Label

Sabtu, 15 Februari 2014

Ragam Kronik

Foto dari Sayyid Wisam Muhsin Syarafuddin (Kanan) yang dikenal dengan sebutan Sayyid Nashrullah komandan muda Hizbullah yang gugur saat menjaga Haram Sayyidah Zainab sa dari serangan kelompok teroris dengan menampakkan wajah yang berseri-seri sembari tersenyum kamis malam [28/11] dan di sekitar Damaskus, tersebar pula foto dari salah satu komandan Jabhah al Nusrah (Kiri), salah satu kelompok teroris yang paling berpengaruh di Suriah yang disokong Israel, Amerika, dan Rezim Saud (Wahabi), yang bernama Abu Umar. Mayatnya ditemukan di kawasan Al Qasir oleh tentara Suriah setelah membebaskan kawasan tersebut dari penguasaan teroris. Mayat Abu Umar ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan. Menurut kesaksian warga setempat, Abu Umar ditinggalkan begitu saja oleh pasukannya sendiri. 
Siapakah Gita Wiryawan? 
(Wisdom) 
Ukhuwah 

Jumat, 14 Februari 2014

Zarathustra dan Monoteisme


Zoroaster adalah agama yang bersumber pada ajaran seorang Nabi dan filsuf yang dikenal sebagai Zarathustra atau Zoroaster di Persia kuno. Saat ini terdapat sekitar 150.000 pengikut Zoroastrianisme di seluruh dunia yang terutama tinggal di India dan Iran. Seperti agama-agama monoteistik lainnya, Zoroastrianisme menegaskan bahwa hanya ada satu pencipta. Zoroaster atau Zarathustra mengajarkan tentang satu Tuhan pencipta yaitu Ahura Mazda yang berarti “Tuhan Kebijaksanaan.” Politeisme atau penyembahan banyak dewa sebelumnya merupakan kepercayaan umum di Persia pada masa Zoroaster. Kepercayaan Zoroastrianisme meyakini ada dua energi yang berlawanan dalam pikiran setiap orang. Energi positif disebut Spenta Mainyu dan menciptakan kebaikan, sedangkan energi negatif, Angra Mainyu, menciptakan kejahatan sehingga mencegah dunia menjadi sempurna. Zoroaster mengajarkan bahwa semua orang bebas memilih antara Spenta Mainyu dan Angra Mainyu, dan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Dengan tindakan mereka, pengikut Zoroastrianisme percaya bahwa mereka dapat membuat diri mereka menjadi sempurna. 


Sabtu, 08 Februari 2014

Barat, Amerika, dan Israel Adalah Aktor Utama Perang di Suriah




Oleh Efrizal Malalak, MA

Gelombang kemarahan Rakyat Arab terhadap penguasanya terus bergulir. Satu persatu penguasa diktator di tanah Arab bertumbangan. Dimulai dari Tunisia, Libya, Mesir dan merambat ke Yaman dan Suriah. Saat ini penguasa Arab  yang bergelar Amir pun deg-degan, jangan-jangan gelombang tsunami perubahan itu menjangkiti rakyatnya. Bisa-bisa kekuasaan copot atau lebih ngeri lagi nyawa sendiri yang melayang, seperti yang dialami Muammar Khadafi.

Siapa sangka Arab yang dahulunya adem ayem karena kemakmuran yang melimpah, kini membara. Tentu jadi pertanyaan bagi kita, apa sebenarnya yang diinginkan rakyat Arab tersebut? Terutama dalam hal ini di Suriah. Kalau melihat sejarah negara Suriah, merupakan negara terkuat di Timur Tengah dari segi militer. Negara ini juga salah satu, di samping Iran, yang mendukung kemerdekaan Palestina. Suriah juga negara yang berani menentang hegemoni Amerika di dunia. Suriah juga lah yang berani berperang dengan Israel. Di samping itu Suriah pula yang mensubsidi kelompok perlawanan Hizbullah yang sangat anti dengan Israel.

Suriah sebagai negara terkuat Militernya di kawasan Timur Tengah tidak terlepas bantuan dari Rusia. Suriah juga menjalin hubungan yang baik dengan Iran. Kekuatan militer Suriah jelas ditakuti oleh musuh-musuhnya, terutama Israel. Tidak dipungkiri Israel telah lama dianggap musuh bersama oleh Arab akibat penjajahannya di Palestina. Dengan dukungan Rusia di belakang  Suriah, jelas bahwa Suriah adalah ancaman serius bagi Israel. Kondisi ini disadari betul oleh Israel. Bagaimana tidak kekuatan militer Suriah dan Iran yang secara nyata mengungkapkan permusuhannya dengan Israel, jelas menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan negara Israel.

Dengan memanfaatkan momentum tsunami reformasi dari Tunisia, Libiya dan Mesir, Israel mencoba menggoyang kekuasaan Presiden Suriah Bashar al Assad. Kita tahu bagaimana canggihnya agen rahasia Israel, Mossad bekerja. Suriah yang dulu negeri aman, bahkan pengakuan presidennya sendiri, kalau pergi ke pasar beliau tidak pernah dikawal. Artinya dia aman berada di tengah rakyatnya sendiri.  Namun, dalam sekejab kondisi ini berubah. Rakyatnya sebagian berusaha menggulingkannya. Seruan berdialog dari presiden Bashar tidak diindahkan para pemberontak tersebut. Aneh..! Tawaran perdamaian ditolak. Agen intelijen Israel telah bermain. Isu-isu negatif tentang keluarga presiden dihembuskan. Lobi-lobi Israel di Barat berhasil menggalang dukungan  untuk mengumpulkan senjata bagi pemberontak Suriah. Inggris dan Prancis serta Amerika dengan suka rela memberikan senjata cuma-cuma kepada pemberontak. Ini serupa dengan tindakan Amerika membagikan senjata kepada PRRI tahun 1958-1960 saat memberontak kepada presiden Soekarno. Sekali lagi Barat mengobarkan pertumpahan darah di tanah Arab.

Para pemberontak Suriah tidak menyadari kalau mereka telah dijadikan pioner untuk masuknya kepentingan Barat. Berbagai senjata yang diterima oleh pemberontak Suriah, sebenarnya tidak gratis. Sebab tujuan Barat jelas, bahwa ada agenda ekonomi dan politik dalam pemberian senjata tersebut. Barat memiliki Hiden Agenda” di Suriah. Hanya orang yang berpikir jernihlah yang bisa menangkap itu. Pikiran picik sebagian warga Suriah telah membutakan mereka akan tujuan Barat tersebut.

Pesiden Bashar al Assad sampai saat ini masih bertahan. Dia berupaya menggalang dukungan dari Rusia dan Iran. Kedua negara ini sudah menyiapkan dukungannya. Di tingkat PBB Rusia berupaya menggagalkan upaya Barat menjatuhkan sanksi kepada Suriah dan Iran juga siap mengirimkan tentaranya ke Suriah. Ini benar-benar sebuah percaturan politik internasional. Presiden Bashar al Assad tidak ingin negaranya terkoyak-koyak dan hancur. Untuk itu dia berupaya secepat mungkin memadamkan pemberontakan tersebut. Barat pun seolah-olah berpacu dengan waktu tidak ketinggalan menyuplai senjata dan dana kepada pemberonak.

Di sinilah letak peran Israel. Kekuatan intelijennya benar-benar bekerja. Israel sekarang menunggu jatuhnya rezim Basahr al Assad. Israel yang memantik api, namun Baratlah yang mengobarkan api. Barat pula lah yang menyuplai bantuan yang dibutuhkan pemberontak. Kepentingan Barat jelas sumber minyak di Suriah. Kepentingan Israel adalah meminimalisir musuh-musuhnya di Timur Tengah.

Suriah sebagai salah satu negara Arab perlu ditolong oleh negara yang serumpun dengannya. Perlu mereka sadari bersama, bahwa Arab harus bersatu melawan kehendak Barat, yang bertindak seperti lakon Koboy di Irak, Libya dan Suriah. Barat melihat Arab tidak lebih dari minyak yang sangat berlimpah. Hasrat itulah yang membuat mereka untuk menguasai Arab.

Arab tidak bisa memainkan kunci minyak yang berada di tangan mereka tersebut. Tapi justru merekalah yang didikte oleh bangsa yang membutuhkan minyak mereka. Kegagalan Arab untuk memainkan senjata ampuh mereka tiada lain disebabkan oleh ketidak-kompakkan negara-negara Arab dalam menghadapi hegemoni Eropa dan Amerika atas mereka. Politik pecah belah menjadikan mereka sulit menyamakan persepsi sesamanya. Sehingga mereka begitu mudahnya takluk secara diplomasi dan militer bila berhadapan dengan Israel dan Amerika. Bukan musuh mereka yang kuat, tetapi mereka (Arab) yang tidak bersatu untuk membulatkan perjuangan mereka. Bila persatuan yang tidak ada, maka akan susah untuk mencapai cita-cita. Bangsa Indonesia juga sudah merasakan, bagaimana persatuan sangat diperlukan merebut keinginan untuk merdeka dari penindasan asing. Tanpa itu kita tidak pernah merasakan kemerdekaan pada hari ini.  

Benjamin Netanyahu (PM Israel) mengunjungi FSA dan Al Qaeda yang menerima perawatan di rumah sakit Israel

Jumat, 07 Februari 2014

Namaku Rachel Corrie




Oleh Sekna Nenava

Akhir-akhir ini nama Rachel Corrie kembali mencuat ke permukaan, setelah beberapa tahun yang lalu, kematiannya seperti ditelan bumi. Berbaring telentang mengenakan jaket oranye, Corrie yang ketika itu masih berusia 23 tahun mencoba menghentikan buldozer Israel yang hendak menghancurkan sebuah rumah warga Palestina. Tapi apa lacur, tentara Israel ketika itu tak mau berhenti dan dengan santainya melindasCorrie , tubuhnya pun sudah sulit dikenali. Israel menyebutnya sebagai tindakan bodoh dan pantas mati, sementara Amerika – tanah tempat kelahirannya – menuduhnya sebagai teroris. Di bawah ini petikan biografi singkat tentangRachel Corrie.

Sebelum menjadi simbol perlawanan terhadap pendudukan Israel, Rachel Corrie hanya gadis biasa asal Olympia, Amerika Serikat.

Mahasiswi Evergreen State College ini cuti setahun dari kuliahnya, bergabung dengan Gerakan Solidaritas Internasional (ISM), lalu terbang ke Gaza pada 22 Januari 2003.

Di markas ISM Tepi Barat, Corrie menjalani pelatihan selama dua hari. Dalam pelatihan tersebut, Corrie mendapatkan pelajaran tentang cara-cara menghindari cedera ketika berdemo, menggunakan jaket ngejreng, tidak berlari, tidak ketakutan, berkomunikasi dengan menggunakan megafon, dan memastikan keberadaannya diketahui Israel saat melakukan aksi.

Dalam salah satu surat elektronik yang ditujukan untk keluarganya, Rachel Corrie mengungkapkan, sebenarnya dia masih ingin berdansa, punya pacar, dan membuat komik. Tapi Corrie tak bisa diam dan bersenang-senang sementara di belahan dunia lain orang-orang menderita. Dia merasa bertanggung jawab.

“Jika aku terdengar gila, atau jika militer Israel tak lagi punya lagi kecenderungan melukai orang kulit putih. Tolong diingat, aku berada di tengah sebuah genosida, dimana aku secara tak langsung ikut bertanggung jawab — karena pemerintahku (AS) bertanggung jawab besar atas apa yang saat ini terjadi,” kata Rachel Corrie dalam email ke ibunya, 27 Februari 2003, seperti dimuat laman Guardian.

“Aku bermimpi buruk tentang tank-tank dan buldozer….”

“Di sini aku menjadi saksi dari situasi yang kronis, genosida tersembunyi, dan aku takut……Tapi, ini harus dihentikan. Hal yang baik jika kita mau menanggalkan apapun dan mengorbankan jiwa kita untuk menghentikannya.” 


Rabu, 05 Februari 2014

Sejarah IMF dan AIPAC




IMF dikendalikan oleh Dewan Gubernurnya, yang juga merupakan kepala bank-bank sentral yang berbeda atau kepala departemen-departemen bendahara bermacam-macam negara yang dikuasai oleh bank-bank sentral mereka. Kekuatan pemungutan suara di IMF juga memberikan Amerika Serikat dan Inggris (Federal Reserve dan Bank of England – kedua-duanya dikuasai Kelurga Rothschild) kendali penuh atas dirinya.

1948: Pada musim semi tahun ini Keluarga Rothschild menyogok Presiden Harry S. Truman (Presiden ke-33 Amerika Serikat, 1945-1953) untuk mengakui Israel sebagai negara berdaulat dengan 2 juta Dollar yang mereka berikan padanya untuk rangkaian kampanyenya.

Pada tengah malam 14 Mei 1948, negara Israel secara resmi diproklamirkan di Tel Aviv, sebelas menit kemudian Presiden Truman menyatakan Amerika Serikat sebagai negara asing pertama yang mengakuinya.

1963: Pada 22 November, Presiden John F. Kennedy dibunuh oleh Keluarga Rothschild. Mungkin di antara alasan yang utama dibunuhnya Kennedy adalah fakta bahwa dia memastikan kepada Perdana Menteri Israel, David Ben-Gurion, bahwa dalam keadaan apapun dia tidak akan setuju Israel menjadi negara nuklir. Surat kabar Israel, Ha'aretz, pada tanggal 5 February 1999 dalam sebuah ulasan tentang sebuah buku Avner Cohen yang berjudul "Israel and the Bomb", menyatakan:

"Pembunuhan Presiden Amerika John F. Kennedy mendadak mengakhiri tekanan besar yang diterapkan oleh Pemerintah Amerika terhadap Pemerintah Israel untuk menghentikan program nuklir. Buku ini menyiratkan bahwa kalau Kennedy tetap hidup, diragukan apakah Israel dewasa ini bisa membuat nuklir".

1973: Pada 15 April, Senator Demokrat dari Arkansas, J. William Fulbright, menyatakan hal berikut ini di televisi CBS, sehubungan dengan kekuatan Yahudi di Amerika:

"Senat Amerika Serikat tunduk kepada Israel, Israel mengendalikan Senat. Ini sudah sangat sering ditunjukkan, dan inilah yang membuat pemerintah kesulitan".

Pada tahun ini juga, George J. Laurer, seorang pegawai IBM yang dikendalikan oleh Keluarga Rothschild, menciptakan UPC (Universal Product Barcode) yang pada akhirnya akan dipasang pada setiap barang yang diperdagangkan di seluruh dunia dan membawa nomor 666 (Heksagram Merah Mayer Amschel Rothschild).

1993: Mantan penjabat Konggres Paul Findley, menerbitkan bukunya yang berjudul "Deliberate Deceptions: Facing the Fact About the U.S-Israeli Relationship (Muslihat yang Disengaja: Menghadapi Fakta tentang Hubungan AS-Israel)". Di dalam buku ini dia menulis daftar 65 Resolusi Anggota PBB yang menentang Israel dari periode 1955 sampai 1992, dan Amerika Serikat memveto 30 Resolusi demi Israel. Kalau AS tidak membuat veto, ada 95 Resolusi yang menentang Israel. Namun, 65 Resolusi yang menentang Isarel tersebut, berjumlah lebih banyak dari semua Resolusi yang diluluskan untuk menentang negara-negara lain jika digabungkan sekaligus.

Israel tidak peduli dengan pandangan PBB, jika anda mau mempertimbangkan bukti yang pernah ada, bahwa kurang dari 2 minggu setelah serangan Israel terhadap USS Liberty (serangan yang dirancang untuk mengkambinghitamkan Mesir, sehingga AS terdorong untuk berperang melawan Mesir), Menteri Luar Negeri Israel, Abba Eban, membuat pernyataan tentang PBB, sebagaimana yang dilaporkan The New York Times pada 19 Juni 1967:

"Kalau pun General Assembly (Majelis Umum) memungut suara sampai 121 suara berbanding 1 mendukung Israel kembali ke garis gencatan senjata (perbatasan pra-Juni 1967), Israel akan menolak tunduk terhadap keputusan tersebut".

"Mereka adalah peminjam uang dan kontraktor utang besar di dunia. Konsekuensinya adalah negara-negara di dunia mengerang diinjak sistem-sistem pajak dan utang negara yang besar. Mereka adalah musuh terbesar bagi kebebasan". (Lord Harrington)

1995: Pada 21 Oktober, mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, yang menerbitkan 2 buku yang memaparkan kegiatan-kegiatan Mossad, muncul di acara pagi televisi Kanada, Canada AM, bersama jurnalis Israel bernama Yosef Lapid, mantan Kepala Televisi Israel, via hubungan satelit. Yosef Lapid memanggil Mossad untuk mencari Ostrovsky di Kanada untuk membunuhnya, karena telah menulis 2 buku yang membocorkan kegiatan mereka ini. Karena Mossad Israel tidak bisa membunuh Ostrovsky di Kanada tanpa menyebabkan insiden diplomatis. Yosef Lapid mengatakan secara langsung di acara itu, bahwa:

"Saya harap ada seorang Yahudi yang baik di Kanada yang mau melakukan tugas itu untuk kita".

Ostrovsky memutuskan untuk menuntut Yodef Lapid di Pengadilan Kanada karena menghasut publik untuk membunuhnya. Namun, Ostrovsky tidak bisa menemukan pengacara satu pun di Kanada yang mau mengambil kasus itu.

1996: Pada 12 Mei, Duta Besar PBB sekaligus seorang Yahudi Ashkenazi, Madeleine Albright, ketika muncul di program 60 minutes, ditanya oleh Koresponden Lesley Stahl, sehubungan dengan tahun-tahun Amerika Serikat memimpin sanksi ekonomi terhadap Irak:

"Kami telah mendengar bahwa setengah juta anak meninggal. Maksudku, itu lebih banyak dari anak yang meninggal di Hiroshima. Lalu, anda tahu, bahwa harga itu sepadan?"

Jawaban Duta Besar Madeleine Albright adalah:

"Menurut saya itu pilihan yang sangat sulit, tapi harga itu sepadan".

Komentarnya tersebut tidak menimbulkan protes dari publik. Sesungguhnya, Holocaust setengah jutan Irak secara positif dikagumi oleh Pemerintah Amerika Serikat. Karena kurang dari 8 bulan kemudian, Presiden Bill Clinton menunjuk Madeleine Albright sebagai Menteri Luar Negeri.

Pada siaran Larry King Live pada bulan April 1996, aktor Marlon Brando membuat pernyataan: 

"Hollywood dipimpin oleh orang-orang Yahudi. Hollywood dimiliki oleh orang-orang Yahudi, dan mereka harus punya sensitivitas tentang persoalan yang diderita oleh orang lain, akibat apa yang telah mereka eksploitasi kepada orang-orang itu".

Akibat pernyataan ini, Jewish Defense League (Liga Pertahanan Yahudi) langsung meminta agar Marlon Brando dibuang dari Hollywood Walk of Fame. Tapi, karena takut diprotes publik, Hollywood Chamber of Commerce (Majelis Perdagangan Hollywood) menolak melakukannya.

Pada tahun yang sama, beberapa kejadian penting juga mewarnai kehidupan Amerika, di antaranya:

Washington Post melaporkan bahwa intelijen Amerika Serikat telah menyadap sebuah percakapan. Di dalam percakapan tersebut, dua Pejabat Israel membahas kemungkinan mendapatkan surat rahasia yang telah ditulis oleh Sekretaris Bendahara Luar Negeri waktu itu, Warren Christopher, kepada Pemimpin Palestina, Yasser Arafat.

Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel, Martin Indyk, mengeluh secara pribadi kepada Pemerintah Israel tentang pengawasan tidak bijaksana yang dilakukan oleh Badan Intelijen Israel.

Agen-agen Israel memasang penyadap pada telepon seorang Yahudi Ashkenazi sekaligus anak seorang Rabi, Monica Lewinsky, di Watergate dan mereka menyadap sesi seks telepon antara wanita itu dan Presiden Bill Clinton. Laporan Ken Starr menegaskan bahwa Clinton memperingatkan Lewinsky bahwa percakapan mereka direkam, dan kemudian Clinton mengakhiri perselingkuhan tersebut.

Kofi Annan menjadi Sekretaris Jenderal PBB yang bermarkas di New York City. Isterinya adalah Nane Lagergren, seorang Rothschild dari Swedia, yang dinikahi pada tahun 1984.

Di Los Angeles, sebuah penyelidikan narkoba besar tingkat lokal, telah membuat daerah dan negara menjadi bermasalah. Tersangka dalam penyelidikan ini adalah jaringan kejahatan Israel yang beroperasi di New York, Miami, Las Vegas, Kanada, Israel dan Mesir. Jaringan kejahatan Israel ini terlibat dalam pengedaran narkoba dan ekstasi, begitu juga penipuan kartu kredit dan komputer yang rumit terhadap golongan pekerja kantoran. Yang mengagetkan para opsir penyelidikan, orang-orang Israel yang diselediki ternyata mengawasi pager/beeper, ponsel bahkan telepon rumah para penyelidik. Para penyelidik kemudian mencari tahu dari mana informasi ini mungkin berasal. Mereka segera mengetahui bahwa ini bersangkutan dengan Firma Israel AMDOCS yang hampir memonopoli jasa rekening telepon di Amerika Serikat. Dan ketika mereka memeriksa hasil telepon mereka sendiri tentang bagaimana mereka disadap, mereka menemukan bahwa kontraktor utama mereka adalah Converse Infoys, Firma Israel lainnya yang bekerja dekat dengan Pemerintah Israel.

1998: Pada 31 Oktober, berdasarkan instruksi dari kelompok PNAC (Project for a New American Century – Proyek untuk Abad Amerika Baru), Presiden Bill Clinton menandatangani Hukum H. R. 4655, yaitu "Iraq Liberation Act (Undang-Undang Pembebesan Irak)" yang mendukung usulan perubahan rezim di Irak.

Bagaimana pun, sejarah memberi tahu kita kelompok PNAC sebenarnya tidak kreatif. Memang, pada Februari 1990, seorang Sayan Mossad di New York menjejalkan suatu cerita palsu ke ABC Television bahwa Saddam Husein punya pabrik uranium di Irak untuk menarik perhatian atas "Senjata Pemusnah Masal" Saddam Husein, satu tahun sebelum perang Amerika di Irak.

2000: Pada bulan April, Jacob "Cookie" Orgad, sebagai mantan agen Mossad ditangkap karena menjalankan salah satu operasi penyelundupan ekstasi terbesar dalam sejarah Amerika. Operasi ini mengantarkan ratusan juta Dollar dalam bentuk narkoba illegal yang diproduksi di Belanda, ke kota-kota di seluruh Amerika Serikat.

Di Argentina, IMF mengharuskan negara ini mengurangi defisit anggaran pemerintah dari 5,3 miliar Dollar pada saat itu menjadi 4,2 miliar Dollar pada tahun berikutnya, 2001, yang menyebabkan pengangguran di Argentina sebesar 20 % penduduk usia kerja. Lalu mereka menambah tuntutannya menjadi defisit harus dihapuskan. IMF menawari Argentina beberapa gagasan untuk mencapai ini, dengan mengurangi program ketenagakerjaan darurat pemerintah dari 200 Dollar perbulan menjadi 160 Dollar sebulan.

Mereka juga meminta pemotongan gaji 12 % – 15 % bagi pegawai negeri dan pemotongan pensiun bagi orang tua sebanyak 13 %. Keduanya berdampak bagi banyak orang. Pada Desember 2001, orang-orang Argentina kelas menengah (secara harfiah) muak berburu di jalanan mencari sampah untuk dimakan. Mereka mulai rusuh dan membakar Buenos Aires.

2001: Puncak tragedi di Amerika terjadi pada 11 September, yaitu serangan terhadap WTC (World Trade Center) dan Pentagon yang disusun dengan hati-hati oleh Israel dengan keterlibatan Inggris dan Amerika, dibawah perintah Keluarga Rothschild. Kejadian ini mereka lakukan untuk mengkambinghitamkan Muslim sebagai "Teroris". Ini adalah babak pertama untuk memicu Dunia Barat agar berperang dengan Dunia Arab, demi Yahudi. Dan perang melawan teroris di negara-negara Muslim pun dimulai.

Mereka menggunakan serangan-serangan ini untuk mendapatkan kendali atas beberapa negara di dunia yang tidak mengizinkan bank-bank sentral Rothschild. Dengan demikian, kurang dari sebulan setelah kejadian ini, Amerika Serikat menyerang Afghanistan, satu dari hanya tujuh negara pada saat itu di dunia yang tidak memiliki bank sentral yang dikendalikan oleh Rothschild. Negara ini didominasi penduduk Muslim yang menolak ikut serta dalam sistem simpan-pinjam uang (Riba), sesuatu yang telah membuat orang-orang Israel gusar selama ratusan tahun.

Kurang dari seminggu setelah serangan 11 September, tepatnya pada 5 September 2001, orang yang katanya Ketua Pembajak, Mohamed Atta, dan beberapa pembajak lainnya melakukan kunjungan ke salah satu perahu kasino seorang pelobi pro-Israel, seorang Yahudi Ashkenazi bernama Jack Abramoff. Tidak ada penyelidikan dilakukan tentang apa yang mereka lakukan di sana. Menariknya, 7 orang dari 19 orang (yang katanya) pembajak yang disalahkan melakukan serangan pada 11 September, ternyata masih hidup. Beberapa orang malahan muncul di Kedutaan Besar Amerika Serikat di negara-negara Arab.

Pada serangan 11 September juga, terdapat 5 orang Israel yang menyamar dalam pakaian Arab ditangkap karena menari dan bersorak sambil merekam menara WTC yang runtuh. Disewa oleh Urban Moving System (Sistem Perpindahan Kota), sebuah daerah Mossad Israel, orang-orang Israel ini tertangkap punya banyak paspor, satu van teruji positif mengandung peledak dan banyak uang tunai. Akibat penangkapan ini, Walikota Yerussalem (yang akan menjadi Perdana Menteri Israel), Ehud Olmert, secara pribadi menelepon Walikota New York City, Rudi Giuliani, menyatakan bahwa orang-orang ini tidak ada hubungannya dengan serangan teroris, dan hanya sedang sedikit bersenang-senang.

Dua dari lima orang Israel ini belakangan terungkap ternyata Mossad, bertentangan dengan klaim Olmert, ketiga orang lainnya dengan kuat dicurigai Mossad juga. Begitu laporan-laporan saksi melacak kegiatan orang-orang Israel itu, terungkap bahwa mereka terlihat di Taman Liberty pada saat tubrukan pertama. Laporan ini menduga bahwa mereka sudah tahu apa yang akan terjadi.

Orang-orang Israel itu diinterogasi oleh FBI, lalu diam-diam dikirim kembali ke Israel. Para petugas yang menangkap mereka dari Departemen Kepolisian New Jersey diperintahkan agar tidak membahas penangkapan mereka.

Kelima orang Israel yang menari dan menyoraki runtuhnya WTC, belakangan muncul di radio dan televisi Israel. Di sana mereka menyatakan bahwa mereka berada di New York City pada 11 September untuk "mendokumentasikan peristiwa tersebut" karena Amerika belum pernah mengalami serangan seperti itu di daratannya.

Dua jam sebelum serangan 11 September, Odigo, sebuah perusahaan Israel dengan kantor-kantornya yang bertempat hanya beberapa blok dari menara WTC, menerima sebuah peringatan pendahuluan akan serangan tersebut lewat pesan instan internet. Manajer New York Office memberikan FBI alamat IP pengirim pesan tersebut, tapi FBI tidak menindaklanjutinya.

Sekitar 200 orang Israel yang berkaitan dengan perusahaan-perusahaan pemindahan Israel, yang dicurigai merupakan garis depan intelijen Israel, yang sangat aktif di WTC beberapa bulan sebelum serangan, lalu ditangkap karena dicurigai terlibat ketika sisa ban ditemukan di beberapa van pembuangan yang mereka gunakan. Namun, di bawah perintah langsung Pejabat Departemen Peradilan Amerika Serikat, Michael Chertoff, mereka dideportasi ke Israel akibat "Pelanggaran Visa". Chertoff adalah seorang warga negara ganda AS/Israel yang ayahnya seorang Rabi dan ibunya adalah salah satu pekerja pertama Mossad, lalu kemudian dia memerintahkan penangkapan sekitar 900 Muslim yang tidak berkaitan dengan kejadian WTC.

Pada 12 September, The Yerussalem Post diam-diam memperingatkan kemungkinan teurngkapnya Israel sebagai pelaku serangan 11 September. Surat kabat tersebut menampilkan sebuah cerita bahwa 2 orang Israel meninggal pada saat pesawat terbang dibajak, dan 4.000 orang menghilang di WTC. Seminggu kemudian, sebuah stasiun televisi Beirut melaporkan bahwa 4.000 pegawai WTC yang merupakan orang Israel tidak hadir pada hari serangan itu. Ini tampaknya menegaskan cerita di the Yerussalem post.

Setelah serangan WTC, surat-surat tanpa nama yang berisi virus antraks dikirim ke berbagai politisi dan eksekutif media. Akibat terjangkit virus antraks dalam surat-surat ini, 5 orang meninggal dunia. Seperti serangan 11 September, serangan ini langsung disalahkan kepada Al-Qaeda, sampai diketahui bahwa virus antraks yang dijadikan senjata tersebut, dibuat oleh laboratorium militer Amerika Serikat.

FBI kemudian mengetahui bahwa tersangka utama surat-surat antraks ini adalah orang Yahudi Ashkenazi, Dr. Philip Zack, yang pernah dicerca beberapa kali oleh para pegawainya akibat kata-katanya yang ofensif tentang orang-orang Arab. Dr. Philip Zack tertangkap kamera sedang memasuki daerah penyimpanan tempat dia bekerja di Fort Detrick. Di sanalah antraks disimpan. Pada titik ini, baik FBI mau pun media berhenti membuat pernyataan publik apa pun mengenai kasus ini.

Seminggu sebelum serangan WTC, Zim Shipping Company (Perusahaan Pengapalan Zim) memindahkan kantor-kantornya di WTC, melapaskan kontrak sewanya yang memakan biaya 50.000 Dollar bagi perusahaan tersebut. Tidak ada alasan yang pernah diberikan mengenai hal ini, dan Zim Shipping Company, setengahnya dimiliki oleh negara Israel.

Akibat serangan 11 September disalahkan kepada Osama bin Laden, Amerika Serikat menginvansi Afghanistan dan menumbangkan para penguasa Taliban di sana. Tentu saja alasan sebenarnya terjadi invansi itu menjadi terang. Karena alasan sesungguhnya adalah pemimpin Taliban, Mullah Omar, telah melarang produksi opium pada Juli 2000. Dengan demikian, panen opium pada tahun itu hancur.

Dalam sejarah, bisnis opium merupakan bisnis illegal yang digerakkan oleh Keluarga Rothschild seperti yang terjadi di China pada tahun 1839. Ketika Kaisar Manchu di China memerintahkan penghancuran opium. Lalu Keluarga Rothschild memerintahkan tentara Inggris untuk pergi ke sana untuk memerangi China demi melindungi bisnis narkobanya yang sedang berjalan.

Itulah tepatnya apa yang sedang terjadi. Afghanistan adalah sumber 75 % heroin dunia. Akibat Mullah Omar menghancurkan laba 2001, maka terjadilah invansi pada Oktober 2001. Segera sesudahnya, media melaporkan panen besar opium pada Maret 2002.

Pada 3 Oktober, Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon, membuat pernyataan berikut ini kepada seorang Yahudi Ashkenazi, Simon Peres, sebagaimana dilaporkan di Radio Kol Yisrael:

"Setiap kali kita melakukan sesuatu, anda akan berkata Amerika akan melakukan ini dan itu. Saya ingin memberitahu anda sesuatu yang sangat jelas. Jangan cemaskan tekanan Amerika terhadap Israel. Kita orang-orang Yahudi mengendalikan Amerika, dan orang-orang Amerika tahu itu".

Pada tahun 2001 pula, Profesor Joseph Stiglitz, mantan Chief Economist Bank Dunia dan mantan Ketua Dewan Penasehat Ekonomi Presiden Clinton secara publik mengungkapkan "Strategi 4 Langkah" Bank Dunia yang dirancang untuk memperbudak negara-negara kepada para bankir. Ke-4 Strategi tersebut adalah:

Privatisasi, di sini para pemimpin ditawarkan komisi 10 % ke rekening-rekening Bank Swiss rahasia mereka sebagai ganti mereka memangkas beberapa miliar Dollar dari harga aset negara, seperti maraknya terjadi suap dan korupsi.

Pembebasan Pasar Modal, ini pencabutan hukum bahwa uang pajak melintasi perbatasan. Ketika ekonomi di negara itu mulai menjanjikan kekayaan, kekayaan ini ditarik langsung dari luar sehingga ekonomi negara itu ambruk. Lalu negara itu membutuhkan bantuan IMF. Dan IMF memberikannya dengan syarat mereka menaikkan suku bunga antara 30 % dan 80 %. Ini terjadi di Indonesia dan Brazil, juga di negara-negara Asia dan Amerika Latin lainnya.

Penentuan Harga Berdasarkan Pasar, di sini harga makanan, air dan gas domestik dinaikkan yang diperkirakan dapat menyebabkan huru-hara sosial di masing-masing negara, sekarang lebih umum disebut dengan "Hura-Hara IMF".

Perdagangan Bebas, di sini perusahan-perusahaan internasional menyerbu Asia, Amerika Latin dan Afrika. Pada saat yang sama Eropa dan Amerika menghalangi pasar mereka sendiri terhadap pertanian dunia ketiga. Mereka juga mengenakan tarif yang menjulang tinggi yang harus dibayar oleh negara-negara ini untuk obat-obatan bermerek, menyebabkan melejitnya rasio kematian dan penyakit.

Ada banyak pihak yang akan kalah dalam sistem ini, kecuali satu pemenang, yaitu sistem perbankan yang dimiliki dan dioperasikan oleh Yahudi. Sebenarnya IMF dan Bank Dunia telah membuat syarat pinjaman bagi penjualan sistem listrik, air, telepon dan gas setiap negara berkembang. Ini diperkirakan mencapai 4 Triliun Dollar aset milik publik.

Pada September tahun 2001, Profesor Joseph Stiglitz diberi penghargaan Nobel dalam bidang ekonomi.

2002: Kamus Internasional Baru Ketiga Webster (Lengkap) dicetak ulang, menyediakan satu definisi baru tentang Anti-Semit. Definisi belum dimutakhirkan pada 1956. Definisi barunya adalah:

"Anti-Semitisme: (1) permusuhan terhadap orang-orang Yahudi sebagai kelompok minoritas agama atau ras, sering disertai diskriminasi sosial, politik dan ekonomi; (2) menentang Zionisme; (3) simpati untuk musuh-musuh Israel".

Definisi (2) dan (3) ditambahkan dalam edisi 2002, tepat sebelum Amerika memutuskan untuk menginvansi Irak atas perintah Israel.

Thomas Stauffer, seorang Konsultan Ekonomi di Washington, memperkirakan bahwa sejak 1973, Israel telah menghabiskan uang Amerika Serikat sekitar 1,6 Triliun Dollar, yang kalau dibagi dengan jumlah penduduk pada tahun 2002, setiap orang akan mendapatkan lebih dari 5.700 Dollar.

Kondisi dunia yang rapuh akibat perlakuan Yahudi yang didukung dana besar Keluarga Rothschild, menggerakkan orang seperti Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Muhammad, yang mengeluarkan sikap dengan pernyataan:

"Orang-orang Yahudi menguasai dunia dengan tangan orang lain. Mereka membuat orang lain berperang dan mati demi mereka".

2004: Penyelidikan FBI berlanjut kepada American Israel Public Affairs Committee (AIPAC, Komite Urusan Publik Israel Amerika), kelompok lobi politik terbesar di Amerika Serikat dengan lebih dari 65.000 anggota yang tugasnya adalah memimpin pemerintah Amerika Serikat demi Israel. FBI dilaporkan percaya bahwa AIPAC adalah garis depan mata-mata Israel.

Pada awal Maret, warga negara ganda AS/Israel sekaligus Rabi Yahudi bernama Dov Zakheim mengundurkan diri sebagai Pengawas Keuangan Pentagon sekaligus Kepala Petugas Keuangan, ketika terungkap dalam sebuah audit anggaran Pentagon bahwa dia tidak bisa mempertanggungjawabkan hilangnya 2,6 juta Dollar, termasuk inventaris pertahanan 56 pesawat terbang, 32 tank dan 36 satuan peluncuran komando misil Javelin.

Pada 20 Mei, Senator Ernest Hollings membuat pernyataan tentang kendali AIPAC terhadap Amerika:

"Kita tidak bisa membuat kebijakan Israel selain yang diberikan oleh AIPAC. Saya telah mengikuti sebagian besar di antaranya, tapi saya juga telah menolak menandatangani surat-surat dari waktu ke waktu untuk memberi kesempatan kepada Presiden yang malang. Saya bisa mengatakan kepada kalian bahwa tidak ada presiden yang menjabat, entah dari Republik atau Demokrat, mendadak AIPAC akan memberitahunya persis kebijakan apa yang harus diambil".

Pada tahun ini juga, Mel Gibson merilis filmnya "The Passion of the Christ (Hasrat Kristus)". Untuk menjaga keasliannya, dialog film itu disajikan sepenuhnya dalam Bahasa Ibrani dan teks Latin. Namun, ada satu teks yang tidak muncul. Kalimat itu diucapkan tapi untuk alasan tertentu teksnya dibuang. Tentu saja ini akibat tekanan dari media Yahudi. Adegan yang teksnya dibuang itu adalah ketika Pilate berusaha membuat orang-orang Yahudi berhenti menyeru agar Yesus Kristus disalib. Dan apa kata orang-orang Yahudi sebagai tanggapan Pilate sampai-sampai lobi Yahudi setengah mati ingin menyensornya?:

"Biarkan darahnya mengucuri kami dan anak-anak kami".

Pada 16 Oktober, Presiden Bush menandatangani pengesahan hukum Global Anti-Semitism Preview Act (Undang-Undang Tinjauan Anti-Semitisme Global) yang dirancang untuk memaksa seluruh dunia agar tidak pernah mengkritik dunia Yahudi, apapun yang mereka lakukan