Label

Selasa, 03 Maret 2015

Masalah Keyakinan & Paradigma Ilmuwan –Debat Popper dan Kuhn



Apakah keyakinan kita mempengaruhi karya ilmiah kita? Seberapa besar refleksi metafisik, keyakinan agama, atau dogma ilmiah mempengaruhi sains, dibedakan dari pemikiran ilmuwan mengenai apa yang harus dilakukan di akhir pekan? Tentunya bagus kalau kita berpikir bahwa tidak ada yang akan mempengaruhi usaha ilmiah kecuali fakta objektif. Kenyataannya, saying sekali, sering berkata sebaliknya. Para ilmuwan adalah bagian dari masyarakat dimana mereka hidup, dan wajar untuk melihat bagaimana pengaruh lingkungan pada kehidupan profesionalnya, dan pengaruhnya pada motivasi mereka dan cara mereka melihat alam. Lingkungan tersebut termasuklah filsafat.

Pengaruh keyakinan manusia pada aktivitas ilmiahnya bersifat tidak langsung. Keyakinan agama Newton dan Boyle sangat mempengaruhi caranya memikirkan tentang manusia dan alam semesta, namun sejauh sains saja yang dibahas, filsafat dan mistisme mereka terkurung dalam pengejaran alkimia mereka. Walaupun mereka melihat sains mereka sebagai alat untuk mengungkapkan karya cipta Tuhan, fisika mereka tetaplah fisika. Yang benar adalah motivasi mereka muncul sebagian atau mungkin dominan dari sumber irasional. Apa yang dapat diistilahkan sebagai motivasi irasional jauh lebih umum daripada yang diduga orang awam, dan terdokumentasi dengan baik kalau pertimbangan filosofis yang membatasi mistisme tidak pernah jauh dari pikiran beberapa tokoh ilmuwan awal abad ke-19. Dapatkah kita mengenali keyakinan mereka dari hasil ilmiahnya? Dapatkah Anda membedakan pesawat yang dibuat oleh ateis dan dibuat oleh orang beriman?

Bagaimana hasil sains berdasarkan pengamatan dipengaruhi oleh pengamatnya? Penurunan keyakinan agama pada abad ini tidak mengaburkan pertanyaan ini, karena dengan mempertimbangkan pengaruh keyakinan pada para ilmuan, kita harus memasukkan bukan hanya keyakinan agama konvensional –namun juga, yang lebih penting dalam masa modern ini, keyakinan dalam dogma ilmiah yang ada. Karena walaupun mungkin ada pemisahan antara kehidupan profesional sebagian besar ilmuwan dengan agama formal mereka, ada jenis keyakinan lain selain keyakinan pada Tuhan.

Bila “keyakinan” didefinisikan lebih luas sehingga memasukkan penerimaan tanpa tanya mengenai sebagian besar fakta ilmiah, diklaim kalau keyakinan memang mencapai ke laboratorium. Pendukung terbesar tesis ini adalah Thomas S. Kuhn (1922-1996). Kuhn mengajukan: kalau pada setiap saat dalam sejarahnya, tiap cabang sains dibangun dari sekumpulan konsep dan teori, secara resmi, tanpa dipertanyakan, mengenai cara melihat dunia. Para ilmuan bekerja dalam perbatasan paradigma ini, inilah keyakinan. Mungkin ada lebih dari satu paradigma dalam satu disiplin ilmu. Karenanya, dalam abad ke-16 Anda dapat melihat mekanika lewat mata Aristoteles atau mata Galileo.

Sementara Galileo melihat benda ditarik oleh Bumi lewat sebuah gaya, pengikut Aristoteles melihatnya “kembali” ke tempat asalnya. Mereka masing-masing bermula dari pra-konsepsi berbeda mengenai bagaimana alam bekerja. Kuhn akan mengatakan kalau mereka memilih paradigma yang berbeda, namun ia menunjukkan kalau keduanya menggunakan fakta yang sama untuk mendukung paradigma mereka. Perubahan sains, menurut Kuhn, bukan lewat metode falsifikasi Popper, bukan dengan berusaha menyanggah apa yang ia yakini. Sebaliknya, sains adalah aktivitas yang muncul terutama dalam batasan paradigma; eksperimen dirancang untuk mengungkapkan fakta yang mendukung, bukannya menantang, paradigma tersebut. Faktanya, segala yang tidak sesuai dipandang sebagai keanehan dan diperlakukan dengan curiga atau diabaikan selama mungkin. Gambaran ilmuwan oleh Kuhn bahkan lebih tidak menyenangkan lagi dari ini; ia mengatakan kalau bila sebuah fakta tidak sesuai dengan paradigma, ia akan diabaikan atau bahkan tidak “dilihat”, Ia memberi contoh bintik matahari, yang, sebelum Copernicus, tidak dicatat oleh astronom Barat karena langit, termasuk Matahari, dianggap tidak berubah, sementara bintik matahari kenyataannya tampak bergerak di permukaan Matahari. Kuhn mencatat kalau di China, dimana tidak ada doktrin kediaman langit, bintik matahari diamati selama berabad-abad.

Kuhn lebih jauh menolak klaim Karl Raimund Popper kalau ketika sebuah paradigma difalsifikasi, ia akan ditinggalkan. Menurut Kuhn, peninggalan paradigma lama terjadi hanya ketika ada yang baru. Dengan kata lain, Popper mengatakan kalau ketika sebuah rakit tidak dapat ditinggali, kita akan melompat ke laut, sementara Kuhn mengatakan, kita hanya akan melompat ketika ada rakit lain tersedia.

Popper, dalam balasannya, mengatakan kalau banyak fakta ilmiah tidak dilakukan dengan tujuan menyanggah teori, dan ia melihat sains demikian sebagai sains kelas dua. Ia menekankan kalau sains secara keseluruhan maju karena proses falsifikasi. Ada sesuatu dalam apa yang harus dikatakan Popper dan Kuhn, namun para ilmuwan akan berharap memodifikasi kedua sudut pandang tersebut. Bekerja dalam paradigma tidak mesti merupakan sains kelas dua. Penemuan struktur dan peran DNA tidak menyanggah teori besar apapun dan tidak menghantam paradigma apapun. Ada sejumlah saran sebelumnya pada struktur yang mungkin, namun mereka tidak dapat dipandang sebagai paradigma, sebuah sistem pemikiran lengkap, seperti mekanika Newton atau evolusi Darwin. Apakah Popper mengatakan kalau Watson dan Crick diberi hadiah Nobel untuk sains kelas dua? Sementara itu, untuk Kuhn, ia telah menceritakan sains dengan contoh yang dipilih dengan sangat hati-hati tentang “kebutaan ilmiah.”

Untuk setiap kisah seperti tentang bintik matahari, misalnya, kita dapat mencari satu cerita mengenai pengamatan yang sepenuhnya tidak terduga tetapi tidak diabaikan. Fakta kalau pengamatan aneh diperlakukan dengan hati-hati adalah memang seharusnya demikian, karena ia tidak harus ditolak seketika karena paradigma yang ada: pertama kita harus skeptis, lalu melakukan eksperimen. Faktanya, Kuhn sendiri, dalam menyerang kriteria falsifikasi Popper, menekankan fakta kalau sebuah pengamatan anomali dapat salah dan tidak boleh diambil sebagai landasan untuk menyangkal sebuah teori.

Sumber: Silver, B.L. 1998, The Ascent of Science, Oxford University Press

Tidak ada komentar:

Posting Komentar