Label

Senin, 29 September 2014

Severodvinsk –Kapal Selam Mutakhir Rusia


Severodvinsk, kapal selam nuklir multiguna kelas Yasen dari Proyek 885, mulai digunakan Angkatan Laut Rusia. Fitur kunci kapal selam Yasen, yang masih menjadi salah satu proyek paling rahasia dalam industri pertahanan Rusia, adalah universalitas yang sebelumnya tidak dimiliki oleh pendahulunya, baik kapal selam buatan Rusia maupun padanannya dari luar negeri.

Kapal selam ini dirancang sejak masa Soviet, namun karena masalah ekonomi periode 1990-an proyek ini sempat diabaikan. Kapal selam yang selesai dirancang pada 1991 ini menandai era baru dalam pembangunan kapal selam Rusia. Tidak seperti di AS, yang sejak awal pembentukan armada kapal selam nuklirnya cenderung mengarah pada keseragaman, di Uni Soviet terdapat banyak varian kapal selam dalam berbagai proyek, yang sulit diseragamkan. Fungsi mereka sering kali tumpang tindih.

Perancangan yang tak seragam itu dihentikan saat kapal selam generasi keempat mulai dikembangkan pada 1977. Spesialisasi tempur medan sempit pun dikorbankan, artinya kapal selam nuklir baru harus sama dapat menyerang sasaran di bawah air maupun di permukaan dengan kualitas yang sama, serta mampu meluncurkan rudal jelajah ke arah sasaran di darat. Dengan kata lain, kapal selam ini harus bisa mengatasi segala jenis tantangan yang dihadapi armada kapal selam.

Untuk mewujudkan tujuan itu, perancang kapal selam Rusia menggunakan solusi teknis yang orisinil. Kapal selam kelas Yasen tidak menggunakan struktur lambung ganda seperti semua kapal selam Soviet saat itu, namun ia juga tidak menjadi kapal selam lambung tunggal seperti kapal selam AS. Dua lambung dapat menjamin keandalan dan daya apung kapal selam, sedangkan lambung tunggal berarti kapal selam akan beroperasi tanpa derau dan sulit dideteksi. Yasen berada di antara keduanya, memiliki arsitektur “satu setengah lambung”, dengan sebuah lambung ringan yang hanya menutupi sebagian lambung tekanan kapal selam. Fitur tradisional lain dari desain kapal selam Soviet yang tidak digunakan di kapal selam kelas Yasen adalah tabung torpedonya yang berada di haluan. Pada kapal selam Yasen, sistem sonar Irtysh ditempatkan di haluan, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk torpedo. Tabung-torpedo terpasang di bagian tengah kapal selam, agak miring ke arah garis tengah. Jadi, Yasen meminjam konstruksi yang telah banyak digunakan di AS.

Granat Versus Tomahawk 

Presiden Rusia Dmitry Medvedev (tengah) di galangan kapal Sevmash, sesaat sebelum peluncuran seremonial kapal selam multiguna Severodvinsk, 15 Juni 2010.

Senjata utama kapal selam ini adalah rudal antikapal supersonik Oniks (Yakhont) 3M55 yang memiliki jangkauan hingga 350 kilometer. Peluncuran serentak 24 rudal tersebut dapat menjadi masalah serius bahkan bagi armada kapal pengangkut pesawat AS yang memiliki sistem pertahanan udara yang hebat.

Kapal selam kelas Yasen juga dilengkapi dengan Granat, rudal buatan Rusia yang sepadan dengan rudal Tomahawk AS. Rudal ini memiliki jangkauan tembak hingga 3.000 kilometer. Sama seperti Tomahawk, Granat dapat dipasangi hulu ledak nuklir. Selain itu, kapal selam baru ini memiliki rudal Kalibr 3M14, dengan jangkauan tembak lebih dari 500 kilomter, sehingga memungkinkan kapal selam Proyek 885 untuk melancarkan serangan besar-besaran berpresisi tinggi ke arah sasaran di darat.

Melalui tabung torpedonya, kapal selam ini dapat meluncurkan rudal antikapal Biryuza 3M54 dan rudal anti-kapal selam 91R, serta menjatuhkan ranjau. Sebagai bagian kapabilitas pertahanan diri, Severodvinsk memiliki perangkat khusus untuk menembak jatuh berbagai umpan dan mungkin sebuah sistem pertahanan antitorpedo aktif yang mampu menghancurkan torpedo musuh dengan senjata antitorpedo spesial berukuran kecil.

Sementara itu, dalam buku Cold War Submarines, analis maritim Amerika yang terkemuka Norman Polmar mengakhiri bab mengenai proyek kapal selam mutakhir AS dan Soviet dengan menyimpulkan bahwa kapal selam generasi keempat Soviet telah mencapai level yang sama, bahkan melampaui rival-rivalnya buatan AS. [RBTH


Jumat, 26 September 2014

World Great Leaders

(Iran's Mahmoud Ahmadinejad) 
(Indonesia's Soekarno) 
(Russia's Vladimir Putin) 
(Venezuela's Hugo Chavez)

Sabtu, 20 September 2014

Pidato Mahmoud Ahmadinejad di PBB 20 April 2009



Bismillahirrahmanir rahim. Allahumma ‘Ajjil Liwaliyyikal Faraj Wal’Afiah Wannashr. Waj’alna min Khairi Ansharihi wa A’wanini Walmustasyhadina Baina Yadaih. Segala puji dan syukur khusus milik Allah Yang Adil, Pengasih dan Yang Menginginkan Kebaikan Hamba-Nya. Salam Allah kepada para nabi ilahi mulai dari Nabi Adam hingga Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan pamungkas para nabi, Muhammad saw. Mereka semua adalah penyeru monoteisme, persaudaraan, cinta, kehormatan manusia dan keadilan.

Pimpinan sidang,

Sekjen PBB,

Komisi Tinggi HAM,
Ibu dan bapak,

Kita berkumpul di sini guna melanjutkan konferensi anti rasisme Durban dengan membahas kondisi kekinian dan solusi praktis dalam perjuangan suci dan manusiawi ini. Dalam peristiwa di beberapa abad terakhir telah terjadi banyak kezaliman besar terhadap umat manusia. Di abad pertengahan para ilmuwan dihukum mati. Setelah itu masuk masa perbudakan dan pemburuan manusia tak berdosa lalu memisahkan mereka dari keluarganya dengan mengirimkan mereka ke Eropa dan Amerika dalam kondisi sangat buruk bila dibandingkan jutaan manusia lainnya.

Periode kegelapan yang dibarengi oleh penjajahan berbagai daerah disertai penjarahan kekayaan alam dan pembantaian serta mengungsikan dengan paksa warga tak berdosa. Bertahun-tahun lewat bangsa-bangsa bangkit untuk mengusir para penjajah lalu mendirikan pemerintah independen dan nasional dengan nyawa jutaan manusia.

Gila kekuasaan dalam waktu singkat memaksakan dua perang besar di Eropa dan sebagian dari Asia dan Afrika. Perang yang hasilnya mengorbankan ratusan juta nyawa manusia dan hancurnya lahan-lahan tanah-tanah subur. Mereka yang menang dalam perang menganggap dirinya sebagai jagoan dan pemenang dunia sementara bangsa-bangsa lainnya dipandang sebagai pecundang. Mereka lalu membuat undang-undang dan sistem yang zalim, tidak peduli dan bahkan menistakan hak-hak bangsa lain.

Ibu dan bapak,

Pandang Dewan Keamanan PBB sebagai warisan Perang Dunia I dan II. Dengan logika apa mereka mendapatkan keistimewaan dan hak veto? Nilai-nilai kemanusiaan dan ilahi seperti apa yang bisa menerima logika ini? Dengan keadilan? Dengan persamaan di hadapan hukum? Dengan kehormatan manusia? Atau diskriminasi, ketidakadilan, pelanggaran HAM dan ancaman bagi mayoritas bangsa dan negara di dunia? Ini kondisi dewan tertinggi dan referensi pengambilan keputusan bagi perdamaian dan keamanan dunia! Ketika diskriminasi ada dan sumber hukum tidak lagi keadilan dan kebenaran, tapi arogansi dan kekuatan, bagaimana dapat diharapkan terciptanya keadilan dan perdamaian? Gila kekuasaan dan egoisme sumber rasisme, diskriminasi, agresi dan kezaliman.

Sekalipun kini kebanyakan orang-orang rasis juga ikut-ikutan mengecam rasisme dalam slogan dan ucapan mereka, namun ketika beberapa negara kuat punya hak berdasarkan kepentingannya mengambil keputusan untuk negara-negara lain, mereka dengan mudah menginjak-injak hukum dan nilai-nilai kemanusiaan. Dan hal itu telah dilakukan oleh mereka.

Setelah Perang Dunia II dengan alasan orang-orang Yahudi menjadi korban dalam peristiwa holocaust dan dengan agresi mereka mengungsikan sebuah bangsa dan mereka mengirimkan orang-orang Yahudi dari Eropa, Amerika dan dari berbagai negara di dunia tinggal di daerah itu. Mereka akhirnya mendirikan pemerintah yang mutlak berasaskan rasisme di Palestina Pendudukan. Sejatinya, alasan untuk menebus kerugian rasisme di Eropa, mereka mendirikan rasisme paling kejam di tempat lain, yaitu Palestina.

Dewan Keamanan PBB mengakui pemerintah perampok ini dan selama 60 tahun membelanya serta memberikan kesempatan rezim ini untuk melakukan segala bentuk kejahatan. Lebih buruk dari ini, sejumlah negara Barat dan Amerika merasa berkewajiban untuk membela para rasisme pembantai manusia. Ketika manusia yang masih memiliki hati nurani bersih menyaksikan pengeboman dan pembantaian yang terjadi di Gaza dan mengecam aksi tersebut, mereka malah membela para penjahat. Sebelum itu juga mereka memilih diam di hadapan segala terbongkarnya kejahatan yang dilakukan rezim ini dan mendukungnya.

Saudara-saudara yang mulia, ibu dan bapak,

Apa alasan di balik perang terakhir seperti serangan Amerika ke Irak dan pengiriman besar-besaran tentara ke Afganistan? Apa alasannya selain arogansi pemerintah Amerika waktu itu, tekanan para pemodal dan penguasa untuk melebarkan pengaruh dan hegemoni, menjamin kepentingan para produsen senjata, penghancuran sebuah peradaban ribuan tahun, menghancurkan bahaya potensial dan aktual negara-negara regional terhadap Rezim Zionis Israel dan menjarah sumber-sumber energi Irak?

Jujur saja, mengapa ada satu juta orang tewas dan cidera dan jutaan lainnya harus mengungsi? Jujur saja, apakah serangan ke Irak dengan rencana Rezim Zionis Israel dan sekutu mereka di pemerintah Amerika waktu itu yang di satu sisi bersandar pada kekuasaan dan di sisi lainnya bersandar pada para pemilik perusahaan senjata? Apakah dengan mengirimkan pasukan ke Afganistan, perdamaian, keamanan, ketenangan dan kesejahteraan telah kembali di negara ini?

Amerika dan sekutunya tidak mampu bahkan hanya untuk mencegah produksi narkotika. Kehadiran mereka di Afganistan kini malah membuat produksinya meningkat berkali-kali lipat!

Pertanyaan pentingnya adalah apa yang dilakukan oleh pemerintah Amerika dan sekutunya waktu itu? Apakah mereka menjadi wakil-wakil dunia? Apakah mereka pilihan bangsa-bangsa di dunia? Apakah rakyat di dunia mewakilkan kepada mereka untuk mengintervensi seluruh dunia (tentunya mereka lebih banyak melakukan intervensi di kawasan kami)? Apakah aksi-aksi pendudukan Irak dan Afganistan bukan bukti dari arogansi, rasisme, diskriminasi, penistaan kehormatan dan kemerdekaan bangsa-bangsa?

Ibu dan bapak,

Siapa penanggung jawab ekonomi dunia setelah terjadi krisis ekonomi dunia? Krisis bermula dari mana? Dari Afrika, Asia atau bermula dari Amerika yang kemudian menyebar ke Eropa dan sekutunya!

Cukup lama mereka memaksakan undang-undang dan peraturan tidak adil ekonomi dengan kekuatan politik dalam interaksi politik dan intenasional. Mereka menetapkan sistem moneter dan keuangan tanpa ada pengawasan internasional. Mereka memaksa seluruh negara dan bangsa di dunia untuk tidak ikut campur dalam proses dan pengambilan kebijakan. Mereka bahkan tidak pernah memberikan kesempatan kepada rakyatnya untuk melakukan pengawasan. Dengan meminggirkan moral dalam berbagai hubungan, mereka membuat undang-undang dan peraturan yang menguntungkan sebuah kelompok penguasa dan kaya. Dengan mendefinisikan sendiri pasar bebas dan persaingan, mereka berhasil menjegal kesempatan pihak lain memindahkan masalah yang dimilikinya ke pihak lain.

Kini puncak krisis puluhan ribu miliar hutang dan ribuan miliar defisit anggaran telah kembali kepada mereka sendiri.

Kini untuk memperbaiki kondisi mereka mulai menyuntikkan ratusan miliar tanpa pendukung dari kantong rakyat Amerika sendiri dan dari seluruh dunia kepada bank-bank, perusahaan-perusaha an besar dan pasar moneter yang hampir bangkrut. Dengan cara ini mereka kembali membuat rakyatnya semakin banyak hutan dan masalah menjadi semakin kompleks.

Mereka hanya memikirkan kekuasaannya saja. Bagi mereka masyarakat internasional, bahkan rakyat mereka sendiri tidak bernilai.

Pimpinan sidan, ibu dan bapak,

Akar asli rasisme kembali pada ketidaktahuan akan hakikat manusia sebagai makhluk terpilih dan menyimpang dan jalur kehidupan manusia dan tugas manusia dalam penciptaan. Lalai dari penyembahaan secara sadar kepada Allah dan pemikiran dalam filsafat kehidupan dan jalur kesempurnaan manusia yang berasal dari hasil alami akibat komitmen terhadap nilai-nilai ilahi dan manusiawi. Semua ini menyebabkan tataran cara pandang seorang manusia menjadi turun yang membuatnya hanya memikirkan kepentingan terbatas dan fana sebagai prinsip dalam berlaku. Dengan demikian inti kekuatan yang memiliki sifat setan telah terbentuk. Dengan menghapus kesempatan secara adil bagi pertumbuhan orang lain ia berusaha mengembangkan diri. Sebagaimana dalam bentuk terburuknya berubah menjadi rasisme yang tidak lagi memiliki kekangan dan kini menjadi faktor paling berbahaya yang mengancam perdamaian dunia dan menutup jalan terciptanya kehidapan damai.

Tidak ragu lagi bahwa rasisme harus dinilai sebagai simbol kebodohan dalam sejarah dan tanda-tanda kekolotan di hadapan pertumbuhan manusia umumnya. Dari sini diharapkan kita mencari pengejawantahan rasisme dalam penyebaran kondisi kemiskinan akan ilmu dan ketiadaan pemahaman bagi masyarakat.

Oleh karenanya, solusi asli dalam memerangi fenomena ini adalah menyebarkan pemahaman masyarakat dan memperdalam pemahaman mereka mengenai filsafat keberadaan manusia dan hakikat dunia dengan fokus manusia. Hasilnya adalah kembalinya manusia kepada nilai-nilai spiritual, moral, keutamaan manusia dan kecenderungan kepada Allah. Masyarakat internasional harus dalam sebuah gerakan universal budaya demi menjelaskan lebih luas lagi kepada masyarakat yang terkena penyakit ini dan tentunya mereka terkebelakang. Bila ini dilakukan simbol keburukan dan kekotoran ini bakal tergerus dengan cepat.

Saudara-saudara yang terhormat,

Kini masyarakat internasional menghadapi semacam rasisme yang keburukannya merusak citra manusia di awal mileniuk ketiga dan mempermalukan umat manusia.

Zionisme Internasional simbol mutlak rasisme yang berbohong atas nama agama dan memanfaatkan simpati keagamaan demi menyembunyikan wajah buruknya dari orang-orang yang tidak punya informasi. Namun yang harus diperhatikan dengan serius adalah upaya sebagian kekuatan besar dan pemilik kepentingann luas di dunia dengan memanfaatkan kekuatan ekonomi, pengaruh politik dan media berusaha sekuat tenaga mendukung Rezim Zionis Israel dan mengurangi keburukannya. Di sini sudah bukan masalah kebodohan!

Oleh karenanya, tidak boleh mencukupkan diri dengan aksi-aksi budaya untuk melawan fenomena buruk ini, tapi yang harus dilakukan adalah mengakhiri penyalahgunaan Israel dan para pendukungnya akan lembaga-lembaga internasional sebagai alat politiknya. Dengan menghormati keinginan bangsa-bangsa lain dan memperkuat tekad negara-negara untuk mengikis habis rasisme ini serta berani mengambil langkah memperbaiki hubungan internasional.

Tidak ragu lagi kalian semua tahu ada upaya besar kekuatan-kekuatan dunia untuk menyelewengkan tugas penting ini dalam pertemuan ini.

Patut disayangkan bahwa diplomasi dukungan terhadap Zionis Israel memiliki arti ikut serta secara transparan dalam setiap aksi kejahatan dan ini menambah tanggung jawab wakil-wakil terhormat yang hadir untuk membongkar aksi anti manusia dan segera memperbaiki hubungan dan perilaku. Harus diketahui bahwa mengenyampingkan kapasitas besar dunia seperti konferensi ini merupakan bukti asli membantu berlanjutnya keberadaan rasisme paling buruk. Konsekwensi membela HAM saat ini pertama adalah membela hak bangsa-bangsa untuk bebas dalam mengambil keputusan penting dunia tanpa campur tangan pihak-pihak lain dan kedua, harus melakukan langkah-langkah untuk memperbaiki struktur dan hubungan internasional.

Mencermati hal ini, konferensi ini menjadi ujian besar dan opini dunia hari ini dan esok akan menilai apa yang kita lakukan.

Pimpinan sidang, ibu dan bapak,

Kondisi dunia dengan cepat tengah mengarah pada perubahan prinsip. Relasi kekuatan tampak sangat rapuh. Suara patahnya tulang punggung kezaliman dunia telah terdengar. Struktur politik dan ekonomi makro tengah menuju kehancurannya. Krisis politik dan keamanan semakin dalam dan krisis ekonomi yang semakin meluas dan tidak ada secercah harapan untuk untuk memperbaikinya. Berbagai dimensi baik kuantitas dan kualitas transformasi di berbagai bidang untuk maju sangat menakjubkan. Saya berkali-kali menekankan agar kembali dari jalur salah dalam mengelola dunia saat ini dan memperingatkan bila terlambat menyikapi masalah ini. Kini dalam konferensi internasional tak ternilai kepada kalian dan setiap pemimpin, pemikir dan kepada semua bangsa di dunia yang haus akan perdamaian, kebebasan, kemajuan dan kesejahteraan saya ingin mengatakan bahwa pengelolaan tidak adil yang menguasai dunia telah berakhir!

Kebuntuan ini tidak dapat dihindarkan karena muncul dari logika pengelolaan yang bersumber dari pemaksaan zalim. Karena logika gerakan dunia merupakan gerakan transenden, punya tujuan, manusia sebagai fokus dan kecenderungan kepada Allah. Gerakan yang akan melawan setiap kebijakan dan program yang tidak memihak kepentingan bangsa-bangsa dunia. Kemenangan kebenaran atas kebatilan dan masa depan cerah manusia berdasarkan sistem dunia yang adil merupakan janji Allah dan para nabi, bahkan harapan seluruh masyarakat dan generasi. Terciptanya masa depan seperti ini merupakan konsekwensi dari kebijaksanaan dalampenciptaan dan menjadi kepercayaan semua hati orang yang percaya kepada Allah dan posisi tak ternilai manusia.

Pembentukan masyarakat dunia praktis memungkinkan terciptanya sistem bersama dunia dan dengan ikutnya para ilmuwan, para pemimpin dan masyarakat dunia untuk ikut serta secara aktif dan adil dalam pengambilan keputusan makro dan prinsip merupakan jalur pasti dari tujuan besar ini. Kini kapasitas keilmuan, teknik, dan teknologiinformasi dan komunikasi mampu membentuk pemahaman bersama dan luas dari masyarakat dunia dan sebagai sarana bagi terciptanya satu sistem bersama. Kini tanggung jawab besar ini berada di pundak para pendidik, ilmuwan dan negarawan seluruh dunia yang percaya akan jalan pasti ini mampu memainkan peran historisnya. Saatnya saya ingin menekankan satu hakikat bahwa Kapitalisme Barat sama dengan Komunisme telah berakhir karena tidak mampu melihat manusia sebagai apa adanya dan berusaha untuk memaksakan jalan dan tujuan yang diciptakan untuk manusia.

Ketimbang memperhatikan nilai-nilai manusia dan ilahi, keadilan,kebebasan cinta dan persaudaraan, malah menjadikan persaingan keras guna meraih kepentingan materi, individu dan kelompok sebagai prinsip hidupnya.

Kini dengan mengambil pelajaran dari masa lalu dan memahami keharusanmengubah jalan dan kondisi saat ini, mari kita semua bertekad untuk berusaha di segala bidang. Sekaitan dengan hal ini dan sebagaipembicaraan terakhir, saya mengajak semua untuk memperhatikan dua poin penting:

[1] Perubahan kondisi dunia dan itu pasti bisa dilakukan, namun perludiketahui bahwa hal ini hanya dapat dilakukan dengan kerjasama seluruh negara dan bangsa. Oleh karenananya, harus memanfaatkan seluruh kapasitas yang ada untuk kerjasama internasional. Kehadiran saya dalam konferensi ini sebagai penghormatan atas masalah penting begitu juga masalah HAM dan pembelaan hak-hak bangsa dalam menghadapi fenomena buruk rasisme bersama kalian para ilmuwan.

[2] Mencermati tidak berfungsinya sistem-sistem yang ada dan relasipolitik, ekonomi, keamanan dan budaya internasional perlu melakukan perubahan dalam struktur yang ada dengan memperhatikan nilai-nilai ilahi dan manusiawi, analisa yang benar dan realistis mengenai manusia, berdasarkan keadilan dan memberikan nilai kepada hak semua manusia di seluruh dunia, para hegemoni harus mengakui kesalahan sebelumnya dan mengubah cara berpikir dan berlaku. Sekaitan dengan masalah ini, perubahan segera Dewan Keamanan PBB, menghapus keistimewaan diskriminatif hak veto, perubahan sistem moneter dan keuangan dunia harus segera dijadikan agenda untuk dibicarakan. Jelas, tidak memahami pentingnya perubahan segera sama dengan biaya lebih besar perubahaan itu sendiri.

Saudara-saudara saya yang terhormat,

Ketahuilah, gerakan menuju keadilan dan kemulian manusia bak gerak cepat dalam arus air. Jangan sampai kita melupakan eliksir cinta. Kepastian masa depan cerah bagi manusia merupakan modal besar yang mampu membuat kita semakin mengerti dan berharap untuk berusaha menciptakan dunia yang penuh dengan cinta, nikmat, tidak ada lagi kemiskinan, semua mendapat rahmat Allah dalam kepemimpinan manusia sempurna. Mari kita berusaha untuk memiliki saham dalam masalah penting ini!

Dengan harapan akan hari cerah dan indah!

Kepada pemimpin sidang, Sekjen PBB dan kepada kalian semua yang mendengarkan pidato ini, saya mengucapkan terima kasih banyak.

Semoga sukses dan tetap jaya.

(Diterjemahkan oleh Saleh Lapadi


Memperjuangkan Palestina dari New York


Oleh A Fatih Syuhud (Republika, November 2003)

Edward Said, yang meninggal pada 25 September di usianya yang ke 67 karena leukaemia, merupakan salah satu kritikus sastra paling berpengaruh pada seperempat akhir abad 20. Sebagai profesor sastra dan perbandingan Inggris di Universitas Columbia, New York, dia secara luas dianggap sebagai representasi pos-strukturalis Kiri di Amerika.

Sebenarnya dia menderita leukaemia sejak tujuh tahun yang lalu. Apa yang membuat orang kagum adalah semangatnya yang tidak pernah padam, kendati dia sadar bahwa ajal sudah diambang pintu. Masalah Palestina tentunya telah ikut ambil bagian dalam memotivasi sisa-sisa hidupnya, di samping banyak hal yang menjadi minatnya seperti sastra kontemporer, seni, musik dan kehidupan itu sendiri.Edward Said tidak mempercayai pandangan kepemilikan budaya, yakni yang menganggap bahwa ini budaya kita dan itu bukan. Hal ini mungkin karena dia, seperti yang pernah dia katakan sendiri, adalah “anjing liar” yang tidak bertuan. Ketika masih anak-anak, dia ingat bagaimana ruang kelas tempat dia belajar dipenuhi oleh bangsa Yahudi, Muslim, Armenia, dan Yunani. Dia dan keluarganya meninggalkan Palestina ketika dia berusia 12 tahun dan ini mungkin bukanlah kebetulan bahwa kota yang akhirnya dia tempati sebagai tempat tinggal di AS adalah New York, sebuah kota yang menurut Said, “paling kurang bau Amerika-nya” dibanding kota-kota lain. Kota dengan berbagai budaya. Kota “anjing liar”. Hubungan Said dengan Amerika merupakan sesuatu yang kompleks. Dia terdidik di sana, dan mengabdikan seluruh kehidupan profesionalnya – selama 40 tahun dengan Columbia University – dan merasa bagai di rumah sendiri di AS. Dan pada waktu yang sama dia tetap mempertahankan “perspektif gandanya”: sebagai seorang Amerika pembangkang; dan seorang Arab Palestina sekaligus.

Bila sudah menyangkut Palestina, tidak ada yang dapat menghentikan Said. Selama bertahun-tahun dia manfaatkan seluruh piranti yang ada yang dia kuasai. Tetapi Said sempat putus asa melihat kenyataan bahwa dia tidak punya teman seide: “Negara-negara Arab di sekitar kami sangat, sangat licik”. Bahwa aliansi yang dulu terbangun kini tak lagi eksis. Aliansi yang dulu memerangi Israel: “Anda tidak akan dapat menemukan musuh terburuk dari Israel, karena mereka adalah orang-orang yang pernah mengalami berbagai macam kesengsaraan. Mereka memiliki sebuah insting untuk bertahan yaitu kejam dan tak kenal kasihan. Di samping itu, Israel mengantongi dukungan penuh AS.”

Edward Said juga kecewa pada pimpinan Palestina. Yasser Arafat, yang dia kenal dengan baik, dia anggap sebagai figur yang jenius untuk bertahan. Arafat, kata Said, berusaha untuk menyatukan rakyatnya, sayangnya tidak punya visi. Said yakin bahwa Arafat tidak memberikan kepemimpinan moral yang dibutuhkan pada rakyat Palestina, tidak sebagaimana seorang Mandela yang selama bertahun-tahun di penjara tetap mempertahankan prinsip satu orang, satu suara. Said berpendapat bahwa jual diri Arafat dalam negosiasi Oslo merupakan momen krusial penyerahan diri.

Ada satu kenangan pahit ketika Said kembali ke tanah kelahirannya. Pada 1982 ia mengunjungi rumah familinya di Yerusalem Barat, di mana dia dilahirkan. “Suasana sangat emosional waktu itu. Rumah itu sama sekali tidak berubah. Aku tunjukkan pada anak-anakku kamar tempat aku lahir, tapi aku tidak dapat masuk. Ada perasaan aneh, ketika melihat di atas negaraku terdapat negara baru. Dan negara baru itu menolak sama sekali keberadaan negara yang sudah eksis lebih dulu.”

Buku Said yang paling berpengaruh, Orientalism (1978), dianggap memiliki andil dalam membantu merubah arah sejumlah disiplin ilmu dengan mengekspos adanya persekongkolan antara pencerahan dan kolonialisme. Sebagai seorang humanis dengan pandangan sekuler mendalam, kritiknya atas tradisi besar Pencerahan barat, dilihat oleh banyak kalangan di Barat, sebagai kontradiktif. Begitu juga, pengerahan diskursus humanistik untuk menyerang tradisi humanisme kultural, dan pada waktu yang sama, mempertanyakan integritas riset kritis terhadap bidang-bidang yang sensitif secara kultural seperti Islam, telah membuat lega kalangan fundamentalis yang menganggap kritik atas tradisi atau teks mereka sebagai di luar batas.

Pengaruh Said, sebagaimana disinggung di awal tulisan, tidak hanya terbatas pada bidang diskursus akademis. Sebagai seorang selebritis intelektual di Amerika, ia juga dikenal sebagai kritikus opera, pianis, selebritis televisi, politisi, pakar media, kolumnis populer dan dosen publik. Dia dijuluki “profesor teror” oleh majalah sayap Kanan Amerika Commentary; pada tahun 1999, ketika ia sedang bergelut melawan leukaemia, majalah yang sama menuduhnya sebagai telah memalsukan statusnya sebagai pengungsi Palestina guna menambah nilai advokasi pada perjuangan Palestina, dan juga dianggap telah memalsu klaimnya bahwa dia pernah sekolah di Yerusalem sebelum merampungkan pendidikannya di AS.

Permusuhan yang dihadapi Edward Said dari lingkaran pro Israel di New York tentu bisa diduga, mengingat kritiknya yang tajam atas pelanggaran HAM Israel terhadap rakyat Palestina dan kecamannya yang terus terang atas kebijakan AS di Timur Tengah. Uniknya, perlawanan pada Said juga muncul dari kalangan rakyat Palestina sendiri yang menuduh Said sebagai telah mengorbankan hak-hak rakyat Palestina dengan memberikan konsesi-konsesi tak berdasar pada Zionisme.

Said mengakui bahwa dikecualikannya Israel dari kriteria normal, yang dibuat ukuran standar bagi bangsa-bangsa lain, adalah disebabkan oleh tragedi Holocaust. Tetapi sambil mengakui signifikansi unik Israel, ia tidak mengerti mengapa warisan trauma dan horor yang pernah dialami Yahudi dieksploitasi mereka untuk mengusir dan merampas hak-hak rakyat Palestina, sebuah bangsa yang “sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan kompleksitas bangsa Eropa,” tulisnya dalam Politics of Dispossession (1994).

Terpilih sebagai anggota Palestine National Council (PNC) pada tahun 1977, sebagai seorang intelektual independen, Said menolak ikut ambil bagian dalam perjuangan faksional, sambil tetap memanfaatkan otoritasnya untuk membuat intervensi strategis. Dia menolak perjuangan bersenjata dan pendukung awal dari solusi dua-Negara, yang secara implisit mengakui eksistensi negara Israel. Kebijakan ini diambil pada pertemuan PNC di Aljazair pada 1988.
Begitu proses damai mendapatkan momentum, Said justru mengambil posisi lebih kritis dan pada 1991 dia mengundurkan diri dari PNC. Menurutnya, deklarasi Oslo terlalu banyak menguntungkan Israel dan merugikan Palestina. Skenario Oslo yang berisi penarikan mundur Israel dari Gaza dan Jericho sebelum penarikan mundur dari kawasan-kawasan lain serta kesepakatan atas status akhir Yerusalem, telah menjadi “instrumen penyerahan diri bangsa Palestina, sebuah Versailles-nya Palestina.”

Sampai akhir hayatnya, Said dianggap menjadi duri dalam daging Otoritas Palestina. Warga Palestina di pengasingan yang paling terkenal inipun menjadi korban sensor oleh bangsanya sendiri di mana kondisi intoleransi, ketidakbebasan dan korupsi semakin mengelilingi Arafat dan rejimnya. Sikap pemerintah Palestina yang mengisolasinya ini sama sekali tidak memadamkan semangatnya untuk terus memperjuangkan Palestina dari pengasingannya di New York.

Keterlibatan Edward Wadie Said dengan Palestina akhirnya berujung pada 25 Desember 2003. Said, yang lahir pada 1 Nopember 1935, dan menikah dengan Mariam Cortas pada 1970 dan dianugerahi dua anak, itupun menghembuskan napasnya yang terakhir. Siapakah yang dapat menghentikan kematian? Sebagaimana pernah dia katakan, “Dengan penyakit seperti leukaemia, ketika kita dengar kata itu pertama kalinya sungguh terasa sangat sulit. Aku membutuhkan waktu beberapa bulan untuk dapat tenang. Tetapi itu semua adalah masalah disiplin. Bagaimanapun kita harus mati. Sebelum kita masuk ke liang lahat, kita usahakan untuk dapat memanfaatkan hidup ini sebaik mungkin.”

Dia berbuat persis seperti apa yang dia katakan, memperjuangkan Palestina dengan kata-kata dan tulisan-tulisannya yang terus mengalir sampai akhir hayatnya dari sebuah tempat yang dia sebut sebagai kota “anjing liar” seperti dirinya.

Ketika Media-Media Mainstream Jualan Berita dan Analisa Bodoh


Belakangan ini kita sering mendengar beberapa pengamat Timur Tengah yang tampil di layar kaca TVOne mengutarakan bahwa Iran dan Israel itu sebenarnya main mata. Tujuan pernyataan ini sebenarnya ingin menunjukkan adanya konspirasi di balik retorika Iran dalam memusuhi Israel dan membantu rakyat Palestina. Mereka ingin membangun argumen bahwa Iran itu cuma berpura-pura dalam dukungannya pada Palestina dan perlawanannya terhadap Israel.

Mereka biasanya membawa dalil bahwa Iran tidak pernah menghantam Israel dengan roket atau rudal balistiknya. Demikian pula sekutu Iran dari kalangan Arab seperti Suriah juga tidak menghajar Israel. Bukti lain yang biasanya diajukan ialah pertemuan sejumlah pemimpin Iran dengan rabbi-rabbi Yahudi dari kelompok Neturei Karta (yang justru merupakan kelompok Yahudi anti Zionis Israel).

Para pengamat ini sebenarnya mengikuti garis argumen (palsu) yang kini umum beredar di media Arab pro Zionis seperti Aljazeera dan Alarabiya. Bagi mereka yang bisa berbahasa Arab pasti akan mudah menemukan omongan-omongan serupa di kolom komentar di situs-situs media Arab pro Zionis tersebut.

Namun, benarkah demikian? Benarkah Iran main mata dalam perlawanannya terhadap AS dan Zionis Israel? Benarkah Iran hanya tipu-tipu dalam mendukung Palestina? Marilah kita tinggalkan manipulasi dan pemutarbalikan fakta ala para pengamat dan media Arab pro Zionis di atas dan kembali ke realitas yang ada.

Sebelum Revolusi Islam tahun 1979, di saat AS masih mengangkangi Teluk Persia seutuhnya, Shah Reza Pahlewi yang ketika itu berkuasa memiliki hubungan mesra dengan Israel. Pada saat itu pula, segenap rezim Arab tunduk di bawah ketiak Shah dan membayar upeti untuk setiap tanker minyak yang melewati Teluk Persia. Dan pada saat itu sebenarnya Shah sudah mengaku dirinya sebagai penganut Syiah –sementara raja-raja Arab tidak pernah merasa menjadi pengayom Sunni dalam melawan Shah yang sangat benci terhadap Arab itu. Di zaman ketundukan Iran pada AS itu, segalanya seperti berjalan normal tanpa ketegangan sektarian seperti yang tergambar saat ini. Kedekatan dengan AS ketika itu tampaknya adalah kunci dari kedigdayaan Iran di mata rezim-rezim Wahabi Arab.

Namun, segalanya seperti berubah ketika Revolusi Islam Iran meletus pada 1979. Tiba-tiba saja Irak berkoar soal nasionalisme Arab dalam melawan Persia, dan raja-raja Arab penghasil petrodolar itu bersekongkol ingin menghabisi Iran. Alasan mereka banyak. Di antaranya, Iran ingin mengekspor revolusi, Iran akan mensyiahkan Timur Tengah dan dunia Islam, dan alasan terakhir yang paling absurd ialah karena Iran bermain mata dengan Israel untuk melemahkan Islam dan Arab.

Alasan terakhir ini kini seperti mendapatkan pembenaran lantaran apa yang terjadi di Suriah. Apalagi kini juga tak henti-hentinya para ulama bayaran yang hidup dalam ketiak raja-raja korup terus mengumandangkan ujaran-ujaran kebencian terhadap Iran dan komunitas Syiah di Timur Tengah.

Tapi, lagi-lagi, benarkah demikian? Tentu jawabannya bagi sebagian besar yang mengerti seluk-beluk Timur Tengah sudah jelas. Tak perlu analisis dan argumentasi sepanjang ini. Namun, belakangan, pengulangan argumen ini di sejumlah media nasional dapat menyebabkan khalayak yang kurang wawasan menerima bualan itu sebagai kenyataan. Di bawah ini saya coba berikan beberapa penjelasan.

Pertama, sejak Revolusi Islam Iran, Imam Khomeini telah menjadikan pembelaan terhadap Palestina dan perlawanan terhadap AS-Israel sebagai prinsip ideologisnya. Dua gerakan perlawanan rakyat Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam, mendapat dukungan logistik dari Iran di tengah boikot total dari seluruh rezim Arab. Dan untuk dukungannya ini, Iran harus membayar mahal.

Selain itu, Suriah sebagai satu-satunya negara Arab yang berbatasan langsung dengan Israel dan hingga kini belum meneken perjanjian damai dengan Israel juga mendapat dukungan penuh dari Iran. Dasar hubungan strategis Iran-Suriah ialah perlawanan terhadap Israel. Demikian pula hubungan trio Iran-Suriah-Hizbullah pun berlaku dalam kerangka melawan Israel dan hegemoni AS di Timur Tengah. Dan karena hubungan ini pula maka ketiganya terus digencet oleh seluruh kekuatan pro Zionis Israel dan AS, baik rezim-rezim Arab, Turki maupun kelompok-kelompok ekstremis Islam model Al-Qaedah.

Jadi, apa maksud sebenarnya dari pernyataan komentator-komentator di atas? Banyak, tapi sedikitnya ada lima motif di balik pemutarbalikan fakta ini. Masing-masing fakta ini sebenarnya saling memperkuat untuk: Pertama, pemutarbalikan fakti ini dihembuskan untuk mengaburkan kenyataan yang terang-benderang tentang ketundukan negara-negara Arab terhadap hegemoni dan kebijakan AS-Israel di Timur Tengah.

Negara-negara yang mengangkat dirinya sendiri sebagai pengayom mayoritas Muslim itu ingin menyatakan bahwa permusuhannya pada Iran dikarenakan Iran sebenarnya bermain mata dengan AS juga. Padahal, bukti-bukti kerjasama yang coba diungkap dari balik layar tersebut tidak pernah bisa dibandingkan dengan kenyataan terang-benderang hubungan mesra negara-negara Arab dan Turki dengan AS-Israel. Di sini misalnya kita bisa menyebutkan bahwa Turki adalah negara Muslim pertama yang mengakui eksistensi negara Israel.

Kedua, tujuan dimunculkannya rumor ini ialah menutup-nutupi kolaborasi negara-negara Arab plus Turki dengan rezim Zionis dalam menindas rakyat Palestina dan mengabaikan hak-hak asasi mereka dengan cara merontokkan eksistensi negara Suriah sebagai tulang-punggung poros perlawanan terhadap AS-Israel di kawasan Timur Tengah. Hancurnya Suriah bakal berujung dengan penghancuran paru-paru dukungan logistik Iran terhadap kelompok-kelompok perlawanan seperti Hamas dan Jihad Islam.

Ketiga, mencuatkan permusuhan di antara umat Islam untuk mengalihkan perhatian mereka dari musuh yang sebenarnya, yakni Israel dan AS. Menumbuhkan pertentangan dan permusuhan antara Iran dan mayoritas Muslim dunia merupakan tujuan puncak AS-Zionis bekalangan ini agar umat yang sudah tertindas ini makin tercabik-cabik dan saling menghabisi.

Keempat, memberi legitimasi ketundukan rezim Arab dan Turki dengan cara memunculkan isu adanya konflik sektarian di antara umat. Tentu saja ini sebuah kekeliruan besar, lantaran pada dasarnya semua konflik di Timur Tengah bersifat politik. Karena, dalam kenyataannya, ada orang Sunni yang pro Zionis –demikian pula sebaliknya.

Sebagai contoh, Okab Saqr, anggota Parlemen Lebanon yang bermazhab Syiah, kini menjadi pendukung utama kelompok-kelompok pemberontak Suriah yang konon berjuang melawan rezim Suriah yang bermazhab Syiah. Ayyad Alawi yang merupakan ketua fraksi oposisi di Parlemen Irak juga politisi bermazhab Syiah yang sangat memusuhi Iran dan berkawan dekat dengan AS dan rezim-rezim Arab lain.

Kelima, mencampuradukkan antara gerakan-gerakan Islam yang benar-benar anti AS dan Israel dengan gerakan-gerakan Islam palsu bentukan AS yang tidak pernah melawan AS, seperti Fath Al-Islam dan Jund Sham.

Kesimpulannya, pemutarbalikan fakta soal siapa kawan dan siapa lawan dalam politik biasanya bertujuan untuk menyembunyikan kawan dan menyelamatkan lawan. Siapa saja yang berupaya memutarbalikkan fakta tentang Iran tidak bisa dianggap sebagai bersikap polos –melainkan memiliki agenda politik untuk mengacaukan peta pertarungan yang sebenarnya.