Label

Senin, 18 Agustus 2014

Majlis Ta'lim Sastra

Di Aula Pondok Darussalam Pipitan, Serang, Banten 16 Agustus 2014. Dari Kiri: Encep Abdullah, Sulaiman Djaya, Izzatullah Abduh, dan Wahyu Arya. 

Kamis, 14 Agustus 2014

Proyek Balkanisasi Amerika Dengan Target Indonesia


Agenda Pentagon untuk Indonesia, bersinergi dengan program gerakan Pan Salafi (ISIS).

Setelah Afghanistan, Irak, Libya, Suriah dan Mesir, kini Indonesia masuk pada fase aktif operasi Devide at Impera (Balkanisasi) yang dijalankan oleh poros Barat secara terukur;

25 January 2014, Agenda Pentagon untuk Indonesia.

Dalam buku ‘Tangan-Tangan Amerika (Operasi Siluman AS di Pelbagai Belahan Dunia)’, terbitan Global Future Institute pada 2010, bahwa dalam skema yang dirancang Pentagon melalui rekomendasi studi Rand Corporation, Indonesia harus dibagi menjadi 8 wilayah (menjadi 7 setelah Timor-Timur sudah berhasil dilepaskan).


Ini jelas tidak main-main mengingat kenyataan bahwa Rand Corporation merupakan sebuah badan riset dan pengembangan strategis di Amerika yang melayani kepentingan Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon).

Dalam skenario Balkanisasi ini, akan ada beberapa negara baru sebagai hasil pemisahan diri beberapa wilayah dari NKRI, dan salah satunya adalah; Aceh.


Senin, 11 Agustus 2014, Agenda gerakan Pan Salafi (ISIS, Islamic State).

Penelusuran Serambi, gerakan ISIS di Aceh bersifat under ground (bawah tanah). Dengan selain aktif membaiat para anggota, jaringan ISIS (Islamic State) itu juga berusaha memperluas pengaruhnya dengan merekrut simpatisan maupun anggota di berbagai wilayah Aceh.

Sumber Serambi bernama Abu Jundullah yang menjabat sebagai Juru Bicara ISIS Perwakilan Aceh, dalam sebuah wawancara khusus dengan Serambi, Minggu 3 Agustus 2014 mengatakan, ISIS di Aceh sudah dibentuk sejak 1 Januari 2014 sebagai perwakilan ISIS di Irak dan Suriah.

“Seluruh anggota ISIS di Aceh tidak ada yang dari luar Aceh, karena Gerakan Pan Salafi di Aceh adalah Mandiri, alias tidak tunduk pada ISIS Indonesia pimpinan Abu Muhammad Al-Indonesia.

Lanjutnya, ISIS Aceh berupaya memperluas jaringannya hingga ke tingkat desa, dan “Target kami adalah, sebelum tahun 2015, seluruh Aceh sudah terbentuk jaringan ISIS,” katanya.


02 Agustus 2014, kamp pelatihan militer

Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones, kamp pelatihan militer untuk gerakan berada di Jantho, Aceh.

Awalnya, para pendiri kamp pelatihan militer di Aceh adalah pendukung Ayman al-Zawahiri.



Jika Indonesia untuk kedepan bergerak kearah kemandirian Ekonomi, Politik dan Militer dari hagemoni AS, maka, pertanyaan yang tersisa adalah; “Mau Terong (tunduk kepada agenda Re-Balanching AS untuk kawasan Asia-Pasifik), atau berani terima Pentungan (lepasnya Aceh ke tangan American Proxy via pemberontakan ISIS)?.” 


Senin, 11 Agustus 2014

Surat Para Rabbi Yahudi Anti-Zionis Kepada Hizbullah


Kepada Rakyat Lebanon yang Terhormat. Assalamu Alaikum! Semoga rahmat Yang Mahakuasa bagi kalian semua, keluarga kalian, dan seluruh saudara kami yang mulia di Lebanon. Kami berbicara kepada kalian sebagai suara Yahudi sejati—umat Yahudi, yang setia kepada ajaran Taurat dari Yang Mahakuasa, di seluruh dunia.

Kurang daripada sebulan yang lalu kami menyampaikan sebuah surat terbuka kepada Dr. Al-Zahar, dan masyarakat Gaza sekaligus seluruh rakyat Palestina. Dalam surat ini, dengan pertolongan Yang Mahakuasa, kami menyampaikan kepedihan, duka-cita, dan kekecewaan kami dalam kaitan dengan kekejaman yang dilakukan oleh negara “Israel” yang ilegal (berdasarkan atas hukum-hukum Taurat, hukum umat Yahudi).

Kami menyatakan bahwa kami telah menulis kepada Dr. Al-Zahar secara personal untuk menyampaikan belasungkawa dan simpati kami atas kehilangannya. Kami lebih jauh menyatakan bahwa sejujurnya kami menyampaikan belasungkawa kepada setiap keluarga yang menderita kerugian dan kehilangan karena tangan-tangan iblis ini, negara Zionis “Israel”. Apa yang seharusnya kami nyatakan adalah bahwa kami semestinya secara pribadi menulis dan mengunjungi setiap penduduk Gaza dan seluruh bangsa Palestina untuk menyampaikan perasaan hati kami dan seluruh kedukaan kami, yang merasakan penderitaan bangsa yang tidak berdosa ini di tangan sebuah entitas, yang telah dinyatakan dan ditetapkan oleh Taurat yang suci dan autoritas kerabbian kami sebagai sepenuhnya terlarang.

Lebih jauh, seluruh rakyat Palestina, kerabat, dan keturunan mereka, yang tersebar di seluruh dunia, harus mendengarkan dan merasakan empati kami, dukungan kami, dan doa kami kepada Yang Mahakuasa bagi mereka. Pada akhirnya, kami menyadari bahwa setiap orang dari bangsa ini telah dipengaruhi secara emosional oleh negara Zionis itu.

Kepada yang terhormat, Sayid Hassan Nasrallah, perasaan kami kepada rakyat Lebanon juga persis sama.

Kami telah mendengar anda berbicara baru-baru ini pada pemakaman Tuan Imad Mughniyah dan dalam banyak kesempatan sebelumnya. Maka, kami mengetahui bahwa anda dan organisasi anda sepenuhnya menyadari adanya perbedaan yang tegas antara Zionisme dan Yudaisme, dan terdapat banyak orang Yahudi, apakah mereka yang berada di Palestina atau di seluruh dunia, yang sepenuhnya menentang Zionisme dan negara “Israel”.

Delegasi para rabbi kami telah menjadi tamu di negeri anda yang agung, Lebanon, dan telah dijamu oleh organisasi anda, Hizbullah. Kami di sana dalam rangka menghadiri Konferensi Persekutuan Parlemen Internasional bagi Pembelaan Nasib Palestina.

Penghormatan yang diberikan kepada kami sungguh di luar perkiraan. Pada saat itu, berkat Yang Mahakuasa, kami berkesempatan untuk secara langsung menyaksikan dan mengalami, fakta bahwa bangsa Arab dan umat Muslim, meskipun mengalami penderitaan panjang di tangan Zionisme, ternyata tidak lantas menjadi korban pengaruh jahatnya.

Ke mana pun kami pergi, kami menerima kasih-sayang dan persahabatan. Perhatian kepada kenyamanan kami ke mana pun kami berkunjung di Lebanon adalah prioritas utama dari setiap individu. Saat itulah, kami menyaksikan apa yang mereka derita akibat pendudukan Zionis. Kami terkejut dan sangat menghargai karena semua yang ditunjukkan kepada kami dari penderitaan-penderitaan itu sama sekali tidak disertai tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada para rabbi kami atau kepada bangsa Yahudi secara keseluruhan.

Bangsa Arab dan umat Muslim jelas masih mengingat bahwa kami tidak memiliki konflik agama dan bahwa kami telah hidup bersama secara harmonis selama ribuan tahun. Banyak dari mereka yang memahami adanya perbedaan antara Zionisme dan Yudaisme.

Izinkan kami menyebutkan tiga contoh pengalaman yang sangat inspiratif, yang kami dapatkan di Lebanon, yang telah meninggalkan kesan mendalam di dalam hati kami.

Kami berkunjung ke pusat penjara Khiam dan menyaksikan betapa kejamnya penyiksaan-penyiksaan yang rakyat Lebanon alami selama bertahun-tahun, dan yang dunia abaikan begitu saja. Kami telah mendengar bahwa Zionis menghancurkan penjara itu pada invasi terakhir mereka atas Lebanon, dengan tujuan menghancurkan ingatan akan penyiksaan-penyiksaan itu.

Kami juga mengunjungi sisa-sisa kamp pengungsi Sabra dan Shatilla; kami berbicara kepada pengungsi Palestina di sana dan menyalakan lilin di Martyrs Square, dimana pembantaian yang terkenal itu terjadi. Di kedua tempat itu, air mata kami menetes atas penderitaan tragis yang terjadi dan bertentangan dengan setiap logika hak asasi manusia.

Kami juga berkesempatan untuk menggelar unjuk rasa terhadap Zionisme dan negara “Israel”, tepat di seberang pendudukan Zionis, di gerbang Fatima, titik yang menghubungkan Lebanon dengan pendudukan Zionis. Tentu saja, sudah banyak saudara kami yang tinggal di dalam pendudukan Zionis yang terus melakukan unjuk rasa terhadap rezim itu dari dalam dan menanggung risiko yang sangat besar. Mereka secara brutal dipukuli dan ditahan.

Kami juga ingin memberi tahu anda dan saudara kami, rakyat Lebanon, bahwa ketika Israel menginvasi Lebanon, masyarakat Yahudi di seluruh dunia turut serta dalam demonstrasi-demonstrasi demi mendukung rakyat Lebanon. Di Kanada, Inggris, dan AS, kami dari komunitas relijius Yahudi menghadirkan rabbi-rabbi yang berbicara pada semua unjuk rasa itu untuk mengekspresikan kecaman dan perlawanan kami kepada serangan kejam dan brutal atas Lebanon. Ini di luar demonstrasi-demonstrasi yang digelar secara mandiri oleh komunitas-komunitas Yahudi secara global.

Kami dengan penuh kerendahan hati memohon kepada yang mulia Sayid Hassan Nasrallah untuk menerima kata-kata kami dan menyampaikan pesan ini kepada rakyat Lebanon dan para pengungsi Palestina di negeri anda.

Izinkan kami mengulangi bahwa kami berbicara kepada anda sebagai suara Yahudi sejati—umat Yahudi yang setia kepada ajaran Taurat dari Yang Mahakuasa, di seluruh penjuru dunia.

Meskipun terbatas dalam menyampaikan perasaan kami yang terdalam, hanya dalam rangkaian kata, kami umat Yahudi dengan kerendahan hati ingin menyampaikan kepada anda, kepada rakyat Lebanon, Gaza, dan seluruh bangsa Palestina, segelintir kata sebagai upaya menyampaikan dukungan, duka-cita yang mendalam, dan simpati bahwa kami semua merasakan apa yang kalian rasakan dalam saat-saat yang paling tragis dan traumatis ini.

Sekali lagi, izinkan kami mengatakan bahwa akan lebih pantas dan layak jika kami secara personal menulis dan berbicara kepada setiap korban dari negara Zionis “Israel”.

Semoga kata-kata yang sederhana dan sedikit ini bisa menjadi pesan yang melipur lara, menjalin persahabatan, dan memberikan dukungan kepada anda, rakyat Lebanon, dan kepada warga Gaza serta seluruh bangsa Palestina.

Umat Yahudi sejati di seluruh dunia, tentu saja termasuk mereka yang berada di seluruh wilayah Palestina, dengan pertolongan Yang Mahakuasa, tidak akan pernah menerima ideologi Zionisme dan tidak akan pernah mengakui realisasi dari rencana bid’ahnya, yaitu negara “Israel”.

Ikatan kami yang sesungguhnya adalah kepada Yang Mahakuasa dan Taurat-Nya. Posisi moral kami adalah bahwa kami diperintahkan untuk meniru Yang Mahakuasa, “Jika Yang Mahakuasa adalah Yang Maha Pengasih, maka kami akan menjadi umat yang pengasih.” Kami selalu dan akan selalu, dengan pertolongan Yang Mahakuasa, untuk tetap  memisahkan diri dari kesesatan dan kehendak iblis ini, yakni “Zionisme dan negara Israel”.

Izinkan saya mengingatkan anda, bahwa Yang Mahakuasa secara eksplisit telah memerintahkan kepada kami, umat Yahudi, sejak penghancuran Kuil, sekitar dua ribu tahun silam, untuk bertingkah-laku rendah hati dan setia kepada setiap negeri dimana kami tinggal. Lebih jauh, kami dilarang untuk melakukan pemberontakan terhadap setiap bangsa, kami tidak berupaya untuk mengakhiri periode pengasingan kami. Kami dilarang untuk mendirikan negara atau entitas eksklusif bagi kami sendiri.

Kami berdoa bagi kalian, semoga kita semua bisa menanti hingga hari dimana Yang Mahakuasa akan menunjukkan kejayaan di seluruh dunia.

Pada hari itu, semua umat manusia, akan datang ke Tanah Suci, dalam harmoni dan persaudaraan, demi mengabdi kepada Yang Mahakuasa dalam perdamaian.

Sekitar seratus tahun lalu, Zionis tiba di Palestina dalam rangka merealisasikan mimpi mereka, yakni mentransformasi Yudaisme dari sebuah agama kepada nasionalisme. Dan saat itu dimulailah sebuah sejarah pahit pemberontakan melawan Tuhan, yang pada akhirnya berwujud dalam negara ilegal “Israel”.

Sejak penciptaan negara “Israel”, rakyat Palestina dan rakyat Lebanon terus menanggung derita yang tak terperikan. Mereka ditindas, dipukuli, dibunuhi, dihinakan, dan diusir.

Meskipun, dalam surat ini dan dalam kesempatan ini, tidaklah pantas jika kami mengulas penderitaan pribadi kami di tangan rezim Zionis, kami merasa adalah penting untuk menyampaikan fakta ini kepada masyarakat Arab. Moralitas kita menyatakan bahwa dengan saling berbagi penderitaan, maka manusia bisa meringankan penderitaan itu dalam batas-batas tertentu. Hal ini juga untuk menunjukkan kepada semua orang akan kejujuran dalam perlawanan kami kepada pertumbuhan mengerikan dari negara Yahudi ini—apa yang disebut negara “Israel”.

Dengan demikian, izinkan kami menyatakan bahwa sejak kehadiran para pendosa dan ateis ini, yakni Theodore Herzl dan gangnya yang menyuarakan suara-suara jahat dalam menyebarkan ideologi iblis mereka, bid’ah Zionisme, masyarakat Yahudi juga mengalami penderitaan yang tidak terkira, baik fisik maupun spiritual di tangan-tangan mereka. Saudara-saudara kami yang bertakwa kepada Tuhan di seluruh Palestina terus mengalami pemukulan, pembunuhan, pemenjaraan, dan penindasan sejak munculnya Zionisme hingga hari ini. Mereka juga merupakan korban-korban para pelaku kriminal yang sama yang menindas rakyat Palestina dan Lebanon.

Izinkan kami memberi tahu bahwa para pemimpin, rabbi, dan orang-orang bijak sejati kami di Palestina, Timur Tengah, Eropa, dan di seluruh dunia, secara vokal dan antusias menyuarakan perlawanan total mereka kepada Zionisme dan negara “Israel”, sejak kemunculannya. Mereka meneriakkan dan mengecam seluruh kejahatan yang dilakukannya terhadap rakyat Palestina dan Lebanon. Mereka meneriakkan penindasan terhadap umat Yahudi yang relijius dan negara Israel secara konstan berupaya menghapus dan menghancurkan segala sesuatu yang Ilahi dan relijius. Mereka tanpa kenal lelah dan takut telah mendemonstrasikan, dalam pengorbanan diri yang besar, penentangan mereka kepada pemberontakan melawan Tuhan ini.

Berbagai fatwa yang tak terhitung banyaknya telah dikeluarkan oleh para pemimpin sejati kami, yang meminta umat Yahudi untuk setia kepada Yang Mahakuasa dan Taurat-Nya, dan untuk memisahkan diri mereka dari negara “Israel” yang ilegal dan penuh dosa serta dari kejahatan-kejahatan yang bersumber darinya.

Puji Tuhan, pesan-pesan mereka telah didengar oleh banyak Yahudi yang bertakwa dan telah ditaati. Lebih jauh, ribuan dari mereka telah berdiri bersama rabbi-rabbi mereka untuk terus mendemonstrasikan tanpa kenal takut, hingga hari ini, di seluruh Palestina yang diduduki dan dunia, perlawanan mereka terhadap negara “Israel”.

Semua itu terdokumentasikan dengan baik, tetapi diabaikan oleh kekuatan-kekuatan media yang dikendalikan Zionis dan karena adanya intimidasi terhadap mereka yang berani mengungkapkan kebenaran.

Satu lagi persoalan yang penting untuk disampaikan, selain adanya banyak perintah di dalam Taurat untuk berbuat kebajikan dan larangan jelas atas Zionisme, kami bersimpati dan sensitif kepada nasib rakyat Palestina dan Lebanon, karena kami umat Yahudi pernah mengalami diskriminasi ekstrim dan penderitaan tragis di kamp-kamp konsentrasi di Eropa. Kerabat-kerabat dekat kami menderita dan terbunuh di sana. Kami juga menyadari dan telah mengalami bagaimana rasanya diusir ketika kami dipaksa meninggalkan dari rumah-rumah kami di seluruh Eropa. Pengalaman inilah yang membentuk pemahaman dan perasaan kami bagi penderitaan rakyat Palestina dan Lebanon.

Hingga kini, bagi pemahaman kami yang manusiawi dan terbatas, tampak bahwa entitas iblis ini, yakni negara “Israel”, tidak akan pernah menyerah dan akan terus menebarkan kejahatannya terhadap manusia-manusia yang tidak berdosa di bawah kendalinya.

Namun demikian, ingatlah dan tenangkanlah diri kalian, wahai saudara-saudara kami di Palestina dan Lebanon, bahwa ada Penguasa Semesta, yang Mahabesar, Maha Pengasih, yang benar-benar mengendalikan dunia ini. Dia mampu dan akan mengakhiri penderitaan ini.

Di dalam Taurat, dinyatakan bahwa perbuatan melawan Yang Mahakuasa tidak akan pernah berhasil. Negara “Israel” ini, menurut Taurat, pada akhirnya niscaya akan berakhir.

Mari kita berdoa dan memohon kepada-Nya, untuk menghadirkan pelucutan total yang segera dan damai dari negara ilegal ini pada zaman kita. Dengan anugerah Yang Mahakuasa, semoga Dia merealisasikan hal ini, tanpa ada penderitaan dan kepedihan lebih lanjut. Amin.

Tolong sampaikan pesan ini kepada setiap saudara sebangsa anda yang menderita di bawah penindasan “Zionisme—Israel”. Terkhusus, tolong sampaikan pesan ini kepada para kerabat dari para korban, yang terluka dan cacat, dan yang mendekam di penjara-penjara Israel.

Sampaikan kepada mereka semua solidaritas kami dan dukungan kami. Kami merasa terhina oleh aksi-aksi yang mengatasnamakan kami. Kami memohon kepada anda untuk menyampaikan pesan ini kepada rakyat di Lebanon dan Palestina, bahwa ada ribuan Yahudi di seluruh dunia dan di Palestina yang berdiri bersama kalian dan yang menentang Zionisme serta negara “Israel”. Mereka berlepas diri dari aksi-aksi kaum Zionis. Kami memohon kepada anda untuk memberikan pencerahan bahwa ketika bangsa dan umat anda bersua dengan orang-orang Yahudi, jangan memandang mereka sebagai musuh-musuh. Kita semua melayani Tuhan yang Esa.

Sekali lagi, kami akan tetap berdoa—berharap dan cemas bagi kalian semua.

Semoga kita bisa segera menjumpai pada masa kita, pelucutan total, segera, dan damai dari negara “Israel”.

Semoga Yang Mahakuasa merealisasikan janji-janji-Nya bahwa semua manusia akan melayani-Nya dalam harmoni dan perdamaian. Amin. Assalam Alaikum. Kami sungguh berada di pihak kalian, 28 Januari 2008.

Rabbi Moshe Dov Beck
Rabbi Yisroel Dovid Weiss
Amerika Serikat, Kanada

Rabbi Meir Hirsh
Palestina

Rabbi Ahron Cohen
Inggris Raya

Sumber: nkusa.org

Jumat, 08 Agustus 2014

Ironi IMF dan Bank Dunia


Harian Banten Raya, 9 Agustus 2014

Sebagaimana telah sama-sama kita ketahui, IMF (the International Monetary Fund) dan Bank Dunia adalah lembaga dana moneter intemasional yang dalam misinya disebutkan untuk memberikan bantuan kepada negara-negara yang tengah mengalami kesulitan likuiditas keuangan atau menghadapi masalah moneter. Namun dalam kenyataannya, IMF dan Bank Dunia, yang saham mayoritasnya sebesar 51 % dikuasai oleh departemen keuangan Amerika Serikat, hanyalah kedok imperialisme melalui penguasaan dan pengendalian lewat lembaga moneter dan perbankan. Begitu pula, bagian terbesar dari saham the Fed dikuasai oleh para bankir raksasa Zionis Yahudi. Dengan uang-kertas dolar yang ongkos cetaknya, tidak peduli berapa pun nilai denominasinya di lembaran itu, hanyalah 3 sen dollar per lembar, hingga secara praktis the Fed memiliki kekuasaan atas keuangan dunia hampir-hampir tanpa biaya. Dan tentu saja, tidak dapat disangkal bahwa keduanya, baik IMF maupun Bank Dunia, merupakan dua instrumen kekuasaan yang digunakan oleh Barat (baca: kelompok Zionis) untuk menghancurkan negara-negara yang berdaulat agar menjadi tidak lebih daripada sekedar teritori (ekonomi-keuangan) mereka, yang pada gilirannya akan kehilangan kedaulatan politik mereka. Untuk mendalami fokus ini, kita bisa membaca tulisan-tulisannya Joseph Stiglitz dan John Perkins.

Joseph Stiglitz dan John Perkins

Sebagaimana yang pernah dipaparkan Joseph Stiglitz dan John Perkins, ketika suatu missi IMF memasuki suatu negara, mereka sebenarnya tidak lain menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang. Lebih gamblangnya, seperti yang dituturkan Joseph Stiglitz yang tak lain mantan Kepala Tim Ekonom Bank Dunia itu, IMF biasanya mengembangkan program empat langkah. Langkah pertama adalah program Privatisasi , yang menurut Stiglitz lebih tepat disebut dengan nama program ‘Penyuapan’. Pada program ini perusahaan-perusahaan milik negara penerima bantuan IMF harus dijual kepada swasta dengan alasan untuk mendapatkan dana tunai segar. Pada tahapan ini menurut Stiglitz, “Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek ‘pemberian’ 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi”. Apa yang dikatakan Joseph Stiglitz itu tak jauh berbeda dengan yang pernah diungkap John Perkins dalam bukunya yang berjudul The Economics of Hit Man itu: “Kami, pembunuh bayaran ekonomi, adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam menciptakan permasalahan ini secara global, dan kami bekerja dengan berbagai cara. Tapi mungkin yang paling umum adalah bahwa kami mengidentifikasi negara yang memiliki sumber daya yang diinginkan oleh perusahaan-perusahaan Amerika kita, seperti minyak, dan kemudian, mengatur pemberian pinjaman dalam jumlah yang besar untuk negara tersebut dari Bank Dunia atau salah satu organisasi yang berhubungan dengannya”.

Sebagai contoh, di mana pemerintah Amerika Serikat, terlibat dalam kasus “penyuapan” terbesar yang pernah ada, pada program “privatisasi” di Rusia pada tahun 1995, ketika pemerintah Amerika Serikat menghendaki Yeltsin terpilih lagi. “Kami tidak peduli kalau pemilihan itu adalah pemilihan yang korup. Kami ingin uang itu sampai ke tangan Yeltsin melalui ‘bawah-meja’ untuk keperluan kampanyenya”. Lebih khusus lagi, yang paling menyakitkan hati Joseph Stiglitz adalah kenyataan bahwa oligarki Rusia yang didukung oleh Amerika Serikat itu menyapu habis aset industri BUMN Rusia dengan akibat, korupsi tersebut memotong pendapatan nasional Rusia tinggal hampir separuhnya saja yang menyebabkan depresi ekonomi dan kelaparan.

Nah, sesudah program “penyuapan” itu langkah kedua IMF/Bank Dunia adalah rencana “satu-ukuran yang pas untuk menyelamatkan ekonomi anda” (all size – economic solution), yaitu “Liberalisasi Pasar Modal”. Dalam teorinya, deregulasi pasar modal memungkinkan modal investasi mengalir keluar-masuk. Namun, dan ini yang perlu diingat secara cermat, dengan ditingkatkannya pemasukan modal investasi dari luar, pada gilirannya akan menyebabkan pengurasan cadangan devisa negara yang bersangkutan untuk mendatangkan aset melalui impor dari negara-negara yang ditunjuk oleh IMF itu sendiri. Dan malangnya lagi, dalam kasus Indonesia dan Brazil, sebagai contoh, lagi-lagi menurut Stiglitz, modal itu hanya keluar dan keluar, tidak pernah balik atau kembali seperti yang diharapkan. Begitulah, ketika suatu misi IMF memasuki suatu negara, mereka sebenarnya tidak lain menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang.

Program Daur Uang Panas

Marilah kita kutip pernyataan John Perkins (yang pernah ditugaskan di Jakarta, Indonesia), demi melengkapi apa yang diungkap Joseph Stiglitz itu, “Tetapi uang yang dimaksud tidak pernah benar-benar diberikan kepada negara peminjam. Sebaliknya uang tersebut masuk ke perusahaan-perusahaan besar kita untuk membangun proyek infrastruktur di negara tersebut, pembangkit listrik, kawasan industri, pelabuhan. Hal-hal yang akan menguntungkan beberapa orang kaya di negara itu, di samping juga memperkaya perusahaan-perusahaan Amerika kita. Tetapi pemberian pinjaman tersebut sama sekali benar-benar tidak membantu sebagian besar orang di sana”.

Dalam hal ini, Stiglitz menyebut program “privatisasi” ini sebagai daur “uang panas”. Dana tunai dari luar masuk untuk spekulasi di bidang real-estate dan valuta, kemudian hengkang bila ada tanda-tanda akan ada kerusuhan. Akibat dari yang pertama di atas dan kedua ini, cadangan devisa negara bisa habis menguap dalam ukuran hari, bahkan dalam hitungan jam. Dan bila hal itu sampai terjadi, maka untuk merayu kaum spekulan untuk mau mengembalikan dana modal nasional, IMF menuntut negara-negara debetor untuk menaikkan suku-bunga banknya menjadi 30%, 50%, bahkan hingga 80%. Ketetapan itu diikuti dengan persyaratan kebijakan deregulasi peraturan perbankan, diberlakukannya kebijakan uang ketat (austerity policies), dihentikannya subsidi pada bidang-bidang yang berkaitan dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat. Dan lebih khusus pada kasus negara-negara yang sedang berkembang, di mana program pembangunan bagian terbesar masih menjadi tanggung-jawab negara, pemberlakuan politik uang ketat berdampak buruk terhadap kehidupan sektor riil. Penghentian subsidi terhadap sektor strategis seperti pangan, bahan bakar, transportasi, pendidikan, dan sebagainya, misalnya, selalu berakhir dengan krisis politik di negara-negara yang bersangkutan.

Singkatnya, pemasukan modal investasi dari luar, meskipun tampaknya membantu untuk memperluas kesempatan kerja, dalam kenyataannya persyaratan itu telah membunuh usaha atau para pengusaha bumiputera setempat, yang pada gilirannya jatuh bergelimpangan, karena belum mampu bersaing khususnya untuk pemasaran. Yang lebih ironis adalah acapkali kebijakan seperti itu berakibat dengan penutupan pabrik-pabrik, karena pemerintah tuan-rumah dan sektor swasta domestik tidak cukup memiliki modal. Contoh paling mutakhir adalah bangkrutnya ekonomi Argentina pada bulan Januari 2002 yang menimbulkan situasi kekacauan politik dan sosial.

Pada tahapan ini IMF menarik negara debetor yang tengah megap-megap itu ke langkah ketiga, yaitu Pricing atau Penentuan Harga Sesuai Pasar”, sebuah istilah yang terbilang muluk untuk program menaikkan harga komoditas strategis seperti pangan, air bersih, dan BBM. Tahapan ini sudah dapat diprediksi akan menuju ke langkah tiga-setengah, yaitu apa yang dinamakan oleh Stiglitz, “Kerusuhan IMF”, langkah yang paling mengerikan, sebagaimana yang dituturkan John Perkins: “Dalam kondisi seperti ini, kami para economic hitman akan mendatangi mereka dan akan mengatakan. “Dengar! Anda memiliki hutang yang cukup besar kepada kami, dan anda tidak sanggup membayar hutang anda tersebut. Jadi, kami meminta anda untuk menjual minyak anda  dengan harga yang murah kepada perusahaan-perusahan minyak kami, begitu juga izinkan kami membangun sebuah pangkalan militer di negara anda, anda harus mengirim pasukan untuk mendukung pasukan kami ke suatu tempat di dunia seperti Irak, atau anda harus menggunakan suara anda untuk memilih apa yang kami pilih pada voting yang dilakukan di PBB”.


Tentu saja, “kerusuhan hasil ciptaan IMF” itu sudah bisa diprediksikan dan sangat menyakitkan hati. Ketika suatu negara sudah jatuh pingsan (IMF) akan mengambil keuntungan dan memeras sampai tetes darah terakhir yang masih ada pada negara debetor. Suhu akan terus meningkat, dan pada saatnya ketel itu meledak”, seperti halnya ketika IMF, yang lagi-lagi seperti dituturkan  Joseph Stiglitz, mengharuskan menghapus subsidi untuk beras dan BBM bagi kaum miskin di Indonesia pada tahun 1998. Indonesia meledak dengan kerusuhan. Dan masih ada contoh kasus lain, semisal kerusuhan di Bolivia, sehubungan dengan kenaikan tarif air bersih pada tahun 2001, dan pada bulan Februari 2002 kerusuhan di Ekuador karena kenaikan harga gas dapur yang diperintahkan oleh Bank Dunia. Kesan yang ada ialah kerusuhan itu memang direncanakan. Singkat kata, “tak ada makan siang gratis” atau “tak ada bantuan yang tanpa pamrih”. (Sulaiman Djaya

Kamis, 07 Agustus 2014

Creating Photography

Kronik Sastra. 
People Around The World. 
Quote For The World.
 Di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang, Banten 15 Mei 2013.
Malam Anugerah Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2013 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta 17 Januari 2014. Fotografer: Maduretna Menali. 



Temu Sastra Mitra Praja Utama Ke-8 di Serang, Banten 15-18 November 2013.