Label

Kamis, 26 Desember 2013

Bangsa Semitik



“Dalam konteks linguistik, bahasa Semit adalah sub-kelompok dari keluarga besar bahasa Afro-Asiatik. Dan induk bahasa Afro-Asiatik adalah kawasan Nusantara (Indonesia dan sekitarnya)"

Kajian Linguistik

Kata "Semit" adalah sebuah kata sifat yang berasal dari nama Sem (Shem), salah satu dari tiga putra Nuh dalam Alkitab (Kejadian 5:32; 6:10; 10:21), atau lebih tepatnya dari turunan alihaksara Yunani, yaitu Σημ (Sem). Dalam bentuk kata benda mengacu pada seorang yang termasuk keturunan rumpun bangsa Semit. Istilah "Semit" sendiri diberikan kepada anggota dari berbagai suku bangsa yang menggunakan bahasa-bahasa dalam rumpun bahasa Semit kuno maupun modern, yang umumnya berdiam di Timur Dekat, termasuk; Akkadia (Asyur dan Babel), Ebla, Ugarit, Kanaan, Fenisia (termasuk Kartago), Ibrani (Israel, Yehuda dan Samaria), Ahlamu, Aram, Kasdim, Amori, Moab, Edom, Hyksos, Ismael, Nabatean, Maganites, Sheba, Sutu, Ubarit (Iram of the Pillars), Dilmunites, Bahrani, Malta, Manda, Sabian, Siriak, Mhallami, Amalek, Palmyra dan Etiopia. Pertama kalinya diusulkan oleh Ludwig Schlözer untuk merujuk bahasa-bahasa yang terkait kepada bahasa Ibrani, dalam buku suntingan Johann Gottfried Eichhorn, "Repertorium", vol. VIII (Leipzig, 1781), halaman 161. Melalui buku Eichhorn ini nama tersebut digunakan secara umum. Dalam bukunya "Geschichte der neuen Sprachenkunde", pt. (Göttingen, 1807) nama itu sudah menjadi istilah teknis yang permanen. 

Makna linguistik modern "Semit" berasal dari Alkitab meskipun kata "Semit" sendiri tidak sesuai dengan penggambaran dengan Alkitab. Dalam konteks linguistik, bahasa Semit adalah sub-kelompok dari keluarga besar bahasa "Afro-Asiatik", dan induk bahasa Afro-Asiatik adalah kawasan Nusantara: Indonesia dan sekitarnya (menurut klasifikasi Joseph Greenberg yang diterima secara luas) dan termasuk, antara lain: bahasa Akkadia, yaitu bahasa kuno Babel dan Asyur, bahasa orang Amori, Amharik, bahasa resmi Ethiopia, Tigrinya, bahasa diucapkan di Eritrea dan di utara Ethiopia, bahasa Arab; bahasa Aram, masih digunakan di Irak, Iran, Suriah, Turki dan Armenia oleh orang Kristen Asyur-Kasdim dan Mandean, Kanaan, bahasa Ge'ez, bahasa kuno dari Eritrea dan Ortodoks Ethiopia yang berasal dari Yaman, bahasa Ibrani, Maltese, Fenisia atau Punisia, Suryani (suatu bentuk bahasa Aram), dan Arab Selatan, bahasa kuno Sheba / Saba, yang saat ini termasuk Mehri, dituturkan hanya oleh minoritas kecil di bagian selatan Semenanjung Arab.

Istilah seperti "Semit" dan "Hamit" kini tidak banyak digunakan, dan kadang-kadang bahkan dianggap ofensif, karena mengandung konotasi "rasial". Bentuk-bentuk adjektiva "Semit" dan "Hamit" lebih lazim, meskipun istilah 'Hamit' yang kabur telah ditinggalkan di kalangan akademik arus utama pada 1960-an. Istilah Semit masih lazim digunakan untuk Bahasa-bahasa Semit, sebagai sub-kelompok dari bahasa Afro-Asia, yang merujuk kepada warisan linguistik yang sama dari bahasa Arab, Aram, Akkadia, Ethiopia, Ibrani dan Fenisia. Istilah Semit juga digunakan dalam ungkapan "anti-Semit" untuk merujuk kepada prasangkat rasial, etnis, atau budaya yang semata-mata ditujukan kepada orang Yahudi.

Berikut ini adalah daftar suku bangsa pemakai rumpun bahasa Semit kuno dan modern. Mandaen:  Akkadia (Asyur/Babilonia) - bermigrasi ke Mesopotamia di milenium ke-4 SM dan bergabung dengan penduduk Mesopotamia non-Semit (Sumeria) menjadi bangsa Asyur dan Babel sejak Zaman Perunggu Akhir [3][4] Sisa keturunan orang-orang ini menjadi orang Asyur Kristen modern (juga dikenal sebagai "Chaldo-Assyrians") di Irak, Iran, Turki tenggara serta timur laut Suriah. Ebla - abad ke-23 sebelum Masehi. Kasdim - muncul di selatan Mesopotamia sekitar tahun 1000 SM dan akhirnya melebur hilang ke dalam populasi umum Babel. Aram: abad ke-16 sampai ke-8 SM [5] / Akhlames (Ahlamu) abad ke-14 SM. Penduduk Kristen Suryani modern di Suriah sebagian besar adalah orang Aram, dengan minoritas orang Asyur di bagian timur laut. Mhallami - Minoritas kecil Siria-Aram yang masuk Islam sekuler tetapi mempertahankan identitas Suryani. Ugarit - abad ke-14 sampai ke-12 SM. Sutean - abad ke-14 SM. Suku-suku bangsa pemakai bahasa Kanaan pada zaman Besi awal: Amori — abad ke-20 SM, Amon, Edom, Amalek, Ibrani/Israel — mendirikan negara kerajaan Israel yang kemudian terpecah menjadi Kerajaan Samaria dan Kerajaan Yehuda. Sisa-sisa keturunannya menjadi bangsa Yahudi dan Samaria. Moab, Fenisia/Kartago — mendirikan koloni-koloni di sekitar Laut Tengah termasuk Tirus, Sidon dan Kartago. Sisa-sisa keturunannya menjadi orang Maronit modern di Libanon. Penduduk berbahasa Arab Selatan Tua. Sabean di Yaman — abad ke-9 sampai ke-1 SM. Sheba, Ubarit (Iram of the Pillars), Magan (atau "Majan"). Penduduk berbahasa Etio-Semitik di Etiopia. Kerajaan Aksum (Aksumit) — abad ke-4 SM sampai abad ke-7 M. Arab, Bedouin berbahasa Arab Utara Kuno. Arab Gindibu - abad ke-9 SM. Suku Kedar abad ke-7 SM keturunan Ismael dan keturunan dari Kedar, putra leluhur Ismael. Lihyan — abad ke-6 sampai ke-1 SM. Thamud — abad ke-2 sampai ke-5 M. Ghassanid — abad ke-3 sampai ke-7 M. Nabath — Campuran pemakai bahasa Aram dan Arab.  Orang Malta.


Tentang Sem

 Sem (שֵׁם "terkenal; kemakmuran; nama", Ibrani Standar Šem, Ibrani Tiberias Šēm; bahasa Yunani Σημ, Sēm; bahasa Arab سام; Ge'ez Sham) adalah salah satu dari anak-anak Nuh di dalam tradisi Yahudi dan Kristen. Ia biasanya dianggap sebagai anak tertua, meskipun beberapa tradisi menyebutnya sebagai anak yang kedua. Kejadian 10:21 merujuk kepada usia Sem dan saudaranya Yafet, tetapi tidak jelas, sehingga menghasilkan terjemahan yang berbeda-beda. Ayat ini diterjemahkan dalam KJV demikian: "Unto Shem also, the father of all the children of Eber, the brother of Japheth the elder, even to him were children born." Bagi Sem pula, bapak dari semua anak Eber, saudara dari Yafet yang lebih tua, bahkan kepadanya dilahirkan anak-anak." Namun, New American Standard Bible menerjemahkan: "Also to Shem, the father of all the children of Eber, and the older brother of Japheth, children were born."

Juga bagi Sem, bapak dari semua anak Eber, dan abang dari Yafet, dilahirkan anak-anak." Kejadian 11:10 mencatat bahwa Sem berumur 100 tahun ketika Arpakhsad dilahirkan, dua tahun setelah air bah, sehingga ketika banjir melanda usianya 98 tahun. Setelah itu, ia hidup 500 tahun lagi, sehingga umurnya pada saat kematiannya adalah 600 tahun. Sem hidup semasa dengan ayahnya, Nuh, selama 448 tahun (1Taw 1:4). Dia hidup semasa dengan Ishak sampai Ishak berumur 110 tahun dan hidup semasa dengan Yakub sampai Yakub berumur 50 tahun. Dia hidup semasa dengan 15 generasi bapa leluhur dari Metusalah (kedelapan) sampai dengan Yakub (ke-20).  Sem disebutkan dalam Kitab Kejadian 5:32, 6:10; 7:13; 9:18,23,26-27; 10; 11:10; juga dalam 1 Tawarikh 1:4. Menurut sejarah Islam pada masa kerasulan Nabi Isa, dikatakan bahwa Sem pernah dibangkitkan kembali oleh Isa, ketika ada permintaan dari Bani Israel.  Silsilah lengkapnya adalah Sem bin Nuh bin Lamik bin Metusyalih bin Khanukh bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam. Anak-anak Sem adalah Elam, Asyur, Aram, Arpakhsad dan Lud, selain sejumlah anak perempuan. Abraham adalah masih keturunan Syam, oleh penganut ajaran samawi dianggap sebagai leluhur dari bangsa Ibrani dan Arab. Menurut Damrah bin Rabiah dari Ibnu Ata dari Ayahnya bahwa Syam menurunkan keturunan yang berwajah tampan dan berambut indah. Sem adalah leluhur beberapa bangsa di Timur Tengah; ia adalah nenek moyang Elam, Asyur, Arpakhshad atau Arpakhaxad (menurut Yosefus, Khaldea, yang kemudian menurunkan bangsa Ibrani dan Arab), Lud (Lidia) dan Aram (Suriah).

Silsilah

Silsilah lengkapnya adalah Sem bin Nuh bin Lamik bin Metusyalih bin Khanukh bin Yarid bin Mahlail bin Qainan bin Anusyi bin Syits bin Adam. Anak-anak Sem adalah Elam, Asyur, Aram, Arpakhsad dan Lud, selain sejumlah anak perempuan. Abraham adalah masih keturunan Syam, oleh penganut ajaran samawi dianggap sebagai leluhur dari bangsa Ibrani dan Arab. Menurut Damrah bin Rabiah dari Ibnu Ata dari Ayahnya bahwa Syam menurunkan keturunan yang berwajah tampan dan berambut indah.  Sem adalah leluhur beberapa bangsa di Timur Tengah; ia adalah nenek moyang Elam, Asyur, Arpakhshad atau Arpakhaxad (menurut Yosefus, Khaldea, yang kemudian menurunkan bangsa Ibrani dan Arab), Lud (Lidia) dan Aram (Suriah). 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar