Label

Kamis, 02 April 2015

Politik Teror Amerika dan Rezim Saudi Arabia




Setelah berusaha melakukan pendekatan ke pihak rezim Saudi agar menghentikan intervensi di Irak dan tidak mendapatkan respon positif, pemerintah Irak melalui Penasehat Perdana Menteri, Mathlabi, menyatakan secara resmi adanya bukti-bukti otentik yang membongkar jaringan Wahabi esktrem yang dibekali oleh fatwa-fatwa dan doktrin serta indtruksi para tokoh dan pemimpin Wahabi dan pejabat pemerintah Saudi yang menganjurkan pembunuhan masyarakat sipil Irak yang bermazhab Syi’ah.

Dalam diskusi talk show di saluran televisi Al-Alam terungkap adanya skenario global Amerika dengan kakitangan rezim Saudi melalui kelompok-kelompok teroris anti pluralisme Muslim, terutama di Irak, Lebanon dan Timur Tengah, bahkan Indonesia.

Menurut seorang akademis Irak yang tinggal di London, Amerika memang sengaja menggunakan kelompok-kelompok anti persatuan mazhab-mazhab Islam ini sebagai cara untuk menakut-nakuti warga dan Pemerintah Irak agar mengharapkan kehadiran Amerika di Irak.

Di sisi lain, rezim Saudi dan rezim-rezim Arab pro Amerika yang lazim disebut “poros moderat Arab” sengaja menciptakan ketegangan sektarian demi mengalihkan perhatian warga Arab di Teluk dari proses demokrasi yang berjalan di Irak. Sebagaimana diketahui Saudi dan rezim-rezim Arab di Teluk tidak menganut sistem demokrasi, namun sangat dilindungi oleh Amerika Serikat yang menggunakan standar ganda: kadang menggunakan HAM dan demokrasi sebagai kartu tekan dan kadang mendukung rezim-rezim otoriter demi melindungi kepentingan imperialistiknya.

Seiring dengan makin dekatnya realisasi penarikan pasukan AS di Irak, aksi biadab para pelaku aksi teror terhadap warga sipil Muslim Syi’ah melalui pembunuhan, bom bunuh diri dan peledakan mobil di Mousel dan propinsi-propinsi berpenduduk mayoritas Syi’ah belakangan ini makin meningkat.

Yang memprihatinkan, Muslim Syi’ah yang jumlahnya melampaui 65 persen dari total penduduk setiap hari dipancing kesabarannya melalui pembantaian demi pembantaian, malah dilukiskan oleh media-media pro rezim Wahabi sebagai pelaku pembunuhan terhadap kaum muslimin Sunni. Tidak sedikit orang awam di Indonesia yang terpengaruh dan terhasut oleh tayangan video yang dimanipulasi tersebut.

Aksi teror kelompok wahabi ekstrem melalui Al Qaeda, Taliban dan ragam nama organisasi telah menyebar dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu sasaran utama di Asia Tenggara, karena posisinya yang sangat utama dalam peta dunia Islam.

Sudah saatnya umat Islam di Indonesia secara khusus dan bangsa Indonesia serta pemerintah secara umum melakukan antisipasi terhadap ciri-ciri wahabi ekstrem yang dapat dikenali melalui cara berpakaian, gaya berbicara serta pola komunikasi yang khas. Salah satu sentra dan pusat-pusat Wahabisme Rezim Saud yang mesti disorot adalah lembaga-lembaga pendidikan asing yang mendidik generasi muda Indonesia dengan doktrin Wahabi yang secara terangan-terangan mengabaikan ke-Indonesiaan dan budaya lokal. Inilah mazhab horor transnasionalis yang menjadi ancaman serius bagi NKRI dan persatuan bangsa. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar