Label

Sabtu, 01 November 2014

Berani Kreatif



Buku tipis ini dimulai dengan Prakata Penulis yang cukup kreatif, khas, berbeda dari seumumnya prakata. Kemudian ada Kata Pengantar, edisi Bahasa Indonesia ini ditulis oleh ahli psikologi Dr. Budi Matindas dari Fakultas Psikologi UI yang tidak kalah kreatifnya. Barulah disusul isi-dalam bukunya. Ada tujuh bab yang dimuat dalam buku psikologi populer ini. Secara berurutan adalah: (1) Keberanian Berkreasi, (2) Hakikat Kreativitas, (3) Kreativitas dan Yang Tidak Disadari, (4) Kreativitas dan Perjumpaan, (5) Orakel Delphi Sebagai Ahli Terapi, (6) Tentang Batas-batas Kreativitas, serta (7) Hasrat akan Bentuk. Kemudian sebagai kelengkapan buku (psikologi) ilmiah ini tentu teradapat pula Daftar Pustaka serta Daftar Indeks. Sayangnya buku ini tanpa biografi dan foto penulisnya.

Judul yang menarik dari buku ini diilhami oleh buku karya filosof Paul Tillich Keberanian untuk Ada (The Courage to Be), demikian pengakuan pengarang-penulis (hlm.vi). Manusia, bagaimanapun perlu mengekspresikan ada-nya dengan berkreasi sehingga kreativitas merupakan akibat yang perlu untuk ber-ada. Adapun keberanian yang diperlukannya mengacu pada jenis keberanian khusus yang penting untuk tindakan kreatif. Itulah keberanian berkreasi yang diterangkan di halaman dalam. Sebermula isi buku ini hanya merupakan bahan kuliah yang disiapkan-diberikan pengarangnya selaku dosen di beberapa universitas dan institute di Amerika Serikat. Penulis selalu merasa bimbang untuk berani menerbitkan karena tampaknya tulisan ini tidak pernah lengkap, tetapi kualitas “belum selesai” ini (ternyata) akan tetap ada dan hal itu merupakan bagian dari proses kreatif. Kemudian setelah didorong oleh desakan dari banyak orang yang telah mendengarkan kuliah-kuliahnya maka menguatlah kesadaran penulis untuk berani menerbitkannya.

Kreativitas adalah penyelewengan yang mendapat acungan jempol, demikian Budi Matindas mengawali Kata Pengantarnya. Yang tidak menyeleweng pastilah bukan sesuatu yang kreatif. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua yang aneh langsung bisa dianggap kreatif. Untuk kreatif dibutuhkan tambahan lain dari sekadar menyeleweng. Termasuk tampak pada sistematika buku ini yang menyeleweng dari kebiasaan ilmuwan yang patuh pada kaidah penulisan buku ilmiah. Sebagai akibatnya buku ini lebih menyerupai karya seni dibandingkan buku teks, padahal penulisnya lebih tepat disebut ilmuwan daripada seniman pada buku ini. Rollo May si penulis adalah ahli psikoterapi; dan buku ini ditulis sebagai gugatan terhadap pandangan psikoanalisis yang memandang kreativitas sebagai produk orang neurotik. Buku ini juga menggugat teori kompensasi Adler yang menganggap kreativitas muncul sebagai reaksi terhadap perasaan inferior. Tetapi meskipun menggugat teori-teori psikologi yang pernah berkembang, buku ini sungguh tidak khusus untuk mereka yang mendalami psikologi. Buku ini populer sifatnya dan  tampak lebih merupakan karya seni yang bisa dipahami oleh siapapun.

Keberanian

Bahwa untuk berkreasi orang perlu keberanian. Keberanian di sini tentu berbeda dari kekerasan, apalagi kekasaran. Keberanian adalah fondasi bagi semua kebajikan. Tanpa keberanian, cinta pun hanya akan menjadi ketergantungan dan kesetiaan akan berubah menjadi hanya konformisme. Kata ”courage” (berani) berasal dari akar kata yang sama dengan kata bahasa Prancis coeur yang berarti “hati/jantung”. Jadi maknanya persis seperti jantung manusia –yang memompa darah ke lengan, kaki dan otak-- memungkinkan semua organ fisik lainnya berfungsi. Demikian pula keberanian yang memungkinkan semua kebajikan psikologis bersinergi. Tanpa keberanian, nilai-nilai lain akan layu; hanya akan semu kebaikannya.

Dalam diri manusia keberanian diperlukan untuk membuat sesuatu ada dan menjadi mungkin. Suatu komitmen-diri sehingga menjadi amat penting. Inilah perbedaan manusia dari makhluk lain. Biji pohon rambutan berubah menjadi pohon rambutan melalui pertumbuhan yang otomatis; demikian juga anak kucing yang lama-lama menjadi kucing berdasarkan naluri belaka; tidak perlu komitmen. Sebaliknya, pria dan wanita menjadi ”manusia” hanya dengan pilihan dan komitmennya atas pilihan itu. Orang-orang bisa meraih martabat melalui berbagai keputusan yang dibuatnya hari demi hari. Keputusan-keputusan itu jelas memerlukan keberanian (hlm. 4). Kemudian secara kategoris ada beberapa jenis keberanian yakni keberanian fisik, keberanian moral dan keberanian sosial, selain keberanian berkreasi.

Keberanian fisik adalah jenis keberanian yang paling sederhana dan jelas. Wujud terbaiknya bisa tampak pada para pahlawan perintis kemerdekaan yang melaksanakan hukum dengan tangan mereka sendiri; dapat menarik senjata lebih cepat daripada musuhnya ataupun mandiri dan mampu bertahan dalam kesepian alam karena tetangga terdekatnya berjarak 5 km. Itulah keberanian fisik yang relevansinya berhubungan dengan ’primitivisme’, ada di setiap bangsa dan suku. Keberanian moral biasanya dimiliki oleh orang yang tidak menyukai kekerasan. Merekalah penentang penindasan atas hak pribadi baik secara fisik, psikologis maupun spiritual. Keberaniannya muncul dari rasa belas kasihan terhadap penderitaan manusia yang telah disaksikannya. Contoh yang mashur adalah perjuangan ahimsa-nya Gandhi yang dimulai di Afrika Selatan itu. Maka bentuk kepengecutan moral yang paling lazim saat ini bersembunyi di balik pernyataan: ”Saya tidak ingin terlibat”.  

Jenis keberanian ketiga, yakni keberanian sosial adalah keberanian untuk berhubungan dengan orang lain; ataupun kemampuan untuk mempertaruhkan diri sendiri dengan harapan mendapatkan keakraban dari pihak lain. Keberanian sosial ini adalah keberanian untuk memberikan diri sendiri lebih banyak dari pada satu rentangan waktu saja dalam hubungan yang memerlukan keterbukaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar