Label

Jumat, 16 September 2016

Penulis dan Menulis



oleh Sulaiman Djaya (penyair dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

Jangan berkata kepadaku tentang bulan purnama, tapi perlihatkanlah padaku kilatan cahaya pada pecahan kaca jendela” (Anton Chekhov, pujangga Rusia)

Salah satu tugas “penulis” –entah penyair, novelis, cerpenis (atau kapasitas ketiganya yang menyatu dalam satu orang) adalah untuk mengungkap kemungkinan–kemungkinan baru dari sebuah pemahaman. Seorang penulis harus menjangkau bentuk-bentuk baru dari pemahaman dengan karya-karya dan tulisan-tulisannya, semacam memberikan wacana dan diskursus alternatif yang sebelumnya tidak dilihat dan tidak dipikirkan mereka yang bukan penulis.

Dalam hal ini, menulis adalah masalah mengeksplorasi makna, horizon baru yang selama ini tidak dipikirkan mereka yang bukan penulis. Karena itulah, acapkali karya-karya sastra mampu melahirkan wawasan baru dan pandangan-pandangan alternatif yang tidak disentuh dan dipikirkan para ilmuwan, misalnya, oleh para pengamat politik dan yang sejenisnya, dan karena itulah, bersama filsafat, para filsuf menyebut sastra sebagai ‘ibunya’ sains dan ilmu pengetahuan.

Dan hal lainnya adalah sudut pandang, yang mana sudut pandang akan menentukan suatu ‘identitas’ dari ‘yang memandangnya’. Suatu subjek dapat dipandang secara berbeda tergantung kepentingan dan perspektifnya. Sebagai contoh: seekor kuda bagi seorang ahli biologi adalah binatang mamalia yang memiliki surai yang berbeda dengan sapi, kerbau, dan binatang lainnya.

Tetapi bagi seorang penulis, seekor kuda akan dilihat dalam konteks yang beragam dan dalam kadar eksistensial. Kuda yang dibayangkan sebagai makhluk hidup yang konkrit, yang menarik pedati, yang menjadi sahabat seorang ksatria, yang mengalami kelelahan dalam perjalanan menuju medan perang, dan lain sebagainya.

Demikianlah, seorang seniman legendaris, Vincent Van Gogh, melukis sepasang sepatu petani, tetapi sepatu yang dilukisnya itu tidak ia pahami sebagai benda mati, melainkan sepatu yang telah menjalani hari-hari melelahkan bersama seorang petani yang memakainya, sepatu yang mengisahkan riwayat hidup petani itu sendiri.

Seorang penulis, entah ia seorang penyair, novelis, cerpenis (atau kapasitas ketiganya dalam satu orang) mestilah mahir dalam mengisahkan, menarasikan, mewacanakan, memainkan, dan mendadarkan sebuah sudut pandang yang sebelumnya tidak dipikirkan oleh mereka yang bukan penulis atau oleh penulis sebelumnya.

Sudut pandang inilah yang akan turut menentukan apakah Anda seorang penulis yang berhasil atau sebaliknya. Sudah banyak penulis hebat yang melahirkan karya-karya hebat sebelum Anda, dan karena itu, Anda dapat menawarkan materi yang sesuai jaman atau mengeksplorasi bentuk dan eksperimentasi narasi itu sendiri, atau yang juga disebut strategi literer.

Pelajaran pertama seorang penulis adalah menuliskan dan menarasikan apa yang akrab dengan dirinya. Dengan pengalaman, perasaan, dan kehidupannya sendiri. Sebagai contoh, para penulis hebat dikenal sebagai para narator ulung yang mengisahkan dirinya sendiri, yang acapkali sebenarnya bersifat personal dan eksistensial......


kehidupannya sendiri, kesekitarannya sendiri, segala yang akrab dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai kejujuran. Tuliskan apa yang Anda rasakan, Anda pikirkan, Anda alami dalam hidup Anda. Terminal pemberangkatan pertama menulis adalah kehidupan dan kesekitaran Anda sendiri. Top of Form