Label

Selasa, 21 Juli 2015

Kisah-kisah Ayatullah Ali Khamenei





Kemah di Libya
Di Libya didirikan kemah dimana pintu masuknya sangat pendek sehingga setiap orang yang masuk ke tempat tersebut akan membungkuk. Di depan pintu masuk dipajang foto Qadhafi, pemimpin Libya (kala itu). Hal ini menandakan bahwa setiap orang yang masuk ke dalam kemah tersebut mau tak mau harus menunduk di hadapan foto Qadhafi.Tapi sebaliknya yang dilakukan oleh Ayatullah Khamenei ketika akan memasuki tempat tersebut. Beliau berbalik arah dengan keadaan membelakangi pintu, beliau masuk ke kemah itu. Hal itu dilakukan supaya tidak menunduk di hadapan foto Qadhafi. (Diceritakan kembali oleh Ali Akbar Velayati)

Bersikaplah Jujur
Di salah satu lawatan rutinnya, Ayatullah Ali Khamenei berkunjung ke Propinsi Mazandaran dan beliau tiba di wilayah terpencil. Ars Ma Khust. Saat mengunjungi sebuah sekolah, beliau menyaksikan semua bangku dan kursi di sekolah itu baru. Beliau langsung menduga bahwa meja dan kursi sengaja didatangkan untuk menyambut kedatangannya. Dengan cerdik beliau bertanya kepada para murid, sejak kapan bangku dan kursi di sekolah diganti. Para murid menjawab, ‘sejak kemarin’. Mendengar jawaban itu, beliau memandang para pejabat daerah dengan tatapan penuh makna seraya memperingatkan, "Tidak perlu kalian menutup-nutupi keadaan di hadapan pejabat yang tahu akan kesulitan yang ada." (Baqir Zadeh, Ketua Komite Pencari Syuhada Yang Hilang)

Makan Malam yang Sederhana
Suatu hari ketika saya menghadap Rahbar di rumah beliau, pembicaraan kami berlangsung sangat lama hingga mendekati saat shalat Maghrib. Usai menunaikan shalat Maghrib, beliau berkata kepadaku, "Saudara Rahim, makan malamlah bersama kami." Meski menurutku ini merupakan anugerah yang besar namun saya menolak dengan halus karena hal ini akan merepotkan beliau. Rahbar mengatakan, "Ini tidak merepotkan, tetaplah di sini dan makan malam bersama kami apa adanya." Ketika makan malam telah disiapkan, saya melihat makan malam beliau bersama keluarganya sangat sederhana dan tak lebih dari TELUR GORENG. Akhirnya saya pun ikut makan bersama beliau dengan makanan sederhana tersebut. (Panglima Pasukan Pengawal Revolusi, Mayjen Rahim Safawi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar