anak buahnya Amerika) dkk.

Suriah ini pulalah yang dahulu kala dikunjungi Rasulullah Muhammad saw dan Abu Thalib (ayahnya Imam Ali), di mana kala itu, sang pemimpin ummat Kristiani Suriah, yaitu Buhaira (Bahira), menjamu rombongan Rasulullah dan Abu Thalib di rumahnya sendiri. Inilah negeri Syams yang kemasyhurannya sampai ke kawasan-kawasan Makkah dan Madinah kala itu, negeri tempat di mana Khadijah Al-Kubra mengirimkan komoditas dagangnya, negeri di mana Rasulullah dulu menjadi duta dagang Khadijah Al-Kubra, sebagaimana dinarasikan Martin Lings berikut:

“Pada suatu ketika, saat Muhammad berusia sembilan tahun, atau menurut riwayat yang lain dua belas tahun, pergi bersama kafilah saudagar ke negeri Syria (Syam). Di Bostra, di dekat sebuah tempat persinggahan para saudagar Mekah, berdiri sebuah biara yang dihuni seorang pendeta Kristen dari masa ke masa. Ketika sang pendeta meninggal, yang lain menggantikannya dan mewarisi semua yang ada dalam biara, termasuk manuskrip-manuskrip kuno. Di antaranya ada satu manuskrip yang berisi ramalan tentang datangnya seorang nabi pada masyarakat Arab. Bahira, pendeta yang sekarang hidup di biara tersebut, benar-benar menguasai kandungan kitab ramalan itu. Ramalan tersebut membuatnya sangat tertarik karena, seperti halnya Waraqah, dia merasa yakin nabi tersebut akan datang pada masa hidupnya.

Bahira sudah sering melihat kedatangan kafilah Mekah yang singgah tak jauh dari biaranya. Tetapi, kali ini perhatiannya terpaku pada sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya: segumpal awan bergelayut rendah bergerak pelan di atas kepala mereka sehingga awan itu selalu berada di antara matahari dan satu atau dua musafir dari kafilah itu. Dengan sangat tertarik, Bahira melihat dari dekat. Tiba-tiba perhatian Bahira berubah menjadi kekaguman, karena begitu mereka berhenti, awan itu pun berhenti bergerak. Awan itu tetap menggumpal di atas pohon yang di bawahnya mereka (yang di antara mereka itu adalah Muhammad yang masih remaja) berteduh, sementara pohon itu menundukkan dahan-dahannya di atas mereka. Dengan demikian, mereka berteduh di bawah dua naungan. Bahira tahu bahwa pertanda itu, walaupun tidak menonjol, mempunyai signifikansi yang tinggi. Hanya seseorang yang memiliki kepekaan spiritual yang bisa menjelaskannya. Dan dia segera berpikir tentang nabi yang diharapkan itu. Benarkah akhirnya ia datang juga, dan berada di antara musafir-musafir itu.

Biara itu baru saja mendapatkan berbagai persediaan makanan. Bahira menyuguhkan semua yang dimilikinya dan berkata kepada para musafir, “Wahai kaum Quraisy! Aku telah menyediakan makanan untuk kalian. Aku berharap kalian semua datang kepadaku, tua dan muda, budak maupun orang merdeka.” Maka mereka pun datang ke biaranya. Tetapi, sekalipun Bahira telah berkata demikian kepada mereka, mereka meninggalkan Muhammad di belakang untuk menjaga unta dan barang-barang mereka. Ketika mereka mendekat, Bahira menatap wajah mereka satu persatu. Namun tak satu pun yang ia lihat sesuai dengan penggambaran dalam kitabnya; tidak juga ada seorang pun di antara mereka yang pantas bagi kebesaran dan mukjizat itu. Barangkali mereka belum datang seluruhnya.

“Wahai kaum Quraisy,” seru Bahira, “jangan sampai ada seorang pun dari kalian yang tertinggal.” “Tidak ada seorang pun yang tertinggal,” jawab mereka, “kecuali seorang lelaki yang masih kanak-kanak!” “Jangan perlakukan dia seperti itu!” Ucap Bahira. “Ajaklah dia ke sini! Biarkan dia hadir bersama kita dalam perjamuan makan ini.” Abu Thalib dan yang lain pun saling menyalahkan atas kecerobohan mereka. “Kita benar-benar terkutuk,” tukas salah seorang di antara mereka, “putra-nya Abdullah kita tinggalkan di belakang dan tidak turut makan bersama kita!” Segera ia menemuinya dan memeluknya, lalu membawanya duduk bersama yang lain.

Pandangan sekilas ke wajah pemuda itu cukup bagi Bahira untuk menjelaskan adanya mukjizat tersebut. Selama perjamuan itu, dia menatap Muhammad dengan seksama dan dia menemukan beberapa bagian dari wajah dan badannya yang cocok dengan yang dilukiskan dalam kitabnya. Maka, setelah mereka selesai bersantap, Bahira menghampiri tamu termudanya tersebut dan menanyakan tentang pola hidupnya, tidurnya, dan urusannya sehari-hari. Muhammad pun menjawab semua yang ditanyakannya dengan sigap, karena pendeta itu patut dihormati, dan pertanyaan-pertanyaannya pun diajukan dengan sopan dan baik. Muhammad juga tidak ragu-ragu melepaskan jubahnya ketika diminta pendeta itu agar dapat melihat punggungnya. Bahira telah merasa yakin karena di tempat itu, di antara kedua punggung Muhammad, ada sebuah tanda yang ia lihat, sebuah tanda kenabian pada tempat yang persis seperti yang digambarkan dalam kitabnya.

Bahira pun kembali ke Abi Thalib. “Apa hubunganmu dengan anak itu?” Bahira bertanya. “Dia anakku!” Jawab Abi Thalib. “Dia bukan anakmu. Tidak mungkin ayahnya masih hidup!” Tegas Bahira. “Dia anak saudaraku!” Kata Abi Thalib. “Lalu siapa ayahnya?” “Dia telah meninggal,” jawab yang lain, “ketika pemuda itu masih dalam kandungan ibunya.” “Itu yang benar!” Ujar Bahira. “Bawalah anak saudaramu ini ke negerinya, dan lindungilah ia dari kaum Yahudi. Demi Tuhan, kalau mereka melihatnya dan tahu seperti aku mengenalnya, mereka akan berbuat jahat terhadapnya!” 

(Foto: Para ‘Ulama Islam bersama para Patriarkh Kristen Orthodoks)