Label

Minggu, 19 Juli 2015

Jika Yesus Mencium Bibir Maria Magdalena, Apakah Betul Mereka Menikah?


Oleh Nicholaus Prasetya

Film yang menuai banyak kontroversi ketika diputarkan, terutama bagi kalangan umat Kristiani, The Da Vinci Code, memang sudah lama berlalu. Namun, sisa-sisa pertanyaan mengenai keabsahan perihal Yesus adalah suami Maria Magdalena belum begitu saja terhapus karena memang di bagian inilah iman umat Kristiani diguncang untuk kemudian dipertanggungjawabkan.

Film ini berangkat dari sebuah injil apokrif yang bernama Injil Filipus. Dalam injil tersebut dikatakan bahwa seringkali Yesus mencium Maria Magdalena pada bagian bibirnya sehingga tidak jarang menimbulkan kecemburuan pada murid-murid-Nya yang lain.

Bagian inilah yang menjadi titik tolak Dan Brown dalam mengungkapkan kisah percintaan Yesus dengan Maria Magdalena. Hanya dengan pertanda bahwa Yesus mencium bibir Maria Magdalena, maka kemudian ia dapat menyimpulkan dengan mudahnya bahwa Yesus adalah suami dari Maria Magdalena.

Ciuman = Menikah ?
Yang menjadi pertanyaan berikutnya untuk mengkritisi pernyataan Yesus adalah suami Maria Magdalena serta meneguhkan iman umat Kristiani adalah apakah betul hanya dengan ciuman kita bisa menafsirkan bahwa Yesus betul-betul telah menikah dengan Maria Magdalena? Ataukah mungkin ada maksud lain yang ingin ditekankan Yesus ketika mencium bibir Maria Magdalena?

Seringkali kita bertitik tolak menafsirkan segala sesuatu berdasarkan pengalaman kita yang sekarang, dimana kita berada pada zaman mdoern dan berciuman bukanlah lagi sesuatu hal yang tabu untuk dilakukan di depan umum. Selain itu, kita juga seringkali beranggapan bahwa orang yang berciuman memiliki hubungan khusus yang lebih dari teman dan lebih juga dari sahabat atau bisa jadi mereka adalah sepasang kekasih dan lebih jauh lagi pasangan suami-istri. Dan yang terakhir adalah paradigma yang melekat dalam diri kita bahwa orang yang berciuman itu karena didorong oleh hasrat seksualitas ragawi semata.

Mungkin akan menjadi lebih baik jika sejenak kita tidak berpijak pada hal-hal tersebut. Kita seringkali melihat bagaimana orang tua mencium bibir anaknya. Apakah betul hal ini karena dorongan seksual semata atau karena ada hal lain yang ingin ditekankan orang tua itu kepada anaknya, misalnya penunjukkan rasa kasih sayang mereka kepadanya?

Hal-hal kecil semacam inilah yang seringkali luput dari perhatian kita. Dalam penilaian ciuman Yesus dengan Maria Magdalena, kita dibutakan oleh dominansi paradigma seksual ragawi. Kita tidak bisa melihat apakah Yesus memiliki maksud lain dibalik semua itu. Hal inilah juga yang ternyata menjadi titik kesalahan The Da Vinci Code.

Jika kita membaca buku karangan Desy Ramadhani, SJ, Menguak Injil-Injil Rahasia, maka kita akan menemukan suatu injil apokrif lain yang patut untuk dijadikan perbandingan terhadap Injil Filipus tersebut. Akan saya kutipkan disini bagaimana bunyi wahyu tersebut.

[...] Dan Ia mencium mulutku. Ia memegangku, sambil berkata, “Kekasih-Ku! Lihat, Aku akan menyingkapkan kepadamu (hal-hal) itu yang surga maupun penguasa alam tidak pernah mengetahuinya. Lihat, Aku akan menyingkapkan kepadamu (hal-hal) itu yang tidak diketahuinya, ia yang [menyombongkan diri, ... tidak ada] orang lain selain Aku. Tidakkah Aku hidup? Karena Aku seorang ayah [apakah] Aku [tidak memiliki kuasa] atas segalanya? Lihat, Aku akan menyingkapkan kepadamu segalanya, kekasih-Ku. [Pahamilah] dan ketahuilah itu [agar] kamu bisa melangkah maju seperti Aku. Lihat Aku [akan] menyingkapkan kepadamu dia yang [tersembunyi]. Tetapi sekarang, ulurkan [tangan]mu. Sekarang, berpeganglah pada-Ku.” [Dan] aku mengulurkan tanganku dan aku tidak menemukan Dia sebagaimana kupikirkan (bahwa Ia akan ada di sana). Tetapi kemudian aku mendengar Dia berkata, “Pahamilah dan berpeganglah pada-Ku.” Maka aku mengerti, dan aku merasa takut. Dan aku merasa luar biasa gembira .... (56:14-57:20).

Apakah yang hendak muncul kemudian dalam benak kita terhadap wahyu yang diberikan oleh Yesus kepada Yakobus ini? Akankah kita dengan sangat mudah menjustifikasi bahwa Yesus selain menikah dengan Maria Magdalena ternyata juga adalah seorang homoseksual yang suka mencium bibir murid-Nya? Akankah kita kemudian berkata bahwa Yesus itu biseksual?

Ya, pikiran itu mungkin saja terjadi selama paradigma seksualitas ragawi tidak kita lepas. Jika kita melepasnya, kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa Yesus melakukan hal itu semata-mata untuk memberikan pengetahuan lebih kepada murid-murid-Nya. Ia menciumnya sambil memberikan suatu wahyu kepada mereka yang diciumnya, Yesus memberikan pengetahuan yang mungkin bersifat sangat rahasia sehingga mungkin hanya melalui ciuman sajalah Ia bisa melakukannya. Oleh sebabnya, masih ada sebuah kemungkinan yang tidak kecil untuk mengatakan bahwa Yesus ingin memberikan pengetahuan tertentu kepada Maria Magdalena ketika mencium bibirnya disamping kemungkinan untuk mengatakan bahwa Yesus menikahi Maria Magdalena.

Dan Brown pun nampaknya tidak melakukan cross check injil-injil apokrif lainnya sehingga ia dengan mudahnya menjustifikasi sesuatu yang berujung pada kontroversi di kalangan umat Kristiani. Jika saja ia jeli dan melakukan cross check yang maksimal terhadap injil-injil apokrif lainnya, mungkin saja ia tidak akan terjebak dalam sebuah pengambilan kesimpulan yang dangkal. Namun, memang harus seperti itulah untuk menjual segala sesuatu. Segalanya dibuat sedemikian sehingga banyak kontroversi timbul di dalamnya yang membuat khalayak luas semakin penasaran.

Oleh sebabnya, akan menjadi sangat tidak adil jika kemudian kita juga langsung menilai bahwa Yesus menjadi suami Maria Magdalena. Mungkin, penjelasan singkat ini bisa menjadi sebuah titik cerah yang mendongkrak iman umat Kristiani dalam mempertanggungjawabkan imannya perihal keintiman hubungan Yesus dan Maria Magdalena.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar