Label

Rabu, 05 Maret 2014

Doktor Cilik dari Iran yang Hapal al Qur'an


Inilah dia, Sayyid Muhammad Husein Tabataba’i seorang bocah yang mendapatkan gelar  Doktor di Hijaz Collage Islamic University. Lahir pada tanggal 16 februari 1991 di kota Qom, Iran. Husein adalah Doktor cilik hafal dan paham al-Qur’an. Husein mendapat gelar doktor pada usia 7 tahun di Hijaz Collage Islamic University. Dia menjalani ujian selama 210 menit dan memperoleh nilai 93. Sesuai standar dadri Hijaz Collage Islamic University, Husein sudah bisa menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang “Science of the Retention of The Holy Quran”. Husein mulai belajar al-Qur’an pada usia 2 tahun, dan berhasil hafal 30 juz dalam usia 5 tahun. Pada usia sebelia itu, dia tidak hanya mampu menghafal seluruh isi al-Qur’an saja, tetapi juga mampu menerjemahkan arti dari setiap ayat ke dalam bahasa ibunya yaitu Persia, memahami makna ayat-ayat tersebut, dan bisa menggunakan ayat-ayat itu dala percakapan sehari-hari. Bahkan, husein mampu mengetahui dengan pasti di halaman berapa letak suatu ayat, dan di bars ke berapa, di kiri atau sebelah kanan halaman al-Qur’an, atau menyebutkan ayat-ayat dalam satu halaman secara terbalik, mulai dari  ayat terakhir samapai ke ayat pertama. Subhanallah, Mahasuci Allah yang telah menciptakan langit bumu beserta isinya.
           
Gelar Doktor Honoris yang didapat Husein pada usia 7 tahun dari College Islamic University, Inggris, pada februari 1998 tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Husein harus menjalani ujian selama 210 menit, dalam dua kali pertemuan.ujian yang harus dilaluinya pun bukan hanya sekedar menghafal al-Qur’an saja! Melainkan meliputi lima bidang; menghafal al-Qur’an dan menerjemahkan ke dalam bahasa persia, menerangkan topik ayat al-Qur’an, menafsirkan dan menerangkan ayat al-Qur’an dengan menggunakan ayat lainnya, bercakap-cakap dengan menggunakan ayat al-Qur’an, dan metode menerangkan makna al-Qur’an dengan metode isyarat tangan. Sebuah perjuangan yang begitu keras dari Husein, yang pada saat itu masih berumur 7 tahun. Setelah selesai, tim penguji memberitahukan bahwa nilai yang diperoleh Husein adalah 93. Menurut standar yang ditetapkan Hijaz College, peaih nilai 60-70 akan diberi sertifikat diploma, 70-80 sarjana kehormatan, 80-90 magister kehormatan, dan di atas 90 doktor kehormatan honoris causa.

Proses Pendidikan Husein Belajar Al-Qur’an

Untuk kasus Husein, proses pendidikan al-Qur’an telah dimulai sejak dia masih dalam kandungan. Orangtua Husein menikah ketika mereka masing-masing berusia 17 tahun, dan setelah menikah keduanya bersama-sama berusaha menghafal al-Qur’an. Tekad tersebut akhirnya tercapa selama 6 tahun kemudian. Dan orantua Husein juga mendirikan kelas-kelas pelajaran al-Qur’an yang diikuti oleh para pecinta al-Qur’an. Seiring dengan kegiatan belajar mengajar al-Qur’an orangtuanya, Husein dan saudara-saudaranya tumbuh besar. Husein sejak kecil selalu diajak ibunya untuk menghadiri kelas-kelas al-Qur’an. Meskipun di kelas Husein hanya duduk mendengarkan, namun ternyata dia menyerap isi pelajaran. Pada usia 2 tahun 4 bulan, Husein sudah menghafal juz ke 30 secara otodidak, hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti aktivitas ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar al-Qur’an, serta aktivitas kakak-kakaknya dalam mengulang-ulang hafalan mereka. Melihat bakat istimewa Husein, ayahnya, sayyid Muhammad Mahdi Tabataba’i pun serius secara serius mengajarkan hafalan al-Qur’an juz ke 29. Setelah Husein berhasil menghafal juz ke 29, dia mulai diajari hafalan juz perrtama oleh ayahnya.

Untuk memulai menhafal al-Qur’an, Husein diajari terlebih dahulu membaca al-Qur’an, hal ini dilakukan agar Husein bisa mengecek sendiri hafalannya tanpa bergantung pada ayahnya terus. Selanjutnya ayahn Husein menciptakan metode sendiri untuk mengajarkan makna-makna al-Qur’an, yaitu dengan menggunakan isyarat tangan. Misalnya kata Allah, tangan menunjuuk ke atas, kata yuhibbu (mencintai), tangan seperti memeluk sesuatu, kata sulh (berdamai), dua tangan saling berdamai. Ayah Husein biasanya akan menceritakan makna suatu ayat secara keseluruhan dengan menggunakan bahsa yang sederhana kepada Husein. Kemudia dia akna mengucapkan ayat itu sambil melakukan gerakan-gerakan tangan yang mengisyaratkan makna ayat. Metode ini sedemikian berpengaruhnya pada kemajuan husein dalam menguasai ayat-ayat al-Qur’an sehingga dengan mudah dia mampu menerjemahkan ayat-ayat itu ke dalam bahasa persia dan mampu menggunakan ayat-ayat itu dalam percakapan sehari-hari.
           
Ayah Husein menolak jika Husein sebagai anak yang istimewa. Ayahnya berpendapat bahwa Husein memiliki kemampuan di atas rata-rata, dan semua anak pun bisa memiliki kemampuan seperti Husein. Namun tentu saja, prakondisi dan kondisinya harus lengkap. Misalnya, Husein sejak sebelum masa kehamilan, kedua orangtua Husein sudah mulai menghafal  al-Qur’an. Selama masa kehamilan dan menyusi, ibunda Husein juga teratur membacakan ayat-ayat suci untuk puteranya. Dan sejak kecil Husein sudah dibesarkan dalam lingkungan yang cinta al-Qur’an. Ayah Husein juga bepesan, bila orangtua menginginkan anaknya menjadi pecinta al-Qur’an dan penghafal al-Qur’an, langkah pertama yang harus dilakukan adalah orangtuanya terlebih dahulu juga mencintai al-Qur’an dan rajin membacanya di rumah.

Perbincangan Husein Dengan Menggunakan Ayata-ayat Al-Qur’an
           
Husein yang berkali-kali ditanya orang, mana yang lebih ia sayangi, ibu atau ayahnya. Sambil melirik ayahnya, dia menjawab, “Tidak masuk kepada golongan ini dan tidak kepada golongan itu”. (QS. An- Nisa: 143) maksudnya, dia tidak condong kepada ayahnya, tidak pula condong kepada ibunya, baginya kedua-duanya sama-sama dicintainya. Namun di lain kesempatan, Husein pernah menjawab, ”Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam keadaan 2 tahun”. (QS. Luqman: 14) maksud Husein, dia lebih menyayangi ibunya. Kunjungan ke Arab Saudi, selain menunaikan ibadah haji, Husein juga diundang hadir ke berbagai acara Qurani. Dalam perrtemuan dengan para qari al-Quran asal Libanon, Husein diuji dengan berbagai pertanyaan, diantaranya, “Apa pendapatmu tentang ulama?”. Husein menjawab, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).

Husein ditanya lagi, “jika kamu memiliki pertanyaanilmiah, kepada siapa kamu akan bertanya?” Husein menjawab, “Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Anbiya: 7). Selanjutnya, brikut ini tanya jawab yang terjadi pada saat itu. T (Tanya) : Apa pakaian yang kau sukai? H (Husein) : “Pakaian taqwa itulah yang paling baik”) QS. Al-A’raf: 26). T : Apa hadiah terbaik dari ayah kepada anaknya? H : “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang utnuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama” (QS. At-Taubah: 122) (maksud Husein, seorang ayah haruslah mendidik anaknya di bidang agama sebaik mungkin). T : Jika ayahmu marah, apa yang dia lakukan? H : “Apabila mereka marah, mereka memberi maaf” (QS. Asy-Syura: 37).T : Apakah kamu bersiap baik kepada ayah-ibumu? H : “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya” (QS. Al-Ahqaf: 15). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar