Label

Selasa, 17 Juni 2014

Ashura Moment

Kyai Sentot Ali Basya. 
Ashura Moment. 
Ashura Moment. 
Imam Husain Shrine. 
Hizbullah. 
 

Kamis, 12 Juni 2014

Saat Mossad Membunuh Ilmuwan Iran


Keterlibatan langsung agen mata-mata Israel (Mossad) dalam pembunuhan kelompok elit di negara-negara Timur Tengah mengemuka lagi setelah muncul laporan baru yang mengungkapkan peran langsung Mossad dalam pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Majid Shahriari. Menurut laporan yang diunggah ke website IranNuc.ir pada hari Rabu (5/1/11), agen mata-mata Israel memiliki catatan panjang dalam membunuh ilmuwan Muslim dan Arab dalam kolaborasi dengan rekan AS dan Inggrisnya (CIA dan MI6).

Laporan itu mengungkapkan nama beberapa ilmuwan Arab yang dibunuh oleh Mossad, termasuk Yahiya Amin Al Mashd dan Samireh Mousa (ilmuwan Mesir), Samir Najib, Nabil Al Qolaini, Nabil Ahmad Folayfel, Mostafa Ali Moshrefah (dikenal sebagai Einsteinnya dunia Arab), Jamal Hamdan, Saeed Sayyed Badir, Salvi Habib, Ramal Hassan Ramal (fisikawan Libanon), Hassan Kamel Sabbah (fisikawan Libanon yang dikenal sebagai Edisonnya dunia Arab).

Perhatian dunia terarah ke rencana teror Mossad untuk membunuh ilmuwan nuklir di dunia Islam setelah profesor Shahriari dibunuh oleh agen mata-mata Israel itu di Teheran akhir tahun 2010. Dua profesor universitas Iran, Fereidoon Abbasi Davani dan Majid Shahriari dibunuh dalam serangan bom teroris terpisah di Teheran pada tanggal 29 November.  Laporan media baru-baru ini mengatakan bahwa para pemimpin Mossad bertemu di Tel Aviv dan membahas operasi terbaru agensi di Teheran, termasuk pembunuhan Shahriari.

Profesor universitas dan ilmuwan nuklir Iran lainnya, Massoud Ali Mohammadi, juga dibunuh dalam serangan bom teroris di Teheran pada bulan Januari 2010. Di bulan Desember, ilmuwan muda nuklir Irak, Mohammad Al Fouz, ditembak mati di Baghdad oleh Mossad. Al Fouz telah merilis formula pengayaan uraniumnya yang baru di sejumlah jurnal Barat. 

 Maya Rubin Sang Agen Mossad

Selasa, 10 Juni 2014

Islam Persia di Dunia Eropa


Sejak dahulu kala, seni merupakan salah satu pintu memasuki jalinan hubungan antarbudaya. Para antropolog yang melakukan berbagai kajian dari peradaban manusia masa lampau menyebutnya dengan nama karya seni, yang memiliki kaitan erat dengan keyakinan yang dianut sebuah suatu suku, bangsa maupun masyarakat tertentu. Karya seni yang diproduksi berbagai negara dengan beragam budayanya masing-masing memiliki unsur estetis yang berbeda-beda pula. Untuk itu seni Iran, seni Cina, seni India dan seni Islam memiliki karakteristik tersendiri.

Ketika kita berbicara mengenai seni Islam, tidak diragukan lagi di benak kita muncul asumsi bahwa seni ini harus memiliki karakteristik Islam dan lahir dari prinsip-prinsip agama Islam dan budayanya. Namun para pakar seni estetika menggunakan kategori lain untuk menilai sebuah seni masuk kategori seni Islam atau tidak. Mereka menggunakan tema Arab atau Persia maupun seni yang lahir dari wilayah muslim dengan karakteristik budaya dan etnis bangsa-bangsa yang menghasilkan budaya baru.

Salah seorang pemikir yang mencurahkan perhatian terhadap perkembangan seni Islam adalah Titus Burckhardt. Pemikir kelahiran Florence, Italia ini melakukan berbagai riset mengenai seni di negara-negara Islam. Mengenai pengaruh ajaran Islam dalam tradisi seni Iran, pemikir Swiss ini menulis, "Seni Iran tidak dipengaruhi oleh seni Bizantium Romawi, bukan pula seni Arab, tapi seni Syiah Iran." Dengan demikian, menurut pemikir mazhab tradisionalis ini, seni Iran memiliki kaitan erat dengan ajaran Islam, yang berbeda diametral dengan seni periode sebelumnya. Berbagai karya seni Iran menunjukkan besarnya pengaruh pemikiran Islam di kalangan seniman Iran. 

Burckhardt mencurahkan seluruh hidupnya untuk penelitian dan eksposisi dari dimensi kebijaksanaan dan Tradisi Timur. Penulis terkemuka abad dua puluh ini adalah seorang kontributor tetap jurnal Studi Perbandingan Agama bersama dengan anggota terkemuka lain dari traditionalist school.

Lukisan Iran sepanjang sejarah menonjolkan semangat, moralitas dan mistis dengan mengadopsi pemikiran filosofis dan irfan Iran. Inilah alasan mengapa para pakar seni semacam Burckhardt menilai lukisan Iran dipengaruhi oleh pemikiran Timur dan sepenuhnya berbeda dengan lukisan Barat. Lukisan Iran tidak mengungkap material, namun menonjolkan esensi spiritual. Seniman lukis Iran mengungkap kesetiaannya terhadap pemikiran spiritual dan nonmateri. Untuk itu, ajaran agama Islam memiliki kedudukan khusus dalam seni lukis Iran.

Lukisan Iran tidak menonjolkan adanya bayangan maupun perspektif. Panorama dekat diletakkan lebih rendah, dan pemandangan jauh berada di bagian atas lukisan. Selain itu wajah yang dilukis secara berhadap-hadapan langsung. Lukisan dihiasi oleh berbagai pepohonan yang merupakan kekhususan lukisan Iran. Kini, pertanyaan yang muncul adalah, apakah karakteristik Timur yang nampak dalam lukisan Iran-Islam hanya terbatas di Iran saja, ataukah menembus ke belahan dunia lain ?

Mencermati sejarah perkembangan seni dunia, terutama di Eropa, kita akan menemukan jejak seni Islam-Iran dalam berbagai karya seni Eropa dan para pelukis yang memanfaatkan prinsip estetika seni Islam-Iran. 

Salah satu aliran seni yang dipengaruhi karya seni Islam-Iran adalah Art Nouveu (Seni baru). Aliran seni ini merupakan sebuah gaya seni yang menerapkan prinsip seni-terutama seni dekoratif -yang mencapai puncak popularitas di penghujung pergantian abad 20. 

Seni baru merupakan reaksi terhadap seni akademis abad ke-19 yang ditandai dengan motif tanaman organik, khususnya bunga dan lainnya, serta sangat bergaya, mengalir dan bentuk lengkungan. Art Nouveu dipengaruhi oleh motif seni Timur terutama Iran yang nampak pada seni arsitektur, lukis dan grafis.

Salah satu seniman terkemuka seni baru yang dipengaruhi oleh seni Iran-Islam adalah Louis Comfort Tiffany. Seniman Amerika kelahiran 1848 ini adalah desainer yang bekerja di seni dekoratif dan terkenal karena karyanya dalam kaca patri. Tiffany merancang jendela kaca patri dan lampu, mosaik kaca, kaca ditiup, perhiasan keramik, enamel dan logam yang memanfatkan motif seni timur terutama, Iran-Islam. 

Seniman yang getol menyuarakan gerakan estetika ini sejak kecil mengenal dengan baik berbagai karya seni Timur, dan memberikan apresiasi yang besar dan berupaya meneliti karakteristik yang tersembunyi di balik tampilan berbagai karya seni Iran-Islam. Kunjungan Tiffany ke Timur Tengah menimbulkan kekagumannya yang mendalam terhadap seni Timur terutama seni Iran-Islam. Masjid-masjid Islam di Spanyol dan lukisan keramik dinding dan batu-batu bangunan bersejarah Iran serta permadani Persia yang dirajut para seniman Iran meerupakan sumber inspirasi bagi karya-karya seninya. Ia mengakui bahwa kaca patri Iran dengan desain yang menarik serta lukisan dekoratif di dinding-dinding bangunan Iran memberikan pengaruh signifikan dalam karya-karyanya.

Seniman Eropa lainnya yang mengakui dipengaruhi seni Iran-Islam adalah William Morris. Pria kelahiran Walthamstow, London timur ini adalah seorang desainer tekstil Inggris, seniman sekaligus penulis. Morris menyumbangkan kontribusi besar untuk perkembangan seni dunia sebagai seorang desainer pola untuk wallpaper dan tekstil, dengan memanfaatkan panorama alam. Ia juga merupakan penyumbang utama terhadap kebangkitan seni tekstil tradisional dan metode produksi. Pada 1861, Morris mendirikan perusahaan desain dalam kemitraan dengan artis Edward Burne-Jones, dan penyair dan seniman Dante Gabriel Rossetti yang sangat mempengaruhi dekorasi gereja dan rumah-rumah awal abad 20.

Morris melakukan riset mengenai berbagai karya seni seperti permadani, tekstil, keramik serta gerabah Iran. Seniman Inggris ini mengagumi berbagai karya seni tersebut. Menurut Morris, permadani Iran merupakan satu-satunya penutup lantai yang terbaik, karena sebuah permadani senantiasa menjadi perhatian manusia.

Pada tahun 1877 dalam sebuah surat kepada temannya menulis, "Kemarin, saya menyaksikan sebuah permadani Iran warisan periode Shah Abbas Safavi dan saya sangat mengaguminya. Hingga kini saya tidak pernah menyaksikan karya seni seperti itu."

Henri Matisse termasuk deretan seniman terkemuka Eropa yang dipengaruhi oleh seni Iran dalam berbagai karyanya. Bersama dengan Picasso dan Marcel Duchamp, Matisse dipandang sebagai salah satu dari tiga seniman yang membantu menentukan perkembangan revolusioner dalam seni plastik di awal dekade abad ke-20, yang berpengaruh signifikan bagi perkembangan seni lukis dan patung. Seniman Perancis ini menggunakan warna asli dan cerah serta garis yang sederhana mengambil inspirasi dari seni Timur terutama seni Iran. Matisse berkeyakinan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di angkasa, pepohonan dan bunga. Bahkan keindahan bisa ditemukan dalam diri manusia. Seniman terkemuka Eropa ini menilai pemikiran, kesederhanaan dan kejelasan merupakan tingkatan tertinggi dan karakteristik manusia yang nampak jelas menjelma dalam karyanya.

Pada tahun 1903, Seni dekoratif Paris menggelar pameran karya seni Iran yang mempertemukan Matisse dengan berbagai karya seni Iran-Islam. Kemudian, Matisse melakukan kajian terhadap permadani dan lukisan Iran. Matisse dalam sebuah wawancara mengungkapkan, "Inspirasi saya senantiasa berasal dari Timur. Saya menemukan yang selama ini saya kaji dalam sebuah pameran seni Islam. Seni Iran menunjukkan semua kemungkinan efeksi saya. Seni ini dengan segala dekorasinya, mempersembahkan sebuah seni patung sejati."

Kemudian, Matisse menyaksikan lukisan Iran yang membuatnya terkagum-kagum. Hingga akhir hayatnya, seniman Perancis ini memanfaatkan inspirasinya dari seni Iran-Islam dengan menghasilkan karya-karya yang memukau. (IRIB/PH/NA)

Sabtu, 07 Juni 2014

Enam Anjuran Jika Saya Jadi Presiden




[1] Berhentilah menuntut ilmu, karena ilmu tidak bersalah
[2] Jangan membalas budi, karena belum tentu Budi yang melakukannya
[3] Jangan mengarungi lautan, karena karung lebih cocok untuk beras
[4] Berhentilah menimba ilmu, karena ilmu tidak ada di dalam sumur
[5] Yang paling penting: jangan lupa daratan! Karena kalau lupa daratan, kamu tinggal di mana?
[6] Jangan suka ngurusin orang lain, karena belum tentu orang lain ingin kurus. 


Kronik Sastra

Iklan, Resensi, dan Esai Tentang Mazmur Musim Sunyi. 

Jumat, 06 Juni 2014

Surat Senator Amerika Kepada Bashar al Assad


Sepucuk surat terbuka, dikirimkan senator AS dari Virginia, Richard H. Black, kepada Presiden Syria Bashar al-Assad. Di dalamnya, Black secara terus terang mengungkapkan kekaguman dan rasa terima kasihnya atas sikap dan tindakan pemerintah dan militer Suriah yang telah menjadi teladan bagi perjuangan heroik melawan kumpulan teroris takfiri asing berjubah Islam dukungan AS cs, sekaligus dalam melindungi rakyatnya. Berikut isi surat yang menggegarkan publik internasional itu.

Yang Terhormat
Presiden Bashar al-Assad

Saya menulis surat ini untuk berterima kasih pada Tentara Arab Syria atas penyelamatan heroiknya terhadap penduduk Kristen di Qalamoun Mountain Range. Saya sangat berterima kasih atas kemenangan spektakuler di Yabroud, di mana Angkatan Darat Arab dan Angkatan Udara Syria membebaskan warga Kristen dan warga Syria lainnya yang telah ditawan kumpulan teroris selama beberapa tahun.

Kami sangat memuji keterampilan dan keberanian yang ditampilkan tentara Suriah yang menyelamatkan 13 biarawati yang diculik dan digunakan sebagai perisai manusia oleh kumpulan jihadis pengecut di Yabroud.

Jelas, perang di Syria sebagian besar telah dikobarkan para penjahat perang durjana yang terkait dengan al-Qaeda. Kelompok-kelompok seperti al-Nusra dan Negara Islam Irak dan Levant (ISIS) secara rutin melakukan kejahatan perang sebagai suatu kebijakan resminya. Mereka dengan bangga memposting video YouTube yang menunjukkan eksekusi massal terhadap tawanan perang, memenggal kepala para ulama dan warga awam lainnya, dan bahkan berbuat kanibal. Di Aleppo, Juni lalu, al-Nusra sesumbar dengan memaksa seorang ibu untuk menonton saat mereka membunuh anaknya yang berusia 14 tahun dengan menembaknya melalui mulut dan leher. Sulit memahami, bagaimana setiap bangsa yang beradab dapat memaafkan tindakan kriminal haus darah tersebut.

Jelas, rakyat Syria sudah lelah menyaksikan tentara bayaran asing memasuki tanah mereka untuk memerangi mereka. Rakyat Anda korban aksi kriminal yang dilakukan kawanan jihadis, yang datang untuk memperkosa dan membunuh warga Syria yang tidak bersalah. Sekarang, bahkan beberapa media Barat melaporkan bahwa para pemberontak telah kalah perang--sehingga mereka putus asa.

Namun sampai hari ini, beberapa warga Amerika menyadari bahwa para pemberontak di Syria didominasi musuh utama kami, yaitu al- Qaeda. Mereka tidak tahu bahwa musuh-musuh Anda telah bersumpah setia terhadap organisasi yang sama yang, pada 11 September 2001, merempuh pesawat jet ke Pentagon dan Menara Kembar, menewaskan lebih dari 3000 warga Amerika yang tidak bersalah. Hari ini, para jihadis yang terkait dengan al-Qaeda menggunakan bom bunuh diri untuk membantai kaum perempuan dan anak-anak tak berdaya di negara Anda, sama seperti ketika mereka membantai warga sipil tak berdaya di sini.

Saya tidak dapat menjelaskan tentang bagaimana warga Amerika, yang begitu menderita di tangan al-Qaeda, tertipu untuk mendukung kumpulan jihad. Tapi saya juga tahu bahwa banyak pejabat AS yang tidak setuju dengan upaya mempersenjatai dan melatih para teroris yang menyusup ke perbatasan [negara] Anda dari Kerajaan Jordan dan melalui Turki.

Kemungkinan terburuknya, kumpulan pemberontak berhasil merebut ibukota dan mengibarkan bendera hitam al-Qaeda yang mengerikan di seluruh Damaskus. Untuk alasan itu, [permintaan] para pemberontak [agar diberi AS] senjata canggih ditolak mentah-mentah.

Para perencana militer tahu bahwa para teroris itu licik dan tidak dapat dipercaya. Tak ada yang dapat mencegah mereka menggunakan rudal anti-pesawat untuk menyerang pesawat sipil. Bila sampai menguasai gudang senjata Syria yang dilaporkan berisi 4000 MANPADS, para teroris itu dapat mengubah pesawat menjadi yang bola api di Bandara Dulles, Heathrow, dan LaGuardia, sehingga melumpuhkan penerbangan komersial di seluruh dunia. Membantu mereka melakukannya merupakan kegilaan yang tak terbayangkan.

Anda telah mengikuti praktik ayah Anda yang memperlakukan dengan penuh hormat seluruh warga Kristen dan komunitas kecil Yahudi di Damaskus. Anda melindungi gereja-gereja mereka dan sinagoga Yahudi, dan Anda telah mengizinkan mereka beribadah dengan bebas sesuai keyakinan mereka. Saya berterima kasih untuk itu.

Sebaliknya, di mana pun kumpulan pemberontak berkuasa, mereka bertindak tak ubahnya pencuri, penjahat, dan pengacau. Mereka memperkosa, menyiksa, menculik, dan memenggal kepala orang yang tidak bersalah. Mereka menajiskan gereja-gereja. Para teroris memberlakukan pajak "dzimmi" (menurut pemahaman cetek ala Wahhabi) yang menjijikkan terhadap warga Kristen dan Yahudi, memperlakukan mereka seperti binatang. Saya berdoa agar tentara Anda akan mengusir para jihadis itu dari Syria, sehingga warga Syria dari semua agama dapat hidup bersama dalam damai.

Sampai saat ini, saya terus berdoa agar angkatan bersenjata Syria terus menunjukkan kegagahannya yang luar biasa dalam perang melawan para teroris. Tolong sampaikan rasa terima kasih saya pribadi kepada Angkatan Darat dan Angkatan Udara Arab Syria atas upayanya selama ini dalam melindungi seluruh warga Syria yang patriotik, termasuk minoriti agama yang menghadapi kematian di tangan kumpulan jihadis asing.

Hormat saya,
Richard H. Black, Senator Virginia.

Harapan Petani Opium Taliban

(Para Petani Opium Taliban Sedang Mencuri Opium dari Perkebunan) 

Oleh Jonathan Power*

Sudah cukup tepat bila administrasi Obama berusaha untuk menekan negara-negara Eropa untuk menempatkan lebih banyak tentara di Afghanistan. Tapi juga, sudah cukup tepat bila negara-negara Eropa tidak ingin terlibat dalam perang ini – seperti yang pernah dilakukan Rusia di Afghanistan pada 1980-an atau seperti AS di Vietnam satu setengah dekade lalu. Tak ada yang lebih buruk daripada harus menyembunyikan belang dan menghadapi para pemilih dengan ribuan kematian yang tak perlu dari para pemuda mereka.

Jawaban terhadap paradoks ini adalah Eropa, dengan menggunakan kekuasaan dan tentara mereka, harus mau menangani masalah opium di Afghanistan.

Opium Afganistan menyediakan 90 persen heroin yang dijual di Eropa, sekaligus mendanai lebih dari 80 persen kegiatan Taliban.

Saya jadi ingat wawancara saya dengan Presiden Pervez Musharraf dua tahun lalu di Islamabad (diterbitkan di Prospect Magazine, Maret 2007). Dalam wawancara itu, ia menyarankan agar Barat memperkenalkan kebijakan agrikultur yang lazim digunakan Eropa dan Amerika untuk menangani masalah opium di Afghanistan yaitu membelinya dengan uang pemerintah.

“Membeli hasil panen opium adalah ide yang bisa digali”, katanya kepada saya, menjawab pertanyaan saya yang saya fikir agak provokatif sebetulnya. “Tapi, Pakistan tidak punya uang untuk itu. Kami akan memerlukan bantuan dari AS atau PBB. Dengan bantuan itu kita bisa membeli seluruh hasil panen dan memusnahkannya. Dengan cara itu para petani opium yang miskin itu tidak akan menderita.”

Membeli hasil panen opium Afghanistan mula-mula disarankan oleh Dewan Internasional untuk Keamanan dan Pembangunan (the International Council on Security and Development). Ide itu bisa memecahkan dua masalah sekaligus.

Pertama, itu akan mencegah para petani opium yang sebetulnya tak suka kepada Taliban untuk menjual barangnya ke kelompok tersebut untuk mendapatkan perlindungan dan menjadikan mereka sebagai pembeli dan penyalur. Kedua, hasil panen itu dapat membantu dunia, terutama negara-negara miskin di Asia dan Afrika yang sangat kekurangan suplai opium untuk medis.

Jutaan orang mati setiap tahun dalam rasa sakit yang luar biasa karena kekurangan obat pereda nyeri. Kematian sudah cukup buruk, tapi mati dengan rasa nyeri yang luar biasa merupakan hal yang paling mengerikan bagi manusia. India, Australia dan Turki (yang didorong untuk melakukan hal itu oleh orang-orang Amerika sejak 1974) merupakan negara-negara yang diizinkan untuk menanam opium di bawah pengawasan WHO. Negara-negara Barat membeli mayoritas hasil panen opium di nehgara-negara ini.

Ide ini memang masih problematis dari sisi praktis. Jika harga dipasang terlalu tinggi, ini mungkin akan mendorong lebih banyak petani menanam pohon opium. Di samping itu, betapapun tinggi harganya, beberapa ekonom pertanian PBB berpendapat bahwa para penyelundup bisa membayar lebih tinggi dari pada pemerintah karena mereka tahu bahwa mayoritas pengguna jasa mereka– yakni para pecandu – akan tetap membelinya. Tapi jika harga yang ditetapkan tidak cukup tinggi, para petani akan tetap menjual, setidaknya sebagian dari hasil panennya, di pasar gelap. Meski demikian, bahkan jika pun harus membayar harga yang lebih tinggi, biaya program ini tetap lebih murah dibandingkan biaya menyediakan pasukan baru dan meningkatnya perang.

Kalkulasi ini memang mengabaikan sifat manusia, terutama mereka yang tinggal di negara Muslim yang menempatkan agamanya dalam posisi penting. Setiap orang di sini– termasuk Taliban yang dulu anti obat terlarang – tahu bahwa narkotika sangat dilarang oleh ajaran Islam tradisional. Hanya keputus-asaan yang mendorong sebagian besar petani untuk menanam opium.

Jika faktor ini dipertimbangkan, petani tentu saja lebih suka menjual panen mereka ke agensi pemerintah dengan, katakanlah, harga yang lumrah berlaku saat ini. Mereka malah akan lebih senang, jika tahu bahwa produk mereka akan membantu orang-orang yang sedang sakit.

Sartaj Aziz, seorang pakar pertanian terkemuka dan mantan menteri pertanian dan keuangan Pakistan, menulis kepada Prospect Magazine mengatakan bahwa dia menyukai ide membeli hasil panen dan itu harus diuji pada basis eksperimen di salah satu area pertanian opium Afghanistan.

Saya mendiskusikan banyak hal mengenai isu ini dengan Jenderal Musharraf dan responnya adalah, “Mari kita analisa, hitung dan lihat apakah ini bisa dilakukan.”

Artikel di New York Times pekan lalu yang ditulis oleh Bernd Debusmann menyebutkan bahwa dalam James Nathan, mantan pejabat Departemen Dalam Negeri, dalam makalahnya yang akan terbit mengatakan bahwa biaya total program semacam itu bisa menghabiskan paling banyak 2,5 milyar dolar setiap tahunnya – jumlah ini tentu tak ada artinya jika dibandingkan dengan 200 milyar dollar yang telah dikeluarkan AS untuk perang itu (belum termasuk kontribusi NATO).

Kebijakan semacam itu akan jauh lebih efektif dalam melemahkan Taliban dan Al Qaeda dibandingkan sebanyak apapun pasukan baru yang dikirimkan untuk memerangi mereka. Tapi biarkan sebagian pasukan itu datang untuk membantu pembelian hasil panen, memastikan tidak ada rahasia dan pengalihan perhatian yang tidak resmi serta untuk menjaga wilayah-wilayah yang sedang panen. Presiden AS Barack Obama telah meminta ide-ide baru untuk menyelesaikan masalah-masalah dunia yang tampaknya begitu sulit diselesaikan. Ini dia salah satunya.

* Jonathan Power adalah veteran komentator hubungan luar negeri yang tinggal di London. Artikel ini didistribusikan oleh Kantor Berita Common Ground (CGNews) dengan izin dari The Khaleej Times dan bisa diakses di www.commongroundnews.org.

(Sumber: Khaleej Times, 9 Februari 2009, www.khaleejtimes.com telah memproleh izin untuk publikasi) 

Petani Opium Taliban Sedang Memanen Opium