Label

Jumat, 02 Desember 2016

Apa Syi'ah Itu?



Belakangan ini, seiring merebaknya media-media internet dan situs-situs yang hobi menyebar berita palsu (hoax), hasutan, dan fitnah, banyak orang yang bertanya saja keliru. Alih-alih malah hanya doyan menuduh tanpa hujjah & ‘ilmu, contohnya dalam kasus Syi’ah. Seorang yang benar dalam bertanya, contohnya dalam masalah Syi’ah, mestinya akan bertanya:

[1] Apa Syi’ah itu secara bahasa? [2] Apa pengertian Syi’ah itu secara teologis, dan [3] Kepada siapa sajakah sebutan Syi’ah itu dimaksudkan?

Maka, jika pertanyaan-pertanyaannya benar, seperti yang dicontohkan, (ini sebagai misal saja), akan didapat jawaban, PERTAMA:

Syi’ah secara bahasa berasal dari Al-Qur’an: ….. وإن من شيعته لإبراهيم

“Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh)” (QS. Ash-Shaaffaat: 83). Jika kita membaca ragam kitab tafsir, umumnya akan dikatakan bahwa kata “Syi’ah” dalam ayat tersebut artinya atau memiliki arti dan pengertian sebagai “golongan”, “penerus”, “penolong”, “pengikut”, dan “pembela” (Silahkan bandingkan dengan ayat yang ada dalam Surah Al-Baqarah ayat 15….هذا من شيعته وهذا من عدوه) = Hadza min Syi’atihi (Dan ini dari Syi’ahnya Musa) wa hadza min ‘aduwwihi (dan ini dari musuhnya Musa as).

Syi’ah di sana (dalam Surah As-Shaffat ayat 83) berarti sebuah kelompok atau seseorang yang meneruskan agama atau “iman”-nya Nabi Nuh as –di mana yang dimaksud secara khusus dalam Surah As-Shaffat ayat 83 tersebut adalah Nabi Ibrahim as, sedangkan Syi’ah dalam Surah Al-Baqarah ayat 15 adalah ‘golongan’, ‘ummat’, dan ‘pengikut’ nabi Musa as. Maka dikatakan bahwa Ibrahim as adalah Syi’ah-nya Nuh as.

KEDUA (Secara teologis, siapa peletak dasar Syi’ah?): Orang yang pertama memberikan nama Syi’ah kepada para pengikut Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib as adalah Rasulullah Saw dan ia pula sebagai peletak dasar batu fondasinya serta penanam benihnya, sedangkan orang yang mengukuhkannya adalah Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib as. Semenjak saat itu, para pengikut ‘Ali dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali bin Abi Thalib.

Ibn Khaldun berkata di dalam Muqaddimah-nya, “Ketahuilah! Sesungguhnya Syi’ah secara bahasa artinya adalah sahabat dan pengikut. Dan di dalam istilah para fuqaha dan ahli kalam, dari kalangan salaf dan khalaf, sebutan Syi’ah ditujukan kepada para pengikut ‘Ali dan anak keturunannya.”

Dan di dalam Khuthathu Syâm, karya Muhammad Kurd ‘Ali, cukuplah sebagai hujjah tentang penamaan istilah Syi’ah. Ia secara tegas berkata bahwa Syi’ah adalah sekelompok dari golongan sahabat Rasulullah Saw yang dikenal sebagai Syi’ah ‘Ali. Muhammad Kurd’ Ali berkata, “Adapun sebagian penulis yang berpandangan bahwa mazhab Tasyayyu’ (Syi’ah) adalah ciptaan ‘Abdullah bin Saba’, yang dikenal dengan Ibn As-Sauda’, maka itu merupakan khayalan belaka dan sedikitnya pengetahuan mereka tentang mazhab Syi’ah.”

Di dalam Tafsir Al-Qurthubi diriwayatkan: Sesungguhnya Rasulullah saw tatkala berada di Ghadir Khum beliau menyeru manusia, maka mereka pun berkumpul. Lalu Rasulullah saw mengangkat tangan Ali as seraya berkata, ‘Barangsiapa yang aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali sebagai pemimpinnya’.

Berita itu pun tersebar ke seluruh pelosok negeri, dan sampai kepada Harits bin Nukman Al-Fihri. Lalu dia mendatangi Rasulullah saw dengan menunggang untanya. Kemudian dia menghentikan untanya dan turun darinya. Harits bin Nukman Al-Fihri berkata:

“Hai Muhammad, kamu telah menyuruh kami tentang Allah, supaya kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa kamu adalah utusan-Nya, dan kami pun menerimanya.

Kamu perintahkan kami untuk menunaikan salat lima waktu, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk menunaikan zakat, dan kami pun menerimanya. Kamu perintahkan kami untuk berpuasa di bulan Ramadhan, dan kami pun menerimanya.

Kamu perintahkan kami untuk melaksanakan ibadah haji, dan kami pun menerimanya. Kemudian kamu tidak merasa puas dengan semua ini sehingga kamu mengangkat tangan sepupumu dan mengutamakannya atas kami semua dengan mengatakan ‘Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya maka inilah Ali pemimpinnya’. ‘Apakah ini dari kamu atau dari Allah?’

Rasulullah saw menjawab: Demi Allah yang tidak ada Tuhan melainkan Dia, sesungguhnya ini berasal dari Allah SWT.

Mendengar itu Harits bin Nukman Al-Fihri berpaling dari Rasulullah saw dan bermaksud menuju ke kendaraannya sambil berkata, ‘Ya Allah, seandainya apa yang dikatakan Muhammad itu benar maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih.’

Maka sebelum Harits bin Nukman Al-Fihri sampai ke kendaraannya tiba-tiba Allah menurunkan sebuah batu dari langit yang tepat mengenai ubun-ubunnya dan kemudian tembus keluar dari duburnya, dan dia pun mati.

Kemudian Allah SWT menurunkan firman-Nya: Seorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi. Untuk orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya.

KETIGA (Siapakah sajakah Syi’ah Ali itu?): Selain tokoh-tokoh inti sahabat Rasulullah, semisal Abu Dzar Al-Ghifari, Salman Al-Farisi, Miqdad, Ammar, Hudzaifah Al-Yamani, Hasan bin Tsabit, Usamah bin Zaid, masih banyak lagi tokoh-tokoh Syi’ah lainnya di kalangan para sahabat, seperti Malik Al-Asytar, Utsman bin Mazh’un, Umar bin Abi Salamah, Muhammad bin Abu Bakar bin Quhafah (dan masih banyak lagi lainnya), juga banyak tokoh-tokoh Syi’ah yang tersebar dalam ragam bidang dan domain (dari kalangan para sahabat dan tabi’in), antara lain

[1] Abdullah ibn Abbas. Ia adalah orang pertama dari kaum Syi’ah yang mendiktekan tafsir Al-Qur’an. Seluruh ulama Syi’ah (dan sejumlah Ulama Sunni) telah mengungkapkan fakta dan memberikan kesaksian mereka atas ke-Syiahan Ibn Abbas (wafat 67 Hijriah), yang mana menjelang wafatnya, beliau berikrar di dalam doanya; “Ya Allah, sungguh aku memohon kedekatan diriku kepadamu dengan kesetiaanku pada kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib”.

[2] Jabir ibn Abdullah Al-Anshari; (wafat 70 Hijriah) berada di jajaran pertama dari silsilah kedudukan para mufassir.

[3] Abdullah Bin Mas’ud.


[4] Ubay bin Ka’ab bin Qais Al-Anshari, yang pertama menyusun Fadhailul Qur’an (Keutamaan-keutamaan Al-Qur’an), dan masih banyak lagi.

Kamis, 17 November 2016

Album Fotografi Sulaiman Djaya

Memotret Senja di Halaman Rumahku (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016). 
 Jalan Menuju Rumahku (Kragilan, Serang, Banten 16 November 2016)
Memotret Wajah Industri dari Kejauhan (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016) 
Cahaya Bola Lampu di Halaman Rumahku (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016) 
Lanskap Malam di Belakang Rumahku (Kragilan, Serang, Banten) 
Jalan Setapak Masa Kanakku (Kragilan, Serang, Banten 16 November 2016) 
Senja dan Lampu di Halaman Rumahku (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016) 
Pematang Sawah di Belakang Rumahku (Kragilan, Serang, Banten 18 November 2016) 
Cahaya Bola Lampu di Belakang Rumahku (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016) 
Lanskap Malam di Depan Rumah (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016) 
Lanskap senja di depan rumahku (Kragilan, Serang, Banten 17 November 2016)
Lanskap Malam di Depan Rumah (Kragilan, Serang, Banten 16 November 2016) 
Cahaya Matahari di Pematang Sawah (Kragilan, Serang, Banten 16 November 2016)



Jumat, 16 September 2016

Penulis dan Menulis



oleh Sulaiman Djaya (penyair dan Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Banten)

Jangan berkata kepadaku tentang bulan purnama, tapi perlihatkanlah padaku kilatan cahaya pada pecahan kaca jendela” (Anton Chekhov, pujangga Rusia)

Salah satu tugas “penulis” –entah penyair, novelis, cerpenis (atau kapasitas ketiganya yang menyatu dalam satu orang) adalah untuk mengungkap kemungkinan–kemungkinan baru dari sebuah pemahaman. Seorang penulis harus menjangkau bentuk-bentuk baru dari pemahaman dengan karya-karya dan tulisan-tulisannya, semacam memberikan wacana dan diskursus alternatif yang sebelumnya tidak dilihat dan tidak dipikirkan mereka yang bukan penulis.

Dalam hal ini, menulis adalah masalah mengeksplorasi makna, horizon baru yang selama ini tidak dipikirkan mereka yang bukan penulis. Karena itulah, acapkali karya-karya sastra mampu melahirkan wawasan baru dan pandangan-pandangan alternatif yang tidak disentuh dan dipikirkan para ilmuwan, misalnya, oleh para pengamat politik dan yang sejenisnya, dan karena itulah, bersama filsafat, para filsuf menyebut sastra sebagai ‘ibunya’ sains dan ilmu pengetahuan.

Dan hal lainnya adalah sudut pandang, yang mana sudut pandang akan menentukan suatu ‘identitas’ dari ‘yang memandangnya’. Suatu subjek dapat dipandang secara berbeda tergantung kepentingan dan perspektifnya. Sebagai contoh: seekor kuda bagi seorang ahli biologi adalah binatang mamalia yang memiliki surai yang berbeda dengan sapi, kerbau, dan binatang lainnya.

Tetapi bagi seorang penulis, seekor kuda akan dilihat dalam konteks yang beragam dan dalam kadar eksistensial. Kuda yang dibayangkan sebagai makhluk hidup yang konkrit, yang menarik pedati, yang menjadi sahabat seorang ksatria, yang mengalami kelelahan dalam perjalanan menuju medan perang, dan lain sebagainya.

Demikianlah, seorang seniman legendaris, Vincent Van Gogh, melukis sepasang sepatu petani, tetapi sepatu yang dilukisnya itu tidak ia pahami sebagai benda mati, melainkan sepatu yang telah menjalani hari-hari melelahkan bersama seorang petani yang memakainya, sepatu yang mengisahkan riwayat hidup petani itu sendiri.

Seorang penulis, entah ia seorang penyair, novelis, cerpenis (atau kapasitas ketiganya dalam satu orang) mestilah mahir dalam mengisahkan, menarasikan, mewacanakan, memainkan, dan mendadarkan sebuah sudut pandang yang sebelumnya tidak dipikirkan oleh mereka yang bukan penulis atau oleh penulis sebelumnya.

Sudut pandang inilah yang akan turut menentukan apakah Anda seorang penulis yang berhasil atau sebaliknya. Sudah banyak penulis hebat yang melahirkan karya-karya hebat sebelum Anda, dan karena itu, Anda dapat menawarkan materi yang sesuai jaman atau mengeksplorasi bentuk dan eksperimentasi narasi itu sendiri, atau yang juga disebut strategi literer.

Pelajaran pertama seorang penulis adalah menuliskan dan menarasikan apa yang akrab dengan dirinya. Dengan pengalaman, perasaan, dan kehidupannya sendiri. Sebagai contoh, para penulis hebat dikenal sebagai para narator ulung yang mengisahkan dirinya sendiri, yang acapkali sebenarnya bersifat personal dan eksistensial......


kehidupannya sendiri, kesekitarannya sendiri, segala yang akrab dengan dirinya sendiri. Itulah yang disebut sebagai kejujuran. Tuliskan apa yang Anda rasakan, Anda pikirkan, Anda alami dalam hidup Anda. Terminal pemberangkatan pertama menulis adalah kehidupan dan kesekitaran Anda sendiri. Top of Form